
Langit malam kini sudah berganti langit terang, yang menandakan pagi sudah menyapa.
Kicauan burung terdengar merdu di salah satu pohon yang ada di taman kota.
Dedaunan pun masih terlihat lembab oleh tetesan embun pagi.
Embusan udara pagi hari begitu menyejukkan, dengan cahaya jingga kekuning-kuningan yang begitu menakjubkan di pandang, menghangatkan kota Los Angeles.
Meskipun masih pagi, kota Los Angeles sudah nampak ramai oleh para warganya yang memulai aktivitas.
Ada yang mulai berangkat bekerja, berolahraga pagi, para pelajar yang terlihat menggunakan bus khusus dan juga para karyawan yang terlihat berlalu lalang.
Kebetulan hari ini adalah hari penuh kesibukan, setelah melalui akhir pekan.
Taman kota akan sepi pengunjung di hari kerja dan hanya ada beberapa orang yang hanya sekedar berlari pagi.
Namun pagi ini, taman kota yang terdapat di salah satu kota Los Angeles, dipadati oleh orang-orang dan juga para wartawan.
Riuh suara kisa-kisut dari para pejalan kaki yang kebetulan melintasi taman kota tersebut.
Terlihat juga beberapa polisi dan wartawan yang sibuk mengambil gambar mobil yang keadaan bagian depannya rusak.
Namun yang menjadi pusat perhatian mereka adalah, sepasang manusia di dalam sana yang masih terlelap, saling berpelukan dengan keadaan tanpa busana hanya ada sehelai kaos polos yang menutupi tubuh dan sang wanita yang terlelap di dada seorang pria yang tubuhnya dipenuhi tato.
Mereka tentu melihat karena kaca mobil mewah tersebut tidak tertutup.
Dan mereka tampak jelas melihat kondisi pasangan di dalam mobil.
Tentu saja para wartawan akan kegirangan, dengan berita yang mereka dapatkan pagi ini.
Berita tentang scandal salah satu pewaris perusahaan terkenal dari marga Hugo dan Kato.
Pun salah satu pewaris tunggal dari perusahaan Jackson group, dan seorang chef handal.
"Ck! Bangunkan mereka!" Pinta seorang wanita paruh baya, kepada cucunya.
"Apa mereka tidak merasa terganggu dengan keadaan, disini," imbuhnya dengan nada ketus, sambil mendelikkan kedua pasangan di dalam mobil.
"Apa, mereka berhasil melakukannya," bisik salah satu wanita tua di telinga granny.
"Apa kau tidak memperhatikan keadaan mereka? Dan lihat, cucuku sudah di penuhi tato alami, hasil karya, cucumu," cibir granny.
"Bukankah itu bagus," sorak nenek Margaretha dengan senyum bahagianya.
"Cih! Bagus dari mananya, melakukan di mobil," ketus granny.
"Bukankah, kau yang mengatakan, tidak masalah di mana saja mereka melakukan, percetakan cicit buat kita? Asalkan ada tetesan sumber benih menetes dan mengalir di tempat yang tepat," pungkas nenek Margaretha yang melirik tajam ke arah granny.
"Dasar wanita tua, pikun," sinis nenek Margaretha, saat melihat wajah bingung granny.
"Hey, apa kau lupa, kalau kau juga wanita tua," pekik granny.
"Hus. Kalian para wanita yang sudah lanjut usia, diam. Sesama kaum itu harus mendukung, agar kalian tetap bertemu di alam sana," timpal Nicko dengan nada dramatis.
"Pletak" dan melayanglah tongkat ajaib granny yang mendarat mulus di kening pria tampan itu.
"Dasar cucu laknat! Granny mengutukmu, mendapatkan jodoh konyol sepertimu," berang granny dengan mata tuanya ia tajamkan kepada Nicko.
"Aku terserah, granny. Yang penting wanita," sahut Nicko tidak acuh.
