Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 37


__ADS_3

"Apa yang kamu pikirkan? kenapa kamu diam saja? apa kamu tidak sependapat dengan apa yang aku katakan tadi?" Tanya Adelia dengan alis yang bertaut tajam.


Bima menghela napasnya dengan sekali hentakan dan balas menatap ke arah Adelia.


"Bukannya tidak sependapat. Aku hanya tidak menyangka saja, kamu bisa berkata seperti itu. Padahal banyak wanita yang tidak mau melakukan hubungan suami istri karena merasa tidak mencintainya suaminya. Aku juga tidak mau egois memaksa kamu melakukan kewajibanmu, karena apapun yang dipaksa, pasti tidak akan baik," tutur Bima, memberikan alasan.


Adelia, mengembuskan napasnya dan tersenyum tipis.


"Itu karena aku sama seperti papa, yang yakin kalau kamu itu laki-laki bertanggung jawab. Sejujurnya, aku sudah tahu dari Papa, kalau sebenarnya Papa yang memintamu untuk menikahiku, karena Papa percaya kalau kamu akan bisa menjaga dan membuat aku bahagia. Aku tidak ingin melihat wajah kecewa Papa, mama dan Kak Arka,"


"Walaupun itu harus mengorbankan perasaanmu?" alis Bima bertaut tajam.


"Ya. Walaupun aku harus rela mengorbankan perasaanku," tegas Adelia, tanpa adanya keraguan sama sekali dengan mata yang menerawang menatap ke langit-langit kamar.


Keheningan terjeda untuk beberapa saat di antara kedua pasangan suami istri baru itu. Mereka berdua larut pada pemikiran masing-masing.


Detik berikutnya, mata kedua pengantin baru itu, saling menatap. Dan di saat bersamaan, tiba-tiba tawa keduanya pecah.


"Kenapa kita bisa secanggung ini sih? gak enak banget rasanya, tahu! Apa kamu juga merasakan hal yang sama?" tanya Adelia yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bima.


"Jadi menurutmu apa sekarang kita harus benar-benar menjadi suami istri benaran? tanya Bima sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Pria itu benar-benar bingung sekarang.


"Ya, emang kita benar-benar sudah jadi suami istri kan? atau kamu sudah lupa kalau kamu sudah menikah? perlu aku minta surat nikah kita dikirimkan ke kamar ini?" ucap Adelia, menyindir.


"Tentu saja aku tidak lupa," sahut Bima, cepat.


"Hmm, baiklah! tapi kalau kita melakukan seperti yang biasa dilakukan oleh suami istri, kamu jangan tertawa ya!" ucap Bima, ambigu.


"Kenapa aku harus tertawa?" Adelia mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Ya, kali aja kan kamu tertawa, karena merasa aneh."


"Tidak akan!" tegas Adelia. Padahal sebenarnya sekarang wanita itu ingin sekali tertawa melihat wajah Bima yang tegang.


Tidak menunggu lama lagi,Bima mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Adelia, mencoba, menjangkau bibir wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Sementara itu, Adelia yang sudah siap, memejamkan kedua matanya. Namun, tiba-tiba tawa Bima pecah hingga membuat Adelia kembali membuka matanya.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Adelia dengan bibir yang mengerucut.


"Ekspresi wajah kamu lucu, Del. Apa kamu benar-benar ingin dicium ya?" tanya Bima di sela-sela tawanya.


"Ih, kamu benar-benar menyebalkan! aku kesal ah!" Adelia memutar tubuhnya, memunggungi Bima. Wanita itu kesal sekaligus merasa malu, karena terlihat seperti wanita yang sangat menginginkan Bima untuk menyentuhnya.


Tawa Bima sontak berhenti, berganti dengan rasa yang tidak enak. Pria itu bergeser mendekati Adelia dan menyentuh pundak sang istri yang sedang merajuk itu.


"Kamu marah ya? maaf deh!" ucap Bima sambil menekan-nekan pundak Adelia dengan lembut. "Kamu jangan marah, please!" imbuh pria itu lagi karena tidak mendapatkan respon dari sang istri.


