
"Hukh"
"Glek"
Dengan langkah kaki panjangnya, Davin dapat merebut minum jus yang sudah di minum oleh Rose.
Namun Davin menepuk punggung Rose kuat, sehingga Rose memuntahkan kembali minuman tersebut dan terbatuk-batuk.
Tanpa Davin sadari ia menyesap minuman yang ia rebut dari Rose, hingga habis.
"Ap, β¦." Rose tidak dapat meneruskan kalimat protes kepada pria yang sudah membuatnya tersendak.
"KAU!" Pekiknya saat melihat wajah Davin yang terlihat menegang dan merah.
"Kenapa, kau selalu saja menggangguku," protes Rose.
"Bisakah, kau menjauh dariku," ketus Rose jengah.
"Aku, selalu sial. Bila bertemu denganmu," Pekik Rose kesal.
Davin hanya bisa diam dengan wajah merah, ia baru ingat kalau minuman tersebut sudah diberi obat pembangkit tongkat ajaib.
"Menyingkirlah!" Sentak Rose dan mendorong tubuh Davin, tapi pria tersebut meraih pergelangan tangan Rose dan menariknya ke arah pintu keluar.
"Apa, yang kau lakukan, lepas!" Pekik Rose sambil memberontak.
Davin melepaskan genggaman tangannya dan menatap Rose tajam.
Ia melepaskan pakaian ala chef nya lalu menyampirkan di pundak seksi Rose.
Membuat Rose terdiam membisu, melihat perlakuan Davin.
"Apa kau kekurangan pakaian, sehingga menggunakan pakaian buruk, ini," sungut Davin.
"B β bukan urusanmu," balas Rose dengan rona wajah merah.
"Ck! Jangan mengenakan pakaian seperti ini lagi, kau tidak akan tahu, niat seseorang yang diam-diam ingin menyakitimu," nasehat Davin penuh nada posesif.
"Cih! Menjauhlah," Rose menjauhkan tubuh kekar Davin dari hadapannya.
Karena terlalu kesal, Rose, tidak menyadari minuman yang ia ambil di meja yang tersusun berbagai minuman, itu adalah sebuah minuman beralkohol tinggi.
Davin hanya mengerutkan keningnya, saat melihat raut wajah Rose yang mengkerut saat merasai habis segelas minuman yang rasanya aneh.
"Minuman apa ini?" Tanyanya dengan terbatuk-batuk dan wajah yang berubah merah, kepalanya pun tiba-tiba terasa berputar-putar.
"Ck! Ini minuman beralkohol tinggi," sela Davin pun meraih minuman berwarna putih tersebut.
"Aku kira ini minuman bersoda, biasa," lirih Rose, sambil menatap gelas yang ada di tangannya.
"Rasanya pahit," Keluh Rose dengan lidah di julurkan.
"Jangan, bilang kau pertama kali meminum, ini?" Dengan tatapan intens mata menyipit ke arah Rose.
Matanya pun membola saat, Rose mengangguk yakin.
Davin hanya bisa menghela nafas bertanya dan menyugar rambut coklatnya ke belakang.
"Kenapa, kau ke acara ini sendiri, nona. Ini tempat berbahaya," cetus Davin kesal.
Dirinya tidak dapat membayangkan, kalau saja tidak terlambat mengetahui bahaya yang akan dialami wanita cantik di sampingnya.
"Kau, cerewet sekali, pria berdaki," seloroh Rose yang mulai terpengaruh oleh minuman beralkohol tersebut.
Davin terus menatap Rose dengan penuh pengawasan, ketika wanita itu, berjalan ke arah wastafel.
"Dasar wanita, konyol," bisik Davin lirih.
Tatapan Davin terus saja tertuju kepada Rose, tatapan penuh pengawasan.
Ia segera mendekati Rose, ketika seorang pria yang ia ketahui adalah, pria yang berniat buruk kepada Rose.
__ADS_1
Tanpa meminta persetujuan wanita yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja itu, meraih pinggang ramping Rose dan mendekatkannya ke tubuhnya.
"Maaf, tuan. Dia milikku," ukur Davin dengan tersenyum ramah.
"Iyakan, baby?" Davin menoleh ke samping dan mengecup sekilas bibir seksi Rose, saat wanita itu menoleh dengan wajah merah.
"Kau, pria berdaki, sialan!" Ucap Rose dengan nada tak karuan.
"Maaf, tuan. Itu panggilan kesayangan untukku," sahut davin saat pria itu terlihat meragukan perkataan Davin.
