
"Sedang apa kamu di Bali, Ka?" tanya Pandu ketika hanya mereka berdua saja, sedangkan Tiara sudah masuk ke dalam ruangan Ruby.
"Aku ke sini karena ada pekerjaan penting dan sebenarnya aku berencana akan kembali ke Jakarta besok," sahut Arka.
"Oh, seperti itu? kenapa cepat pulang? apa pekerjaanmu sudah selesai?" Arka menganggukkan kepalanya, dengan ekspresi yang sukar untuk dibaca.
Pandu menautkan kedua alisnya, menelisik raut wajah Arka.
"Ka, ada apa? apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" Pandu mencoba menyelidik.
Arka tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan cukup berat.
"Pan, ada sesuatu yang mengganjal dan mengganggu pikiranku dan itu mengenai wanita di dalam ruangan itu. Kenapa aku merasa dia ada hubungannya denganku ya? apa dia bagian dari yang kulupakan itu?"
Pandu sontak menelan ludahnya sendiri dengan kasar, begitu mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Arka.
"Emangnya, kamu merasa ada sesuatu yang kamu lupakan?" tanya Pandu dengan gugup.
"Tidak usah menutupi lagi, Pan! sebenarnya aku tahu, kalau ada bagian masa lalu yang aku lupakan, dan aku yakin kalau itu pasti bagian yang penting. Aku sudah mendengar sendiri pembicaraanmu dengan Papa. Papa memintamu untuk sementara tidak menyingung masalah seorang wanita di depanku, dan aku yakin kalau wanita itu bukan Jelita. Sekarang aku mau tanya, apa wanita yang kalian maksud adalah wanita di dalam sana?" tanya Arka dengan tatapan menuntut.
Tenggorokan Pandu kembali seperti tercekat, dan susah untuk menelan ludahnya sendiri. Dia merasa bingung mau memberikan jawaban apa pada Arka.
"Kenapa kamu diam, Pan? tolong jawab pertanyaanku?" desak Arka, menuntut.
"Ah,kamu terlalu banyak bertanya, tidak ada apapun yang kamu lupakan, Arka. Satu-satunya yang kamu lupakan itu, kamu pernah meninju wajahku tapi kamu tidak minta maaf," Pandu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu masih mau berbohong ya,Pan? asal kamu tahu,aku sebenarnya mendapatkan photo ini di laci meja kerjaku. Anehnya setiap aku melihat photo ini ada kesedihan yang kurasakan tapi aku tidak tahu, hal apa yang membuatku sedih." Arka menunjukkan sebuah poto yang dia ambil dari dompetnya.
"Tadi begitu aku melihat wajah wanita di dalam sana dalam-dalam aku langsung teringat dengan wajah yang ada di photo ini, aku merasa kalau wanita yang ada di photo ini adalah orang yang sama dengan wanita di dalam ruangan itu. Di sini aku dan dia sudah menikah, apa dia itu istriku? kalau iya,apa penyebab aku bisa melupakannya?" lanjut Arka lagi dengan wajah sendu.
Pandu tidak bisa berkata apa-apa lagi, begitu melihat photo yang ada di tangan Arka. kemudian dia mengembuskan napasnya dengan berat. " Apa kali ini aku harus jujur? Kalau aku jujur, aku harap, tidak akan terjadi hal buruk nanti pada Arka," batin Pandu.
"Ka, apa kondisimu lagi baik-baik aja sekarang?" tanya Pandu ambigu.
"Emangnya selama ini aku pernah mengalami kondisi yang tidak baik-baik saja? aku baik-baik aja kan selama ini?" Arka balik bertanya.
Pandu kembali menghela napas dengan panjang.
"Baiklah,aku akan jelaskan padamu. Wanita yang ada di dalam sana adalah Ruby. Dia itu istrimu, dan ketiga bayi kembar itu adalah anakmu. Kamu bisa melupakannya karena kamu pernah melakukan kesalahan-kesalahan yang sangat fatal, yang membuat kamu hidup dalam penyesalan yang besar. Penyesalan itu membuat kamu menjadi seperti orang linglung dan depresi, dan seperti mayat hidup. Kenapa perusahaanmu bisa mengalami penurunan, itu karena banyak klien yang tahu kondisimu, sehingga mereka banyak yang tidak mau bekerja sama dengan perusahaan yang Presdirnya tidak baik-baik saja," Jelas Pandu panjang lebar tanpa jeda.
__ADS_1
Arka bergeming, memejamkan matanya berusaha untuk kembali mengingat Ruby. Tiba-tiba di kepalanya berkelebat potongan-potongan peristiwa mengenai perlakuannya pada Ruby. Hal itu tentu saja membuat kepala pria itu seketika pusing.
"Arka, Arka kamu kenapa?" Pandu seketika panik melihat Arka yang meringis kesakitan sembari memijat kepalanya.
"Kepalaku pusing Pan. Wajah wanita itu ketika menangis memenuhi kepalaku," ucap Arka, lirih.
"Ada apa ini? bukannya kata dokter, ingatannya mungkin akan kembali tiga tahun atau empat tahun ke depan, tapi kenapa masih 3 bulan dia sudah mulai ingat?" batin Pandu, dengan raut wajah panik.
"Oh,aku lupa! Dokter juga bilang kan kalau bisa saja tiba-tiba kembali? mungkin ini karena efek pertemuannya dengan Ruby," Pandu kembali berbisik pada dirinya sendiri.
Brakk
"Arka!" pekik Pandu, panik melihat Arka yang tiba-tiba terjatuh pingsan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cukup lama Arka tidak tidak sadarkan diri dan Pandu dengan setia berjaga di samping pria itu.