"Berhentilah, marah-marah, nanti jejaran keributan mu bertambah," celetuk Nicko dan segera menjauh dari jangkauan granny Gabriela.
"Dasar cucu laknat, minta di kutuk!" Pekik granny.
Pekikan granny yang kencang, berhasil membangunkan sosok wanita yang, ada di sana.
__ADS_1
Yang terlihat melilitkan kedua tangannya di pinggang si pria.
Rose belum menyadari keadaannya, namun satu yang ia rasakan, rasa nyaman dan hangat.
Ia juga menggesekkan hidungnya di dada pria yang ada dibawahnya. Menghirup aroma maskulin bercampur rasa sisa pertempuran mereka semalam.
"Hg" lenguhan halus itu membuat pria di bawahnya menggeliatkan badannya.
Bibir pria itu pun tertarik tinggi ke atas dengan begitu indahnya.
Ia juga mengeratkan pelukannya di tubuh ramping di atasnya, dengan posesif.
"Morning, baby!" Sapanya dengan nada serak nan berat, terdengar seksi.
"Morning!" Sahut Rose lirih. Ia belum sadar dengan keadaannya.
Granny, Nicko, nenek Margaretha dan tuan Jack Jackson, terdiam menyaksikan adegan manis di dalam mobil.
Nicko bahkan merekam kegiatan manis keduanya dan mengirimkannya ke grup wa keluarga Kato.
Membuat Arthur dan Kim melongo melihat anak pertama mereka, yang dengan nyamannya berada di pelukan seorang pria.
"Kita berangkat kesana!" Seru Kim dengan wajah merah.
"Tapi, okusan. Ak …."
"SE.KA.RANG! Sentak Kim tak terbantahkan.
"Baiklah," sahut Arthur patuh.
"ROSE LIGHT KATO! Bentak seorang pria, yang terlihat berlari ke arah mobil Rose dengan tatapan tajam.
Nicko dan dibantu dua orang polisi menghalangi Lion yang tampak marah.
"ROSE!" Teriak Lion sekali lagi.
Membuat dua orang didalam sana tersentak dan segera membuka mata mereka.
Rose menoleh ke sekitar dengan denyutan kepala yang membuatnya mendesis.
Alis indahnya mengkerut, saat melihat orang ramai, ia mengedipkan matanya saat terkena blitz kamera.
Rose juga bisa melihat wajah, Lion, granny dan Nicko dengan raut wajah berbeda.
Rose belum tersadar dengan pria di bawah yang kini fokus menatap dataran tinggi Rose yang pucuknya mencuat tinggi.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Cicit Rose.
"Apa kau lupa soal tadi, malam?" Sahut Davin dengan pertanyaan.
Rose memalingkan wajahnya ke arah bawahnya, ia menggeleng sebentar dan, ….
"Argggh"
"Kenapa kau ada di sini! Pekik Rose.
"Apa yang kau lakukan, padaku, argh!"
Tanpa sengaja Davin menekan tombol penutup kaca pintu mobil.
Dan mobil mereka pun kembali bergoyang-goyang dengan kencang.
Kembali semua orang tercengang, termasuk, granny, nenek Margaretha, Nicko yang masih merekam dan Lion yang ikut menganga.
Apalagi mendengar teriakkan Davin kesakitan dan mengerang keras.
"Wow, amazing. Ternyata Rose sungguh tangguh soal kuda menguda," gumam Nicko.
"Sungguh kasihan sekali pria bertato itu, yang harus kalah."
"Apa mereka sedang melakukan reka adegan ulang?" Tanya granny.
"Maybe! Tapi mereka sungguh hebat, mobil sekuat itu bisa bergoyang, kita harus menyiapkan ranjang anti roboh," celetuk nenek Margaretha.
Para polisi hanya bisa menepuk kening mereka, sedangkan para wartawan merekam mobil itu dengan wajah tercengang.
"Apa kita harus memberi judul berita ini dengan, tragedi mobil bergoyang?"
__ADS_1
"Ide bagus,"