
Rose sudah tiba di perusahaannya yang berada di tengah-tengah hiruk pikuk ramai kota Los Angeles.
Gedung perusahaan yang memiliki tinggi menjulang.
Rose turun dari mobil mewah berwarna putih miliknya.
Hari ini Rose sengaja mengendarai sendiri mobilnya dan datang lebih awal ke perusahaan sang daddy.
Setelah ini, ia akan mengunjungi perusahaan agensi model light Hugo milik sang mommy.
Rose dengan langkah anggun dan berkelas, memasuki lobby perusahaan Kato group.
Dengan mengenakan setelan pakaian kerja yang begitu mewah berwarna putih dan dipadukan sepatu high heels berwarna senada, yang membuat Rose terlihat begitu memukau.
Dengan rias tipis di wajahnya yang cantik dengan rambut digelung ke belakang, Rose begitu terlihat cantik dan berkelas.
Jangan lupa aksesoris yang ia kenakan yang berharga fantastis, seperti, jam tangan mewah, perhiasan dan juga tas kerja yang ia pakai yang berharga fantastis.
Rose tersenyum tipis kepada para karyawannya yang sudah berbaris di tengah-tengah lobby untuk menyambutnya.
Para karyawan tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka.
Karena Rose terkenal tegas dalam pekerjaan, ia tak segan-segan menyingkirkan para karyawannya yang berbuat masalah.
Rose berdecak kesal saat melihat senyum manis asistennya.
"Selamat datang, nona boss," sahut seorang wanita manis dengan kacamata bening yang bertengger di hidung mungilnya.
"Ck!" Rose hanya berdecak kesal melihat asistennya yang merupakan anak dari paman Nathan dan Jessy.
"Ayolah, jangan marah, Ros," bujuknya sambil mengikuti Rose memasuki lift khusus untuk mengantar Rose langsung ke ruangannya.
"Rose!" Seru wanita manis itu yang biasa dipanggil Natalia.
"Jaga sikapmu, Natali!" Tegur Rose dengan wajah dingin.
"Ck! Natalie hanya berdecak kesal.
"Ini di kantor, jadi, jaga sikapmu," ujar Rose.
__ADS_1
Asisten Rose itu pun hanya memutar bola matanya jengah, dengan bibir bersungut-sungut.
"Na.ta.lie!" Tekan Rose geram.
"Baik, nona, boss," sahut Natalie dengan senyum yang terpaksa.
"Dasar wanita es," gumam Natalie dalam hati.
"Kau, mengumpat ku?"
"Tidak!"
"Kau, hari ini di hukum. Temani granny hari ini seharian," titah Rose.
"Kenapa begitu?!" Pekik Natalie.
"Tidak, ada penolakan," sela Rose yang sudah memasuki ruangannya.
"Ayolah, Ro —" Natalie menghentikan perkataannya saat melihat tatapan mata Rose.
"Maksud saya, nona, boss," ucap Natalie kikuk.
"Kenapa, dia begitu menyebalkan," cibir Natalie dalam hati.
"Tidak!"
"Okey, sekarang, temui granny!" Perintah Rose.
"Please, jangan hukum aku dengan menemani, granny," mohon Natalie.
"Pergilah!" Perintah Rose, tanpa mengindahkan permohonan sepupunya itu.
"Ayolah, Rose," pinta Natalie setengah merengek.
"Nathalie!" Geram Rose.
"Aku, tidak peduli, kau bos atau sepupuku, yang jelas aku tidak mau menemani, granny," tolak Natalie dengan wajah kesal.
Rose yang duduk di kursinya, menatap dengan alis terangkat sebelah, menatap lekat Natalie.
__ADS_1
"Kau."
"Kembali ke Paris," ucap Rose dengan senyum sinis.
Natalie yang mendengar ucapan sepupunya hanya bisa melotot dan menganga.
Kenapa dia harus diberikan pilihan hukum yang mengesalkan.
"Dua pilihan, temani granny, atau – " Rose menggantung ucapannya dengan tersenyum miring ke arah Natalie.
"Baiklah, aku akan menemani, granny. Kau puas," sentak Natalie.
"Okey, pergilah!" Ujar Rose.
Natalie pun melangkah ke arah pintu ruangan Rose, dengan menghentakkan kakinya.
Wanita manis itu, membuka pintu ruangan Rose dengan kasar, lalu menutupnya dengan kasar pula.
"Brakk"
"Natalie!" Pekik Rose.
Rose menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.
Setelah tenang, Rose pun membuka satu persatu berkas yang sudah tersusun di atas meja kebesarannya.
Ia juga menyalakan laptopnya dan memeriksa keadaan perusahaannya di tersebar di seluruh benua Amerika.
Dengan wajah serius, Rose memeriksa satu persatu berkas, sambil menatap lekat angka-angka yang ada di dalam laptop miliknya.
Beginilah keseharian Rose selama dua tahun belakangan ini.
Ia menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja.
Bila wanita seusianya akan menghabiskan waktu mereka bersenang-senang dan berfoya-foya, dan melakukan pesta, keliling dunia, maka dalam kamus hidup Rose tidak ada catatan seperti itu.
Meskipun ia terlahir dari keluarga konglomerat terkenal dan terpandang.
Memiliki harta melimpah dan kehidupan serba mewah, namun Rose, enggan membuang waktunya hanya untuk kenikmatan sesaat.
__ADS_1
Ia sangat melarang keras dirinya sendiri dari dunia bebas dan juga se*s bebas, meskipun ia berada di lingkungan bebas.