Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Arghhhh


__ADS_3

Adelia akhirnya keluar dari kamar Arka setelah kakaknya itu mau makan walaupun hanya beberapa suap yang tertelan dan selebihnya berakhir di kamar mandi, dengan kata lain dimuntahkan.


Setelah adik perempuannya benar-benar keluar dari kamarnya, Arka melangkah menghampiri lemari yang dulunya berisikan pakaian Ruby. Pria itu membuka perlahan dan di dalamnya masih tampak jelas beberapa pakaian Ruby yang tertinggal.


"Apa ini semua pakaiannya? kenapa semuanya terlihat tidak yang baru?" Arka menyentuh pakaian yang tergantung itu satu persatu. Setelah puas melihat pakaian yang tergantung, Arka kemudian menyentuh pakaian yang terlipat rapi. Pria itu menarik satu pakaian yang menurutnya hampir sering dipakai Ruby. Dia berencana akan memeluk pakaian itu di saat tidurnya nanti.


Tidak berhenti sampai di situ aja. Arka kemudian menarik sebuah laci yang menurutnya sedikit berat dan agak susah untuk dibuka.


"Apa isi laci ini? kenapa sangat berat?" Arka menarik laci itu dengan sedikit kencang.


Mata pria itu sontak membesar melihat apa isi laci itu yang ternyata penuh dengan uang. Pria itu sontak mengingat kalau uang-uang itu adalah uang yang dia beri ketika habis berhubungan yang katanya sebagai bayaran.


Air mata Arka kembali menetes dan menarik rambutnya sendiri dengan kasar.


"Ternyata, uangnya tidak pernah kamu gunakan Ruby! Ya Tuhan, betapa berdosanya aku," Arka memukul-mukul dadanya sendiri, penuh penyesalan.


Di saat bersamaan, pintu kamarnya kembali terbuka dan memunculkan sosok pria yang tidak lain adalah Pandu.


"Hai, Sob, kamu ngapain di bawah sana? kamu kehabisan uang ya, makanya buka celengan?" celetuk Pandu, bercanda.


"Mau apa kamu ke sini? lagian kenapa tidak ketuk pintu dulu?" bukannya menjawab pertanyaan Pandu, Arka justru balik bertanya.


"Hei,aku tadi sudah mengetuk pintu, tapi kamu tidak menyahut sama sekali. Aku jadi khawatir kalau kamu macam-macam, makanya aku langsung buka sendiri, eh ternyata kamu lagi buka celengan ... eh,banyak juga ya Bro. Celengan sultan beda ya? yang disimpan warna merah semua,". Pandu masih berusaha untuk bercanda.


"Kami bisa tidak berhenti untuk bercanda? candaanmu sama sekali tidak lucu tahu," protes Arka sembari mengembalikan laci itu lagi ke tempat semula.


"Kamu tadi belum menjawab, untuk apa kamu ke sini? kamu mau menertawakanku kan? silakan! aku sama sekali tidak keberatan. Arka mengayunkan kakinya melangkah menuju ranjang.


Pandu tidak langsung menjawab,pria itu lebih dulu mengembuskan napasnya sembari melangkah menuju sofa.


"Hei, kamu jangan duduk di sana!" cegah Arka, sebelum Pandu benar-benar duduk.


"Heh? kenapa tidak bisa?" Pandu mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Kamu tidak perlu tahu alasannya. Pokoknya kamu tidak boleh duduk di situ ya tidak boleh!" ucap Arka, ambigu.


Pandu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, bingung dengan sikap sahabatnya itu. Namun, pria itu memilih untuk mengurungkan niatnya untuk duduk di sofa dan melangkah kembali mendekati Arka.

__ADS_1


"Aku datang ke sini hanya ingin melihat kondisimu. Kata Om Adi, kamu suka mengurung diri dan bahkan susah makan. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Pandu yang sama sekali tidak merasa sakit hati atas sikap Arka barusan.


"Seperti yang kamu lihat. Aku sudah tidak punya semangat hidup lagi," sahut Arka, lirih.


"Apa kamu sudah makan? kamu harus tetap makan, Ka. Lihatlah, tubuhmu sudah kurus begini," Pandu menatap wajah lesu dan tubuh kurus Arka dengan tatapan simpati. Arka tidak memberikan respon. Pria itu, diam seribu bahasa.


"Ka, aku tahu kalau apa yang kamu rasakan kali ini sangat berat, tapi hidup harus tetap berjalan. Jangan hidup seperti ini. Fisik kamu masih hidup tapi kamu hampir sama seperti orang yang tidak punya semangat untuk hidup," lanjut Pandu kembali. Kali ini pria itu terlihat benar-benar serius.


"Kalau bicara,memang sangat mudah, Pan. Tapi, coba kalau semua ini terjadi padamu, apa kamu masih bisa berkata seperti itu?" nada suara Arka terdengar sangat lirih, seperti orang yang sudah putus asa.


Pandu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sekali hentakan. Ia tersenyum tipis dan menatap Arka yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


"Aku tahu, lebih mudah memberikan nasehat pada orang, dibandingkan untuk menyemangati diri sendiri. Tapi, sebagai sahabat, selagi kita bisa, mengingatkan sahabat kita, kita harus tetap melakukannya. Itulah yang aku lakukan sekarang." Pandu berhenti sejenak, untuk mengambil jeda seraya menghela napasnya.