Pandu, merasa ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari benda pamungkasnya. Pria itupun buru-buru masuk ke dalam toilet.
Di saat bersamaan mata Arka tiba-tiba terbuka dan dia langsung duduk. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, bingung dengan apa yang terjadi. Seketika dia mengingat pembicaraan dia dengan Pandu tadi, sebelum dia pingsan. Tanpa menunggu lama, Arka pun turun dari atas ranjang dan langsung berlari keluar dari ruangan itu.
"Arka, kamu mau pergi kemana!" teriak Pandu yang baru saja keluar dari dalam toilet. Namun dirinya tidak mendapatkan jawaban dari Arka karena pria itu terus saja berlari.
"Ruby!" desisnya menyebut nama wanita itu. Mata pria itu tampak berembun saat menatap wanita yang dia cari selama ini.
Sementara itu, Ruby yang saat itu sedang disuapkan makanan oleh Tiara, terkesiap kaget dan menatap Arka dengan mata yang membesar.
"Kak Arka? kenapa kamu ada di sini?" ucap Tiara sembari meletakkan piring ke atas nakas. Bersamaan dengan itu, Pandu menyusul masuk dengan napas yang tersengal-sengal.
Arka tidak menjawab sama sekali. Justru pria itu masih menatap Ruby dengan tatapan penuh kerinduan.
Tiara menoleh melihat ke arah Ruby. Dia melihat wajah sahabatnya itu sudah berubah pucat. Hal ini membuat Tiara khawatir. Dia dengan sigap langsung menghampiri Arka.
"Kak, Arka tolong pergi dari sini! Ruby baru saja selesai melahirkan, dia butuh ketenangan!" pinta Tiara mencoba menghalau Arka.
"Ruby, ini aku! aku sudah ingat kamu sekarang! a-aku __"
"Pergi dari sini! tolong keluar!" pekik Ruby tiba-tiba dengan tubuh yang bergetar.
__ADS_1
"Tidak! aku tidak akan pergi lagi! aku akan tetap ada di sini! aku minta maaf, aku minta maaf!" Arka kini tidak malu lagi untuk menangis.
"Tidak! Kak Pandu tolong bawa dia dari sini!" pekik Ruby, histeris.
"Ruby aku minta maaf!" Arka tersungkur jatuh berlutut.
Kak, Arka tolong mengerti dulu! kondisi Ruby belum stabil. Tolong keluar dulu dari ruangan ini!" bujuk Tiara.
"Ka, dengarkan aku! kita keluar dulu ya! nanti kalau sudah tenang kita masuk lagi!" Pandu ikut membujuk Arka.
Arka kemudian berdiri dan menatap ke arah Ruby yang melihat ke arah lain.
Di saat tubuh Arka sudah hilang di balik pintu, Ruby kembali histeris dan hendak turun dari atas ranjang.
"Aku mau anak-anakku! selamatkan anak-anakku! nanti dia akan mengambil dan membawa mereka pergi!" ucap Ruby, kembali histeris.
"Ruby, tenang! kamu tenang dulu! tidak akan ada yang mengambil anak-anakmu. Mereka akan aman. Arka tidak mungkin mengambilnya," Tiara dengan sigap mencegah Ruby untuk pergi dengan cara memeluk erat wanita itu.
Tiara melepaskan pelukannya ketika dia merasa kalau Ruby sudah mulai tenang.
"Kenapa kamu aneh begini sih, By? dulu kamu berharap ada Arka di sampingmu saat kamu melahirkan, sudah dikabulkan kan? dulu kamu mengatakan kalau kamu tidak membencinya, karena kamu tahu, kalau kamu juga salah dalam hal ini,tapi kenapa kamu enggan bertemu dengannya? bukannya kami juga sudah menjelaskan padamu, kalau Arka ternyata sudah tahu kejadian yang sebenarnya dan sudah menyesal, dan selalu mencarimu? tapi kenapa kamu masih histeris melihatnya? ada apa sih denganmu?" bentak Tiara,yang benar-benar bingung dengan sikap Ruby yang terkesan plin-plan.
Ruby terdiam. Dia sendiri bingung dengan sikapnya. Di lain sisi dia merasa seperti ingin memeluk pria itu tapi entah kenapa ada rasa takut yang tiba-tiba muncul. Rasa takut itulah yang membuat dirinya histeris.
"Ra, aku juga bingung. Aku memang sudah memaafkannya tapi entah kenapa hati kecilku seakan memberontak. Kata-katanya dulu yang mengatakan tidak mau memiliki anak dariku dan akan melenyapkan jika aku hamil, selalu berkelebat dalam ingatanku. Hal itu membuatku tiba-tiba takut kalau dia datang ke sini hanya berpura-pura menyesal, untuk mengalihkan fokusku sehingga ketika aku lengah dia langsung mengambil mereka dariku dan melenyapkan anak-anakku," ucap Ruby sembari menangis sesunggukan.
"Ya Tuhan, kata-kata itu ternyata sangat membekas di ingatan Ruby," batin Tiara kembali sembari memeluk sahabatnya itu.
"Tenang ya, By. Aku pastikan itu tidak akan terjadi. Anak-anakmu akan baik-baik saja," ucap Tiara sembari mengelus-elus kepala sahabatnya itu.
Tbc
Maaf ya, kalau terkesan tidak masuk akal. Masalah amnesia itu, bukan asal aku buat. Karena aku lebih dulu riset. Jenis amnesia seperti itu ada kok.
Aku riset dari Kompas.Com dan dari sumber lainnya juga.
__ADS_1
Coba dibaca, Kakak-kakak 🙏🏻