Adelia sontak tersenyum samar mendapatkan perlakuan Bima yang menurutnya sangat manis. Kemudian wanita itu berbalik kembali menghadap ke arah suaminya sehingga jarak wajah keduanya sangatlah dekat.


Mata Bima sontak membesar, terkesiap kaget, dengan tindakan Adelia yang menurutnya sangat berani.


Namun, rasa kagetnya hanya bertahan sebentar. Bagaimanapun dirinya adalah pria normal, jadi begitu mendapat serangan seperti itu, tentu saja dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat dia langsung membalas pagutan bibir istrinya itu dan mulai me*lu*ma*t dengan penuh perasaan.


Ciuman keduanya yang awalnya lembut, lambat laun terlihat semakin memanas, dan tanpa sadar sudah membuat posisi tubuh Bima berada di atas tubuh Adelia.


Kamar yang tadinya terasa dingin kini berubah semakin panas. Suara lenguhan yang keluar dari mulut Adelia semakin membuat Bima bersemangat dan merasa suara itu, merupakan sebuah nyanyian penyemangat buat dirinya.


Tanpa menunggu lama, tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel. Kabut gairah Bima kini semakin membara begitu melihat pemandangan yang sangat indah di depan matanya, yang menurutnya sanggup mengalahkan indahnya pulau Bali dan raja Ampat.


Adelia sontak menutup wajahnya, melihat tatapan Bima yang meyusuri tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menutup wajahmu? apa kamu mulai menyesal dengan keputusanmu?" pertanyaan Bima, membuat Adelia sontak menjauhkan tangannya dari wajahnya.


"Bu-bukan seperti itu? A-aku hanya malu," sahut Adelia lirih.


"Kalau begitu, apa sekarang masih perlu kita lanjutkan atau harus kita tunda dulu?" tanya Bima, memastikan.


"Emm, kita lanjutkan saja! aku sudah siap dan tidak menyesal dengan keputusanku," ucap Adelia dengan nada yang sangat yakin.


Bima tersenyum dan kembali mendekatkan tubuhnya ke Adelia.


"Pelan-pelan, ya Kak! " ucap Adelia yang bergidik, melihat ukuran milik Bima.


"Aku akan pelan-pelan, kamu tenang saja!" ucap Bima di sela-sela napasnya yang memburu.


Tidak lama kemudian, suara jeritan kesakitan dari mulut Adelia terdengar, karena lahannya yang tadinya gersang, tak terjamah siapapun kini tertancap cangkul besar.


Tapi suara jerit kesakitan itu hanya bertahan untuk sementara. Kini suara itu berganti dengan suara -suara aneh yang pastinya suara itu membuat orang panas.


Setelah melakukan olahraga yang menguras tenaga tapi nikmat itu, baik Bima maupun Adelia, bersama-sama terkulai lemas di atas ranjang pengantin. Bunga mawar yang digunakan untuk memperindah ranjang pengantin dan tadinya masih bertengger dengan indahnya di atas sprei putih, kini sudah tidak berbentuk lagi dan berserakan entah kemana-mana.


Bima, bukanlah pria yang egois yang setelah mendapat apa yang dia mau, langsung meninggalkan pasangannya. Pria itu justru menarik tubuh Adelia dan membenamkan kepala wanita itu ke dadanya mengecup puncak kepala Adelia. Dia melakukan hal itu, hanya ingin, Adelia merasa kalau sebagai perempuan dia merasa dihargai.


"Terima kasih ya!" ucap Bima tulus, sembari tersenyum.


"Kamu Sekarang sudah jadi milikku seutuhnya. Aku harap kamu tidak akan menyesali semuanya suatu saat. Aku tidak akan menjanjikan apapun. Tapi aku akan berusaha untuk jadi seorang suami yang baik dan bertanggung jawab." Ucap Bima yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Adelia disertai dengan mata yang berembun. Manik mata wanita itu kini sudah berembun.


"Aku juga akan berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik. Aku harap kita akan bisa belajar untuk saling mencintai," ujar Adelia menimpali ucapan Bima.


"Amin!"

__ADS_1


Karena kelelahan, akhirnya tanpa menunggu lama, Bima maupun Adelia langsung tertidur dengan pulas,dengan keadaan saling berpelukan.


Tbc


__ADS_2