
"Kak, ayo ikut kami aja pulangnya!" ucap Adelia pada Tiara dari dalam mobil.
"Terima kasih, Del. Tapi kayanya tidak perlu. Sebentar lagi Kak Bima pasti jemput," tolak Tiara sembari melemparkan senyum manisnya.
"Ini udah sangat malam, Kak. Tidak baik Kakak menunggu terlalu lama. Kakak kan bisa hubungi Kak Bimanya nanti kalau kakak sudah pulang," Adel masih bersikeras meminta Tiara untuk ikut. Sementara Pandu fokus menatap ke depan, seperti enggan untuk melihat Tiara.
"Adel, Kak Bima pasti sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Jadi aku lebih baik menunggunya. Lagian, arah rumah kita kan berbeda. Tapi, terima kasih buat tawarannya," Tiara kekeuh menolak.
"Kak, aku rasa Kak Pandu tidak akan keberatan mengantarkan Kakak pulang.Justru kalau Kakak masih berada di sini, dan kami meninggalkan Kakak, Kak Pandu, pasti tidak akan fokus bawa mobilnya, iya kan Kak Pandu?" Adelia menoleh ke arah Pandu. Wanita itu dengan sengaja menyelipkan sebuah sindiran di balik ucapannya.
"Emm, i-iya!" sahut Pandu gugup dan tanpa sadar, mengiyakan.
"Tuh, Kakak dengar sendiri kan? jadi ayolah naik!"
Tiara bergeming dengan alis yang bertaut, mendalami makna ucapan Adelia.
Melihat Tiara yang masih berdiri di tempatnya, Adelia memutuskan untuk turun dari mobil dan meraih tangan Tiara.
"Ayo Kak, masuk!" Adelia membukakan pintu untuk Tiara.
Lagi-lagi Tiara merasa tidak enak hati, jadi mau tidak mau dia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil.
"Ayo, Kak jalan! Sekarang Kakak antarkan aku dulu pulang, baru Kak Tiara!" ucap Adelia pada Pandu.
"Oh, sebaiknya aku saja yang lebih dulu diantarkan, baru kamu," dari kursi belakang Tiara menimpali ucapan Adelia.
"Tidak apa-apa, Kak. Kan rumahku lebih dekat. Jadi, aku saja yang diantar lebih dulu. Lagian aku nggak masalah kok kalau nanti kalian bakal berdua saja di dalam mobil, aku percaya pada kalian," ujar Adelia yang lagi-lagi menciptakan suasana canggung di antara Tiara dan Pandu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dah, Kak Pandu, kak Tiara! aku duluan ya!" ujar Adelia setelah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
"Dah, sampaikan salamku pada Om dan Tante. Maaf, tidak bisa mampir," sahut Pandu dan Adelia menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Pandu baru saja hendak kembali menjalankan mobilnya, tapi kembali berhenti karena mendengar Adelia bicara.
"Eh, tunggu dulu! Kak Tiara sebaiknya pindah ke depan!"
"Ti-tidak usah,Del. Biar aku duduk di sini saja! tolak Tiara.
"Jangan meminta orang yang tidak mau melakukan apa yang kamu minta. Kami jalan ya!" Pandu menimpali penolakan Tiara dengan nada yang sangat dingin.
__ADS_1
"Yah udah deh!" pungkas Adelia, mengalah.
Tanpa berbasa-basi lagi, Akhirnya Pandu kembali menjalankan mobilnya, dengan kecepatan sedang. Keheningan tercipta sepanjang jalan di antara dua sejoli itu. Pandu fokus menatap ke depan, sementara Tiara menatap ke luar menatap jalanan. Wanita itu bahkan sampai lupa untuk menghubungi Bima, untuk melarang sepupunya itu untuk menjemputnya.
Di belakang kemudi, Pandu mulai terlihat tidak tenang. Pria itu melirik ke arah Tiara melalui kaca spion.
"Arghhh!" Pandu tiba-tiba memukul kemudi mobil dengan keras, membuat Tiara terjengkit kaget.
Pandu menepikan mobilnya di depan sebuah taman dan langsung keluar. Rahang pria itu terlihat mengeras, membuat Tiara kebingungan.
"Ayo keluar!" titah Pandu, sembari membuka pintu mobil untuk Tiara.
"Keluar? apa dia mau menurunkanku di tempat ini?" batin Tiara, sedikit ketakutan melihat tempat itu sangat sepi.
"Kenapa kamu masih belum keluar? apa kamu tidak mendengarku!" pekik Pandu dengan suara yang agak meninggi.
Berteman rasa bingung dan takut, akhirnya Tiara turun dari dalam mobil. Wanita itu benar-benar tidak berani buka suara untuk sekedar bertanya alasan dia diturunkan.
"Kenapa kamu selalu muncul di depanku hah?" pekik Pandu menarik tangan Tiara dengan kencang, membawa wanita ke taman, lalu sedikit mendorong wanita itu hingga tubuh Tiara menyender di pohon.
"A-aku tidak pernah berniat ingin muncul di depanmu, itu murni ketidaksengajaan," sahut Tiara dengan gugup.