"Aku ingin kamu semangat untuk melangsungkan hidup, bukan untuk dirimu sendiri tapi, agar kamu bisa mencari keberadaan Ruby lagi. Karena sejujurnya,. Bukan hanya Ruby yang perlu kamu cari, tapi ada tiga orang lagi, yang dibawa serta Ruby bersamanya. Dan ketiga orang itu adalah bagian penting dari dirimu juga," ucap Pandu ambigu.


Arka sontak menoleh ke arah Pandu dan mengrenyitkan keningnya.


"Tiga orang lagi? bagian penting dari diriku? maksud kamu apa? tolong bicara yang jelas!" tatapan Arka terlihat menuntut.


"Kamu ingat kondisi yang kamu alami selama ini? Itu tidak lepas dari keterkaitan dengan tiga orang itu," ucapan Pandu semakin terdengar ambigu.


Pandu kembali menghela napasnya.


"Apa yang kamu alami, dengan kamu muntah-muntah, sensitif dengan bau, dan tiba-tiba tidak suka dengan makanan yang biasanya kamu suka adalah, seperti yang dikatakan dokter hari itu. Kamu mengalami kehamilan simpatik, di mana istrimu yang hamil tapi kamu yang merasakan efeknya sedangkan istrimu tidak," jelas Pandu dengan sangat hati-hati.


Untuk beberapa saat Arka tercenung, masih belum mengerti sepenuhnya. Namun, detik berikutnya dia menatap Pandu dengan mata yang membesar.


"A-apa kamu mau bilang kalau Ru-Ruby lagi hamil anakku?" bibir Arka terlihat bergetar.


Pandu menganggukkan kepalanya, mengiyakan. "Dan mungkin ini sudah bulan ke tiga,"


"A-apa maksudmu dengan tiga orang?" kembali Arka bertanya.


"Istrimu mengandung bayi triplet yang berarti ada tiga orang dalam kandungannya,"


Arka tersenyum smirk sembari menggeleng-gelengkan kepalanya,masih kurang percaya.

__ADS_1


"Kamu kalau bicara jangan asal. Please jangan kamu tambahkan rasa bersalahku," ucap Arka.


" Aku tidak asal bicara. Kamu ingat ketika aku menemukan istrimu di tengah jalan dan aku membawanya ke rumah sakit? hari itu Ruby sedikit mengalami pendarahan akibat terlalu lelah. Dokter mengatakan padaku kalau dia sedang mengandung tiga anak. Awalnya aku ingin mengabarimu tapi, handphonemu tidak bisa dihubungi. Ketika Ruby sadar dia memohon padaku agar merahasiakannya darimu, karena dia tidak mau kamu memaksa untuk menggugurkan tiga bayi itu," tutur Pandu lagi dengan panjang lebar.


"Ta-tapi dia kan selama ini __"


"Mengkonsumsi pil KB? begitu kan maksudmu?" potong Pandu dengan cepat dan Arka menganggukkan kepalanya.


"Kata Ruby, malam itu dia belum mengkonsumsinya tapi kamu sudah memaksanya. Kamu benar-benar keterlaluan, Sob. Kalau kamu bukan sahabatku, kamu sudah kihajar habis-habisan," ucap Pandu.


"Arghhhhh, kenapa kamu baru mengatakan ini semua, Hah!"pekik Arka sembari menarik kerah baju Pandu.


"Tenang, Ka. Aku sudah memberikan kamu kode saat itu, tapi kamu sama sekali tidak mengerti. Aku juga sudah terlanjur berjanji pada Ruby dan ini semua karena ancaman kamu padanya kan?" Pandu masih berusaha untuk sabar.


"Arghhhhh!" teriak Arka lagi sembari melepaskan cengkraman tangannya dan meraih jam weker yang ada di atas nakas dan melemparkannya ke tembok hingga pecah.


"Ada apa ini? kenapa kamu berteriak-teriak Arka?" Adijaya, Rosa dan Adelia yang kebetulan sudah mendengar teriakan Arka yang pertama langsung menghambur masuk ke kamar pria itu.


"Arka, kamu kenapa, Nak?" Rosa menghambur ke arah Arka yang kini sudah tersungkur duduk menyender ke tempat tidur dengan pipi yang sudah basah. Bahkan rambut pria itu sudah sangat berantakan.


"Ma, aku jahat, aku sangat jahat!" teriak Arka sembari kembali memukul-mukul dadanya.


"Tenang, Sayang, tenang!" Rosa berusaha menenangkan Arka dengan memeluk erat putranya itu.


"Pandu, bisa kamu jelaskan ada apa dengan Arka?" tanya Adijaya, menatap dengan tatapan tajam.


Pandu kembali menarik napas dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Dia shock, Om karena dia baru tahu kalau Ruby sebenarnya sedang mengandung tiga anak yang merupakan darah daging Arka," jelas Pandu dengan sangat hati-hati.


"Apa!" pekik Adijaya, Rosa dan Adelia bersamaan.


Kemudian Pandu kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada tiga orang itu dengan detail sesuai dengan yang dia tahu.


"ARKAAAA! kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti itu! pantas saja selama empat tahun, Ruby tidak hamil -hamil, ternyata semua ini ulahmu. Kamu benar-benar brengsek!" Adijaya menghampiri Arka dengan tangan yang terangkat hendak memukul putranya itu. Namun tidak jadi karena Adelia dengan sigap langsung mencegah dengan berdiri di depan Arka.


Tbc

__ADS_1


Maaf ya, hari ini telat Up. Karena aku kurang enak badan. Pinggangku sakit banget ditambah gigi yang cenat-cenut.


__ADS_2