Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Bringing back my wife bab 1


__ADS_3

Waktu berjalan dengan begitu cepat, usia bayi triplet kini baru saja memasuki usia tiga bulan, dan ketiganya tumbuh dengan sehat dan semakin lucu.


Ruby baru saja keluar dari dalam kamar setelah ketiga bayinya tertidur, ketika dia tiba-tiba mendengar bel pintu rumahnya berbunyi.


Ruby sontak melihat ke arah jam di dinding, yang ternyata sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Siapa yang datang jam segini. Ini kan sudah malam?" Ruby melangkah untuk membukakan pintu.


Ruby mengrenyitkan keningnya, melihat ada sepasang pria dan wanita berdiri di depan pintu.


"Malam, Mbok! apa benar ini rumah Ibu Ruby?" sapa yang pria dengan ramah.


Awalnya Ruby memang sedikit aneh kalau ada yang memanggilnya Mbok, tapi lama kelamaan dia sudah terbiasa karena dia tahu kalau itu adalah sapaan untuk perempuan Bali setara dengan Bli yang berarti kakak perempuan.


"Ya, saya sendiri, Bli sama Mbok ini ada keperluan apa mencari saya?" tanya Ruby, juga sopan.


"Maaf, Mbok! kenalkan namaku Maharani dan rekan saya Abirama. Boleh kami masuk?" giliran wanita yang buka suara.


"Oh, silakan masuk!" Ruby memberikan jalan untuk kedua orang itu.


"Silakan duduk! kalian mau minum apa? biar aku minta asisten rumah tangga saya bawakan ke sini," ucap Ruby.


"Tidak usah, Mbok! kami hanya sebentar saja," tolak pria yang katanya bernama Abirama itu.


"Oh, begitu ya?" Ruby menghela napas dan memutuskan untuk duduk di depan kedua orang itu.


"Maaf ya, Mbok, kalau kedatangan kami menggangu, karena datang malam-malam. Kami ke sini hanya untuk memberikan ini," kini giliran yang wanita buka suara, sembari memberikan sebuah map yang Ruby sama sekali tidak tahu apa isinya.


"Maaf, ini apa ya?" tanya Ruby, tapi tangannya tetap saja menerima map itu.


"Silakan, Mbok lihat sendiri!"


Ruby akhirnya membuka map itu dengan sangat hati-hati. Mata wanita itu membesar begitu melihat isinya yang ternyata adalah sertifikat rumah atas namanya. Yang membuat dia kaget adalah luas rumah itu.


"Bli, apa ini tidak salah? saya sama sekali tidak pernah membeli rumah di kawasan ini!" Ruby menutup map itu dan mendorongnya ke depan dua orang itu.


"Ini memang bukan, Mbok yang belikan, tapi seorang pria, namanya Tuan Arkana Rafassya. Ini hadiah ulang tahun, Mbok,"

__ADS_1


Ruby terkesiap kaget mendengar keterangan pria di depannya.


"Haish, kenapa sih dia harus buang-buang uang segala? aku kan sudah punya rumah," Ruby menggerutu dalam hati.


"Oh, dari Mas Arka ya? ya udah, terima kasih ya!" ucap Ruby akhirnya


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya, Mbok! ini kunci rumahnya. Nanti hubungi kami saja jika ada yang harus ditanyakan tentang rumahnya," pria dan wanita itu berdiri dari tempat duduk masing-masing, lalu beranjak keluar.


Baru saja kedua orang itu pergi dan Ruby berniat kembali masuk ke dalam rumah, sebuah sepeda motor, memasuki pekarangan rumahnya.


"Siapa lagi ini?" gumam Ruby.


"Maaf, dengan Ibu Ruby?" tanya seorang pria yang baru turun dari atas sepeda motor itu. Pria itu terlihat menenteng sebuah kotak yang lumayan besar dan Ruby yakin kalau isinya adalah kue.


"Iya dengan saya sendiri? ada apa ya?" alis Ruby bertaut.


"Oh, ini ... saya mau mengantarkan pesanan kue ini yang dipesan oleh Tuan Arkana," pria itu memberikan kotak kue itu pada Ruby.


"Terima kasih ya!" ucap Ruby sembari tersenyum.