"Kak, maaf kalau aku membuat Kakak tersiksa. Aku berjanji akan menjauh dari hidup Kakak,"
"Apa kamu kira dengan kamu menjauh, bisa menyembuhkan hatiku? hatiku benar-benar sakit, Ra. Aku benci dengan perasaan ini. Aku benci berpura-pura bisa jauh darimu, aku benci, Ra! Seandainya waktu bisa diputar ulang, ingin rasanya aku meminta agar kita tidak usah bertemu!" Untuk pertama kalinya, Pandu sudah tidak bisa menahan air matanya. Pria itu kini terlihat benar-benar lemah, lemah karena cinta.
Tiba-tiba, ponsel Tiara berbunyi. Tiara merogoh tasnya dan meraih handphone dari dalam. Dia melihat ada nama Bima yang sedang menghubunginya. Ketika dia hendak menjawab, Pandu dengan sigap merampas handphone itu dan mematikan panggilan begitu saja, lalu melemparkan handphone itu ke tanah.
"Kak, Pandu kenapa dilempar? itu dari Kak Bima!" pekik Tiara seraya bergerak hendak mengambil handphonenya, tapi dengan sigap Pandu menahannya kembali, menarik tangan Tiara dan menempelkan tubuh Tiara ke pohon. Sementara itu, Pandu langsung menempelkan kedua tangannya di pohon, membuat Tiara tidak bisa bergerak.
"Sekarang, jelaskan apa kelebihan pria itu dibandingkan aku! kenapa kamu bisa menerima dia sedangkan aku tidak, jawab!" mata Pandu menatap tajam Tiara yang berada di bawah kungkungannya.
"Kak, tolong jangan seperti ini! tolong kendalikan dirimu!" mohon Tiara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu memintaku, untuk bisa mengendalikan diri, kamu kira itu mudah,hah! sekarang jelaskan apa kelebihan pria itu yang tidak aku miliki?"
Tiara bergeming, diam seribu bahasa. Wanita itu menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Pandu.
"Jawab Tiara! kenapa kamu hanya diam?"
"Kamu tidak kurang apapun, mungkin beginilah keadaannya. Cinta tidak bisa dipaksakan," sahut Tiara, lirih.
__ADS_1
"Sekarang aku mau tanya, apa selama ini sedikit saja kamu tidak pernah mencintaiku?"
Tiara tercenung, tidak menjawab sama sekali.
"Jawab Tiara! apa kamu sedikit saja tidak pernah mencintaiku?" desak Pandu.
"Tidak, Kak. Aku tidak pernah mencintaimu!" sahut Tiara, terpaksa berbohong.
"Bohong! apa kamu kira, aku bodoh Tiara.Aku bisa melihat di matamu, kalau kamu juga mencintaiku. Jangan menyangkalnya lagi. Kamu mencintaiku kan?"
"Iya, aku mencintaimu! puas!" pekik Tiara yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.
"Tapi apa rasa cinta yang aku miliki bisa merubah keadaaan? tidak kan? Semuanya itu tidak ada gunanya lagi. Ingat, kamu akan bertunangan dengan Adelia. Sekarang dia adalah masa depanmu,"
Bughhh
Pandu refleks, meninju pohon dengan kuat.
"Kak, Pandu!" pekik Tiara sembari meraih tangan Pandu yang sudah mengeluarkan darah
"Ini semua gara-gara kamu, Ra. Kenapa kamu dulu tidak jujur? kenapa setelah aku harus bertunangan dengan Adelia, kamu baru jujur dengan perasaanmu, kenapa?" pekik Pandu sembari tersungkur duduk di tanah.
"Maaf, Kak! Aku memiliki alasan untuk itu. Dulu, aku memiliki seorang pacar dan aku sangat mencintainya, tapi karena dia tahu aku mencintainya, dia memanfaatkanku. Karena itulah, aku tidak ingin menunjukkan rasa cintaku pada Kakak," ucap Tiara sembari ikut duduk di samping Pandu.
"Tapi, aku mohon, mulai sekarang, belajarlah untuk mencintai Adelia. Dia gadis yang baik dan sangat mencintaimu," ujar Tiara yang kini sudah mulai menangis.
"Sangat mudah bagimu mengucapkan hal itu, Ra. Tapi sangat sulit bagiku," Pandu memejamkan matanya dan menempelkan kepalanya ke pohon.
"Sekali lagi,maaf, Kak!" ucap Tiara lirih.
Pandu membuka matanya, dan menoleh ke arah Tiara yang kini juga menatapnya.
"Bisakah aku memelukmu sekarang? tolong izinkan aku. Setelah ini, aku akan berusaha berlapang dada menerima takdirku yang tidak bisa bersamamu," pinta Pandu.
Pandu sontak memeluk Tiara setelah wanita itu menganggukkan kepalanya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat dari jauh apa yang terjadi di antara Pandu dan Tiara. Siapa lagi pemilik mata itu, kalau bukan Adelia yang setelah Pandu pergi tadi, langsung membuntuti dengan mobilnya sendiri.
Tbc
Maaf kalau kurang berkenan. Aku benar-benar mengantuk gara-gara konsumsi obat. Sudah dua hari aku demam. Tapi, aku usahakan untuk tetap Up 🥰🥰🥰
__ADS_1