Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Tidak murni kesalahannya


__ADS_3

Waktu berlalu dengan begitu cepat, Tidak terasa sudah dua minggu sejak Ruby menandatangani surat cerai dan kini wanita itu sudah berada di Bali tepatnya di pantai Kuta.


Sementara itu, Tiara benar-benar ikut Ruby untuk membantu sahabatnya itu, mengelola bisnis barunya. Sedangkan restorannya di Jakarta, diserahkan pada orang kepercayaannya dan dibantu oleh Risa kakaknya, Ruby.


Ya, sebelum Ruby benar-benar pergi,Risa dan David datang menemui Ruby dan meminta maaf sembari berlutut, di kaki wanita itu. Mereka juga memberikan uang pada Ruby, karena kata mereka itu adalah hak Ruby, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun, Ruby sama sekali tidak menerima uang itu,dan justru meminta David untuk menggunakan uang itu, membuat usaha baru. Yang akhirnya membuat David memilih untuk membuka sebuah bengkel, karena itulah keahliannya.


Ruby benar-benar tidak menyangka Arka memberikan uang yang sangat banyak, hampir dua kali lipat dari yang disebutkannya di awal, hingga membuat Ruby bisa membeli sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Dengan uang itu juga, Ruby akhirnya bisa membeli sebuah restoran yang kebetulan hendak dijual oleh pemiliknya semula, karena sang pemilik hendak pulang kampung. Memang, Ruby benar-benar merasakan kemudahan, yang awalnya dia kira akan sulit. Ruby menganggap ini semua berkah dari ketiga bayi dalam kandungannya.


"Tidak banyak yang perlu dirombak di restoran ini, aku kira sudah cukup bagus. Hanya saja, aku rasa kamu perlu membuat menu baru," ucap Tiara memberikan usul.


"Aku rasa juga iya sih? tapi, aku tetap ingin mengganti,warna cat temboknya lebih ke arah membuat tenang dan adem. Aku rasa kita ganti catnya ke abu-abu muda, bagaimana menurutmu?" ucap Ruby, memberikan usul.


"Tidak! aku tahu, kamu memilih warna itu, hanya karena Arka menyukai warna itu kan? kalau mau, biar terkesan tenang dan adem serta nyaman, kamu kan bisa pakai warna biru muda, coklat muda dan putih? kenapa harus warna itu coba?" protes Tiara, kesal.


Senyum Ruby, terbit melihat raut wajah kesal sahabatnya itu. Dia tahu kalau sahabatnya itu sangat membenci Arka.


"Iya, iya deh. Kita pakai warna biru muda saja," pungkas Ruby, akhirnya mengalah.


"Nah gitu dong," senyum di bibir Tiara kembali terbit. "Oh ya,apa kamu sama sekali tidak membenci Arka?" lanjut Tiara kembali dengan kening yang berkerut.

__ADS_1


"Membencinya? buat apa? ini bukan murni kesalahannya. Kalau memang harus membenci, Jelitalah dan papaku sendiri lah yang pantas dibenci,"


"Bukannya selama empat tahun ini, Arka selalu bersikap kejam padamu? tapi kenapa kamu tidak membencinya?" Tiara benar-benar bingung dengan jalan pikiran Ruby.


Ruby kembali tersenyum, kemudian menghela napasnya. "Tiara, Arka tidak seharusnya dibenci tapi justru aku kasihan padanya. Dia dan aku sama-sama korban di sini, korban dari Jelita. Hanya saja bedanya, aku yang terlihat sangat menderita. Kalau boleh dikatakan, justru akulah yang banyak bersalah," tutur Ruby,ambigu.


"Ngomong yang jelas deh, By. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu! bagaimana bisa kamu menyimpulkan kalau kamu juga bersalah. By, ingat, kamu sudah diperlakukan tidak adil, kejam oleh pria brengsek itu!" Tiara benar-benar kesal.


Ruby kembali menghela napasnya dengan cukup berat. "Aku rasa kamu tahu alasannya, kenapa dia bisa seperti itu. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan aku tidak ada niat untuk memberitahukan kenyataannya padanya." ucap Ruby dengan wajah sendu.


