Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 39


__ADS_3

Jalanan kota los Angeles sore ini begitu padat, oleh para pengendara beroda empat yang pulang ke rumah mereka masing-masing sehabis melakukan aktivitas seharian.


Begitu juga dengan Rose, yang ikut bergabung memadati jalanan Los Angeles.


Dengan mengendarai mobil sport mewah berwarna merah, dengan atap mobil dibiarkan terbuka, hingga sinar matahari sore menerpa wajahnya dan hembusan angin sore membelai wajah cantik kemerahannya akibat terpaan sinar matahari sore.


Rose membiarkan rambut coklat kemerahannya tergurai indah, dengan jas kerja khusus wanita yang membungkus tubuh tinggi seharian, ia melepaskan dan meninggalkan blues hitam tanpa lengan di tubuhnya.


Yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih, dan blues tersebut pun memperlihatkan tubuh indah Rose yang begitu terawat.


Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung dengan headset bluetooth yang terpasang di kedua telinganya.


Sesekali wanita berusia 26 tahun itu, bersenandung mengikuti irama lagu yang ia dengar melalui headset putih yang terpasang di telinga.


Sesekali Rose memejamkan matanya dan menerbitkan senyum tipis, menikmati hembusan angin sore, terasa begitu menyenangkan.


Ia bahkan melambaikan tangan kirinya keluar dari pintu mobil, mengikuti hembusan angin sambil tersenyum manis.


Kadang kepalanya bergoyang-goyang saat irama musik yang ia dengar memancing tubuhnya untuk bergoyang.


"Ckit"


Rose menekan pedal rem saat berada di lampu merah, dan mobil mewah Rose berada di tengah pengendara lainnya.


Semua pengendara beroda empat dan dua, memusatkan perhatian mereka kepada mobil Rose pun kepada sang pemilik yang terlihat bagaikan boneka Barbie nyata.


Beberapa pemuda mengendarai motor dan mobil sport hitam, menggoda Rose.


Mereka bersiul dan menelisik penampilan Rose dengan tatapan memuja dan mendamba.


Terlihat di kiri dan kanan Rose sebuah mobil sport mewah, yang tidak pernah memalingkan wajahnya mereka dari sosok, wanita cantik di samping mereka.


Sedangkan Rose mengabaikan tatapan memuja mereka dengan terus mendengarkan musik.


Dengan sikap tidak acuh Rose terus saja memusatkan perhatiannya ke arah depan.


Tidak sekalipun keinginannya untuk memalingkan wajahnya kesamping.




"Hey, seksi!" Seru pria yang berada di mobil sebelah kanan Rose.



"Siapa nama anda, nona?" Tanya dengan nada ramah, jangan lupa wajah mesumnya saat menatap tubuh indah Rose.



Tanpa sadar pria bertubuh kekar dengan jambang lebat di wajahnya, bersiul panjang dan melirik kearah aset berharga Rose.



"Wanita yang sangat, seksi dan, menantang," tuturnya kepada temannya yang berada di samping.



"Lihatlah, wajahnya begitu, cantik," sahut pria itu mengenakan mobil sport hitam di samping kiri Rose.

__ADS_1



"Sepertinya, dia bukan wanita biasa, bro," sahut temannya dengan menilai penampilan Rose yang terlihat berkelas.



"Yap. Kau benar, dia terlihat berkelas," sang pria yang di balik kemudi mengiyakan ucapan temannya.



"Sungguh, wanita idaman. Seandainya dia menjadi kekasihku, pasti aku akan menjaganya dengan sangat ketat, atau bahkan aku akan mengurungnya di kamar." Seloroh pria tersebut sambil terkekeh.



Matanya masih menatap Rose penuh kekaguman dan binar pengharapan.



Terdengar lagi, siulan dari arah kanan Rose, yang begitu memuji kecantikan alami Rose.



"Nona! Apakah aku bisa berkenalan, dengan mu?" Tanyanya, namun tidak ada sahutan dari Rose, Jangankan sahutan, lirikan dari Rose pun tidak ia dapatkan.



Temannya yang berada di samping kemudi terkekeh, saat temannya di abaikan, yang terkenal playboy handal.



"Dia, bukan lawan mu, bro!" Ejek salah satu dari mereka.




"Dia bukan wanita murahan, dude. Dia terlihat wanita berkelas dan mempunyai karir," timpal yang lain.



"Yap, kamu benar!"



"\*\*\*\* diamlah. Aku tidak perduli, aku harus mendapatkan wanita cantik, ini," ujarnya dengan menyeringai licik.



"Nona! Bolehkah, kami bergabung denganmu?" Pria tersebut masih bersikeras mencoba merayu Rose.



Lagi-lagi, ketiga temannya tertawa karena tidak mendapatkan respon sedikitpun.



"Sudahlah, bro, Menyerah saja," celetuk salah satu pria dari mereka.


__ADS_1


Pria tersebut merasa tertantang untuk mendapatkan Rose, ia merasa harga dirinya sebagai playboy terhina dan terhempaskan.



Dari arah belakang, seorang pria yang menggenggam kuat stang motornya dengan wajah merah dan mata yang berkilat marah.



Pria yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam itu, mengeratkan garis wajahnya yang di tumbuhi bulu-bulu halus, dengan gigi yang bergemeretak ngeri.



Buku-buku jarinya pun nampak merah, yang berada di stang motor besarnya.



Jangan tanyakan telinganya yang begitu merah, setiap para pria di depannya menggoda, wanita yang hanya terdiam dengan tatapan dinginnya.



Matanya bahkan ingin keluar, setiap para pria menatap kagum kepada Rose dan ingin rasanya ia memukuli atau mencongkel bola mata mereka satu-persatu.



Entah mengapa perasaannya tidak terima kalau wanita yang ia dijuluki perawan tua itu digoda oleh pria lain.



Davin menurunkan standar motor besarnya, melepaskan jaket kulit hitamnya dan menyampaikan di bagian depan motor kesayangannya.



Dengan kedua tangan mengepal erat, dan wajah yang begitu merah, jangan tanyakan matanya yang pun ikut merah.



Davin berjalan ke arah depan, mendekati para pemuda yang ada di samping kanan Rose.



Tanpa aba-aba, atau tanpa sapa menyapa, tanpa sello hey, Davin mengarahkan pukulannya, ke wajah pria yang di balik kemudi mobil berwarna hitam tersebut.



"Brengsek! Berani-beraninya, kalian menggodanya!" Amuk Davin geram.



Setelah menghajar wajah pria tersebut, Davin berjalan ke arah pintu mobil Rose.



Davin membuka kunci mobil wanita itu dan tanpa banyak berkata-kata, Davin mengangkat tubuh Rose dan menghempaskannya ke kursi sebelah kemudi.



"Hey, dasar pria pulau berdaki, kurang ajar!" pekik Rose.


__ADS_1


Davin tidak menghiraukan makian Rose, ia melajukan segera mobil Rose dari tatapan para pria kelaparan.


__ADS_2