Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 22


__ADS_3

Setelah perjalanan yang memakan waktu beberapa jam, mobil yang membawa Arka dan Ruby berhenti di depan sebuah rumah megah. Ruby menatap nanar rumah itu, rumah yang penuh kenangan, rumah yang menjadi saksi bertapa beratnya hidup yang dia alami bersama dengan Arka.


Ya, mereka kini sudah tiba di Jakarta, tepatnya di kediaman keluarga besar Arka. Bukannya Arka mengingkari janjinya untuk tinggal terpisah, tapi alangkah tidak elok kalau mereka langsung menghuni rumah mereka di saat kepulangan mereka untuk pertama kalinya. Yang ada pasti akan menimbulkan kebencian Rosa pada menantunya itu.


"Ayo turun, Sayang!" Arka buka suara, menyadarkan Ruby dari lamunannya.


"Emm, apa nanti aku akan diterima, Mama?" tanya Ruby, yang tampak masih sangat ragu.


Arka tersenyum, mengerti dengan kegundahan yang dirasakan oleh sang istri.


"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apapun padamu. Kan ada aku, papa dan Adel. Aku yakin Mama juga sangat menginginkan kepulanganmu dan ketiga cucunya. Hanya saja, mama gengsi mengungkapkannya, percaya deh!" Arka berusaha meyakinkan Ruby.


Melihat senyum Arka yang menenangkan, Ruby akhirnya memutuskan untuk turun. Wanita itu kembali menatap bangunan megah itu dengan mata yang sudah penuh dengan cairan bening dan siap ditumpahkan dari wadahnya. Sementara Arka, sibuk menurunkan kereta dorong dari bagasi mobil.


"Tuan, sini biar aku saja yang melakukannya!" tanya seorang satpam dengan wajah takut. Dia benar-benar takut kena semprot, oleh Arka karena dianggap tidak sigap, membiarkan tuannya itu menurunkan sendiri kereta dorong itu.


"Oh, tidak perlu, Pak! aku bisa melakukannya sendiri. Bapak, kembali saja ke pos," sahut Arka sembari tersenyum, membuat satpam itu mematung, kaget dengan perubahan sikap Arka.


"Lho, kenapa Bapak masih diam di sana?" Arka mengrenyitkan keningnya.


"Eh, ba-baik, Tuan. Aku pergi dulu!" ucap satpam itu dengan gugup sembari beranjak pergi. Satpam itu, berkali-kali menoleh ke belakang, menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, pertanda kalau pria itu masih sangat bingung dengan sikap Arka.


"Sudah, ayo kita masuk Sayang!" lagi-lagi Arka buka suara, membuat Ruby terjengkit kaget.


"Lho, ka-kapan kamu mengeluarkan anak-anak?" tanya Ruby, kaget melihat anak-anaknya yang sudah berada di kereta dorong masing-masing.


"Barusan,kamu kenapa bisa sekaget itu? kamu tidak melihatku mengeluarkan mereka?" Ruby tersenyum malu sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Arka berdecak sembari menggelengkan kepala. "Ya udah, ayo kita jalan!" pungkasnya sembari mendorong kereta dorongnya, demikian juga dengan Ruby.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


" Hallo, kami pulang!" teriak Arka, begitu kaki mereka menapak di lantai ruang tamu.


Dari arah sebuah ruangan yang tidak lain adalah ruang keluarga, terdengar suara kaki yang berlari dan bisa dipastikan kalau pemilik kaki-kaki itu adalah anggota keluarga Arka.


Benar saja, tiga orang muncul dari arah ruangan itu. Siapa lagi mereka kalau bukan Adijaya, Rosa dan Adelia. Mata mereka membesar demikian juga dengan mulut mereka melihat kehadiran Ruby. Tanpa berpikir panjang, Adelia sontak menghambur ke arah Ruby dan memeluk kakak iparnya itu.


"Akhirnya Kakak pulang juga, aku merindukanmu, Kak!" ucap Adelia sembari menangis.


"Aku juga merindukanmu!" balas Ruby.


"Kamu hanya merindukan Ruby? apa kamu tidak merindukanku?"celetuk Arka, berpura-pura memasang wajah kesal.


"Tidak! aku sama sekali tidak merindukan, Kakak. Aku hanya merindukan Kak Ruby dan ketiga ponakanku," sahut Adelia sembari menghampiri kereta dorong baby triplet.


"Cih, terlalu!" Arka berdecih dan memasang wajah kesal.