"Iya,aku tahu! tapi seharusnya selama empat tahun bersama dia bisa melihat sedikit saja kebaikanmu. Dengan kebaikanmu itu, seharusnya dia menyadari kalau kamu tidak seburuk yang dia kira,"


Tiara menggelengkan kepalanya, karena dia memang tidak tahu. Yang dia tahu, hanya karena Ruby menjebak Arka, itu saja.


"Kesalahanku adalah kebohonganku. Seandainya malam pengantin kami, dia mendapati kalau aku benar-benar tidak suci lagi, bisa jadi dia sedikit percaya kalau aku juga korban. Karena pada saat kejadian, aku sudah berbohong mengatakan kalau kesucianku sudah direnggut olehnya, yang bahkan sampai menunjukkan ada bekas noda darah di kasur. aku juga saat itu mengatakan kalau aku sama sekali tidak menjebaknya. Namun, kenyataan yang dia dapat apa? di malam pengantin itu, dia mendapati kenyataan kalau aku masih suci, Ra. Itu yang membuat dia semakin marah dan benci padaku. Karena dari situ dia menyimpulkan kalau aku adalah penipu, yang rela berbohong mengatakan kalau kehormatanku sudah direnggut di malam kejadian, tapi ternyata tidak sama sekali. Jadi, menurutnya apapun yang aku lakukan sudah tidak dapat dipercaya lagi," tutur Ruby panjang lebar tanpa jeda.


"Rumit, benar-benar rumit. Kalau begitu, kamu benar, kasihan Arka kalau dia sampai menikah dengan wanita ular itu. Hanya saja, apa yang dia lakukan itu kejam, By. Dia sudah memperlakukanmu seperti seorang pela*cur dan menganggapmu seperti bakteri yang harus disingkirkan,"


"Ya, aku tahu itu. Tapi, seperti yang aku katakan tadi, tidak ada manusia yang sempurna. Coba kamu bayangkan, di saat kamu sangat mencintai seseorang dan bahkan sudah berencana akan menikah, tapi tiba-tiba hancur gara-gara seseorang,apa kamu tidak membenci orang itu? pasti benci kan? seperti itulah Arka. Saat itu, dia sangat mencintai Jelita dan bahkan sudah berencana akan menikah, tapi impiannya itu seketika hancur. Dia tahunya aku yang menghancurkan impiannya itu, makanya dia sangat membenciku. Jadi, seperti yang aku katakan tadi, ini tidak murni kesalahannya, tapi karena kesalahahpahaman di balik itulah yang membuatnya jadi begitu. Sedangkan aku? aku yang tahu, justru tidak ada niat untuk meluruskannya. Cinta yang sangat besar, bisa membuat kita jadi bodoh, demikian juga dengan rasa benci yang besar membuat logika kita tidak jalan, bukankah seperti itu?" ucap Ruby, dengan bijak.

__ADS_1


"Ahhh, mulia sekali hatimu, By. Kamu benar-benar sangat baik dan bijaksana. Arka pasti akan sangat menyesal, melepaskan bidadari sepertimu," Tiara memeluk Ruby.


"Ihh, lepas ah. Aku geli tahu! kamu masih normal kan?" tanya Ruby dengan nada meledek.


Tiara mencebikkan bibirnya, mendengar sindiran Ruby.


"Ya jelas masih normal lah! aku masih tertarik pada laki-laki, tapi, karena melihat pernikahanmu lah, membuatku berpikir ulang," ucap Tiara, jujur.


"Ih, kamu nggak boleh berpikir seperti itu! Tidak semua kehidupan pernikahan tiap orang itu sama," protes Ruby sembari menyentil kening Tiara.


"Iya, iya deh. Nanti aku cari suami ... eh salah, justru laki-laki yang harus cari aku, bukankah begitu konsepnya?" Tiara mengerlingkan Matanya.


"Oh ya, seandainya Arka datang kembali padamu,apa kamu akan menerimanya kembali?"


Ruby tercenung, diam seribu bahasa, begitu mendengar perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Tiara. Karena, mungkin saja dia tidak menyalahkan Arka dan berkata tidak membenci pria itu,tapi dirinya tidak munafik, kalau rasa sakit yang ditorehkan Arka masih sangat membekas di hatinya.


Tbc


Jangan lupa buat meninggalkan jejak ya guys! please like, vote dan komen. Thank you🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2