"Maaf sekali lagi, saya harus membawa pulang milikku, aku takut, dia terlalu lama di sini. Karena disini banyak orang-orang yang berniat jahat," pungkas Davin dengan nada sindiran.
"Iya kan, baby?" Davin kembali menoleh dan kali ini Davin mengecup kening Rose, yang kepalanya ia letakkan di pundak keras Davin.
"Lihatlah, dia begitu manja," ujar Davin dan diikuti kekehan kaku.
"Kalau begitu, kami permisi, tuan," pamit Davin sambil merangkul pundak Rose yang terus meracau itu.
Davin meninggalkan sosok pria tersebut dengan berwajah kesal.
Ternyata keberuntungan belum berpihak kepadanya, entah apa yang esok hari yang akan dialami pria malang tersebut.
"Lepaskan!" Pinta Rose yang menyingkirkan tangan Davin di pundaknya.
"Aku ingin pulang," ujar Rose dengan kepala yang terasa berputar.
"Biar aku mengantarmu," jawab Davin yang juga mencoba menahan sesuatu di dalam tubuhnya.
"Tidak! Biarkan aku sendiri saja," tolak Rose sambil berjalan sempoyongan di lobby klub.
Davin hanya bisa menghela nafas dan mengikuti langkah Rose yang terlihat tak karuan arah, yang terlihat menyeret kakinya seakan-akan melayang.
Pandangannya pun mulai berputar-putar dan mengabur, dia dapat melihat sosok menjadi tiga.
"Akh, apa yang kau lakukan, sialan!" Pekik Rose, saat Davin memanggul tubuhnya dengan sekali hentakan ke atas pundaknya.
"Plak, diamlah," ketus Davin dengan memukul bokong seksi Rose.
"Dia kekasihku, biasa dia sedang merajuk, ingin bercinta," ujar Davin asal.
Para kru penanggung jawab acara tersebut hanya ber oh ria dan menggelengkan kepala mereka.
Davin kini sudah berada di parkiran klub, ia merotasi pandangannya mencari mobil Rose yang ia kenali.
Namun gagal, dia tidak menemukan mobil wanita yang masih berada di pundaknya tersebut.
Rose pun masih meracau tak karuan, ia kadang memukuli belakang Davin dan juga menggigit telinga pria tersebut, atau menarik rambut Davin.
"Diamlah," sentak Davin yang menurunkan Rose.
Davin meraih tas tangan mewah Rose dan membukanya untuk mencari kunci mobil Rose.
"Ck! Davin pun hanya bisa berdecak kesal, saat mobil Rose ternyata berada di samping mereka.
"Kenapa, aku tidak bilang sejak, tadi," sungut Davin.
__ADS_1
"Aku melihatnya, ada tiga, empat, sepuluh," sahut Rose dengan nada meracau dan terkekeh.
Wanita itu terlihat begitu mabuk, padahal baru meminum satu gelas.
"Masuklah!" Davin membantu Rose masuk kedalam mobil dengan hati-hati, dengan sebelah telapak tangannya ia letakkan di atas kepala Rose.
Davin juga membantu Rose, memakaikan sabuk pengamannya.
Tapi saat ingin menjauhkan wajahnya dari Rose, wanita itu tiba-tiba, meraih kasar tengkuk Davin dan menyatukan bibir mereka.
Rose, menyesap bibir Davin dengan gerakan kaku namun sangat lembut, yang membuat Davin mengerang dalam hati.
Apalagi dia baru saja membabat habis minuman yang ada pembangkit tongkat ajaib.
"Berhentilah, kau akan memancing jiwa bajingan ku," bisik Davin saat melepaskan paksa tautan bibir mereka.
"Bukankah, kau juga sering mencuri, ciumanku," Rose melayang protes.
"Itu karena keadaan sekarang sedang emergency bed, diamlah. jangan memancingku, bisa-bisa kita akan melakukan, emergency car," ketus Davin dengan berdengus kesal.
CUPLIKAN BAB
"Akh" hati-hati, kau mengenai gigimu,"
"Stt, dia terjepit."
"Cepatlah, aku sudah tidak tahan,"
"Sabar, dia masih terjepit."
"Maaf, ini hal pertama bagiku,"
"Astaga. Apakah ini, yang dinamakan, jamur jumbo beracun?"
"Mommy, kenapa mobil itu bergoyang? Seperti mobil bibi Lusi saat, daddy masuk kedalam mobilnya?"
__ADS_1