"Apa-apaan sih, Mas Arka ini? seharian tidak ada kasih ucapan selamat, eh malam-malam malah kirim beginian," Ruby menggerutu dalam hati.


Ruby nyaris menutup pintu lagi, tapi lagi-lagi ada orang yang datang, yang ternyata dari sebuah toko bunga. Kurir itu memberikan dua buket besar bunga. Yang satu sebuket mawar merah dan yang satu lagi sebuket besar bunga tulip berwarna-warni.


"Mbok kata Pak Arka, aku harus menerangkan arti bunga mawar merah ini. Bunga mawar merah adalah simbol dari keromantisan. Warna merah ini sendiri menggambarkan keberanian dan memiliki keinginan kuat untuk menjaga pasangannya. Nah untuk yang


bunga tulip, ini melambangkan permohonan maaf, pernyataan cinta, kepedulian, kemewahan, semangat tinggi, dan persahabatan. Tetapi secara umum, bunga tulip melambangkan cinta yang sempurna. Jika warnanya bermacam-macam, bunga tulip memiliki makna keindahan cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata," terang kurir bunga itu dengan sangat jelas dan detail.


"Oh, seperti itu ya, Bli. Terima kasih banyak ya!" ucap Ruby, dengan wajah yang memerah. Antara malu pada sang kurir atau merasa tersanjung pada apa yang dilakukan Arka, hanya dia lah yang tau.


"Sama-sama, Mbok! aku pamit dulu!" kurir itu berbalik dan berlalu pergi, setelah Ruby menganggukkan kepalanya.


"Pintunya sudah bisa aku tutup nggak nih? apa masih ada lagi yang mau datang?" Ruby berjinjit sedikit sembari menatap jauh ke depan.


"Sepertinya tidak ada lagi, sepertinya sudah bisa aku tutup pintu ini,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Ruby melangkah ke dapur dan meletakkan kue pemberian Arka di atas meja. Dia membukanya dengan sangat hati-hati.



"Cih, sok romantis! buat apa coba?" Ruby berdecih, tapi bibirnya tetap menyunggingkan senyum.


Ruby, berjalan ke arah pantry dan mengambil sebuah piring kecil. Kemudian dia memotong kue itu dan menaruhnya di atas piring lalu memakannya.


Setelah itu, dia menutup kembali kuenya dan menyimpannya ke dalam lemari es.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruby kini sudah berada di dalam kamar. Wanita itu meraih handphonenya dan langsung mencari nama Arka. Begitu nama itu sudah ditemukan, dia langsung menghubungi pria itu.


"Hallo, By!" terdengar suara Arka dari ujung sana.


"Mas, Terima kasih buat kue dan bunganya?" ucap Ruby tanpa basa-basi.


"Oh, apa kurirnya ada menjelaskan arti dari bunga itu?"


"Ada, tapi aku kurang fokus mendengar karena terlalu panjang," sahut Ruby, berbohong.


"Begitu ya?" Terdengar helaan napas kecewa dari Arka. "Oh ya, selamat ulang tahun ya? maaf aku tidak bisa ke sana karena ada pekerjaan yang sangat penting di sini," sambung Arka lagi, di sela-sela rasa kecewanya.


"Terima kasih!" sahut Ruby, singkat.


"Oh ya, Mas. Buat apa kamu belikan aku rumah? aku kan sudah ada rumah?" lanjut Ruby lagi.


"Emangnya kenapa? aku hanya ingin membelikan rumah yang lebih besar dari rumah itu. Yang memiliki pekarangan yang luas, karena aku tahu kalau itu adalah impianmu. Apa kamu tidak menyukainya?"


"Bukan tidak suka, tapi mubasir. Benar-benar menghabiskan uang," protes Ruby.


"Tapi, aku tidak merasa kalau uangku habis," ucap Arka lugas. " Tapi kalau kamu tidak suka, kamu boleh memberikannya pada orang lain," lanjut Arka lagi.


Ruby terdiam. Wanita itu seketika tahu kalau pria yang ada di seberang sana sedang kecewa. Namun, Ruby benar-benar merasa kalau apa yang dilakukan Arka terlalu berlebihan. Belum lagi pakaian, perlengkapan baby triplet, yang selalu pria itu kirimkan.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2