Adijaya juga tidak kalah bahagia. Pria itu berjalan dengan langkah tegap, menghampiri anak, menanti dak ketiga cucunya.


Ruby merasa terharu dan langsung menghambur memeluk papa mertuanya yang sudah dia anggap seperti papa kandungnya.


Adijaya melerai pelukannya dan mengalihkan tatapannya ke arah Arka.


"Arka, kenapa kamu pulang tanpa kasih tahu lebih dulu? kami jadi tidak ada persiapan kan?"bukannya mendapat pelukan, Arka malah mendapat omelan dari sang papa.


"Kalian sebenarnya sayang tidak samaku? harusnya kalian tanya dulu, bagaimana keadaanku. Kalian apa tidak bisa lihat, sudut bibirku yang membiru,kena pukulan yang bertubi-tubi? aku masih anggota keluarga ini nggak sih?" protes Arka, membuat Adijaya dan Adelia terkekeh.


"Kamu sudah pulang, membawa menantu dan cucu-cucu Papa, itu berarti kamu baik-baik saja. Jadi, sepertinya tidak ada yang perlu ditanyakan lagi," sahut Adijaya santai.


Sementara itu, Rosa menatap dengan mata yang berembun dari arah tempat dia berdiri. Entah apa yang dipikirkan olehnya wanita setengah baya itu sekarang.


Ruby, memberanikan diri melangkah menghampiri Rosa dan menerbitkan senyumnya begitu dia sudah berdiri di depan ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Ma, aku__" belum sempat Ruby menyelesaikan ucapannya, Ruby sudah dikagetkan dengan reaksi ibu mertuanya yang tiba-tiba memeluknya.


"Maafkan Mama, Ruby! maafkan Mama!" ucap Rosa dengan air mata yang akhirnya menetes keluar.


Ruby mematung, benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan reaksi mengejutkan dari sang mertua. Ternyata selama ini dia yang menyebabkan ketakutannya sendiri.


"Kamu mau kan memaafkan, Mama?" tanya Rosa di sela-sela isak tangisnya.


"Kamu tidak mau ya memaafkan, Mama?" tanya Rosa lagi, melihat Ruby yang masih diam, tidak memberikan tanggapan apapun.


"Ti-tidak mungkin aku tidak memaafkan,Mama. Aku hanya kaget, dan tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini. Aku kira, Mama masih membenciku dan tidak menginginkanku kembali dengan Mas Arka," ucap Ruby yang akhirnya tidak bisa juga menahan air matanya.


"Mama tidak membencimu, By. Kenapa Mama tidak ikut mengunjungimu ke Bali, dan seakan bersikap apatis, itu bukan keinginan Mama. Mama hanya terlalu malu mengingat sikap Mama yang dulu. Mama benar-benar, Malu. Padahal, sebenarnya mama sangat ingin bertemu denganmu, dan meminta maaf!" tanpa malu lagi, akhirnya Rosa meluapkan apa yang dia rasakan selama ini.


"Jadi, Mama tidak membenciku?" tanya Ruby memastikan dan Rosa menganggukkan kepalanya.


"Kamu itu wanita baik,dan sangat pantas buat anakku. Mama dulu hanya menutup mata, tidak bisa melihat sisi baikmu. Mama selalu menanamkan kebencian di hati mama karena melihat perubahan Arka yang menjadi pribadi yang dingin, dan mama menyalahkanmu akan hal itu," ucap Rosa seraya kembali memeluk Ruby.


Perasaan Ruby sekarang merasa hangat, bahagia karena kehadirannya di keluarga itu akhirnya bisa diterima semuanya.


"Sekarang kalian istirahat dulu! kalian pasti capek. Mama akan meminta bibi untuk memasak makanan yang enak-enak untuk makan malam," ucap Rosa yang kini tampak terlihat sangat bahagia.


"Fiks, sekarang aku benar-benar sudah jadi orang lain di rumah ini! tidak ada satupun yang memelukku!" celetuk Arka, menghentikan suasana haru yang sempat tercipta.


Suara tawa akhirnya pecah memenuhi ruangan, melihat wajah kusut Arka.


"Oh ya, besok malam kita juga akan mengadakan makan malam dengan keluarga Pandu, untuk membicarakan pertunangan Adelia dengan Pandu," Adijaya kembali buka suara.


Arka dan Ruby sontak saling silang pandang, dan menghela napas panjang.


Reaksi kakak dan kakak iparnya itu tentu saja tidak luput dari perhatian Adelia.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2