Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
pengumuman


__ADS_3

hai semua! kalau novel ini cepat tamat ☺️ uma akan bikin novel baru untuk kisah Lion dan Lolly white yang tentunya tidak kalah serunya.


insyaallah akan tayang Minggu depan ☺️


karena sekarang lagi cuti nulis 😁


sambil nunggu mampir di novel teman aku dulu yuk!


Blurb :


Ternyata mengikhlaskan seseorang yang sudah mengisi relung hati itu tidaklah mudah. Tidak segampang membalikkan telapak tangan. Meskipun bibir bisa mengucapkan "Aku baik-baik saja" tetapi sejatinya hati sedang remuk redam.


Brayan yang baru saja pulang ke Indonesia merasa terkejut, saat mendengar jika Nafisya ternyata telah di jodohkan oleh orang tuanya. Meskipun selama ini hubungan Brayan dan Nafisya layaknya tikus dan kucing yang tak pernah akur. Namun, dalam hati mereka menyimpan perasaan yang tak bisa diungkapkan. Rasa gengsi yang membubung tinggi, membuat keduanya harus terkurung dalam rasa penyesalan.


Apakah Brayan terima dengan kenyataan yang ada? Ikut kisah Brayan ya 🥰


Cuplikan Bab 1


Sebuah kebanggaan bagi seseorang bisa lulus dengan predikat Jayyid Jiddan di Universitas Al Azhar, Mesir.


Hampir 4 tahun lamanya seorang Brayan Albani Jalaluddin mengenyam pahit dan manisnya kuliah di kota Kairo. Jauh dari keluarga adalah hal yang sangat menyiksa dirinya. Namun, hari ini dengan perasaan berat Brayan harus meninggalkan tempat di mana dia menimba ilmu selama 4 tahun terakhir ini. Kerena setelah kelulusannya, Brayan akan langsung pulang ke Indonesia.


Hampir 13 jam berada di dalam sebuah pesawat membuat Brayan sangat bosan. Namun, rasa itu hilang saat dia bisa melihat kedua orang tua serta adiknya yang berada di sisinya. Kali ini kepulangannya ke Indonesia dijemput langsung oleh keluarganya.


Tidak ada yang berubah dari rumah yang sudah dirindukan oleh Brayan. Hanya saja ada beberapa kamar yang telah direnovasi, termasuk kamarnya.


Jika dulu Brayan tidur satu kamar dengan saudara kembarnya, maka saat ini kamar mereka telah dipisahkan atas permintaan Brayan sendiri. Dia tidak mau lagi berbagai kamar dengan adik yang hanya beda 2 menit dari dirinya.


"Ray, setelah ini kapan rencana mu?" tanya Agung, papa Brayan.


"Belum tahu Pa. Mungkin Rayan akan mengajar atau buka usaha," jawabnya.

__ADS_1


"Mending kamu jadi tenaga pengajar di pondok. Mama dengar disana sedang membutuhkan tenaga pengajar," celetuk Nuri, mamanya.


"Nantilah, Ma. Rayan pikir dulu."


"Ya sudah kalian berdua istirahat dulu. Mama juga ingin beristirahat, capek sekali," kata mamanya, yang kemudian berlalu meninggalkan kedua anaknya.


Briyan tak lantas masuk ke dalam kamar, melainkan mengikuti Rayan untuk masuk ke kamarnya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Rayan dengan dahi mengerut.


"Aku 'kan juga masih kangen," celoteh Riyan.


Rayan merebahkan tubuhnya di kasur besar diikuti juga dengan Riyan membuat Rayan menautkan alisnya.


"Aku tahu kamu adalah saudara kembar ku, tetapi tidak seperti ini juga Ri! Kenapa kamu mengikuti semua gerakan ku?" protes Rayan.


"Aku hanya ingin bernostalgia saja Ray, kamu tidak merindukan masa kecil kita? Baru juga 4 tahun berpisah, sudah melupakan semuanya!" gerutu Riyan.


"Ray, aku denger Fisya sudah di jodohkan oleh orang tuanya." Riyan mencairkan keheningan.


"Lalu?" sahut Brayan malas.


"Tidak ada. Aku hanya memberitahu mu saja. Semoga hatimu bisa lapangan," ucap Brayan.


"Aku tidak memiliki perasaan apapun kepada dia, untuk apa aku harus berlapang. Aku akan merasa bahagia jika telah telah menemukan jodohnya.


"Seharusnya kamu itu jodohnya Fisya! Aku dengar Fisya sempat menolak, tetapi pada akhirnya Fisya hanya bisa pasrah atas kehendak orang tuanya. Bahkan orang tua Fisya saja tidak tahu seluk beluk calon menantunya," imbuh Briyan.


Sebenarnya Brayan tertarik untuk bertanya lebih, tetapi dia segera menepisnya. Itu sama saja dia hanya akan menjatuhkan dirinya sendiri. Namun, dia juga penasaran ingin mengetahui bagaimana kabar perempuan itu.


Setelah Rayan memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di kota Kairo, Rayan sama sekali tidak pernah mendengar kabar berita perempuan yang disebut namanya oleh Riyan tadi. Bibir Rayan terasa keluh saat ingin mengucap nama Nafisya, satu-satunya orang yang akan menentang keras dirinya dalam segi apapun, meskipun itu benar.

__ADS_1


"Jadi apa hubungannya denganku?"


"Aku tidak tahu ada apa dengan kalian berdua. Tetapi aku yakin kalian memiliki hati yang sama, sama-sama ingin diperhatikan dan sama-sama suka cari masalah. Terlebih kalian juga sama-sama gengsi untuk mengakui perasaan kalian!" tandas Riyan.


Rayan menghela nafas kasarnya. Dia tidak percaya jika saat dirinya kembali, ternyata perempuan yang bernama Nafisya itu telah dijodohkan oleh orang tuanya. Antara rasa bahagia dan kesal beradu menjadi satu.


Semua orang juga sudah tahu bagaimana hubungan antara Brayan dengan Nafisya saat mereka masih duduk di Madrasah Aliyah.


Layaknya Tom dan Jerry yang tidak pernah akur. Akan ada saja bahan yang dipermasalahkan oleh keduanya, meskipun sebenarnya itu adalah masalah sepele.


Rayan hanya menarik kedua garis bibirnya saat mengenang masa-masa di mana dia masih duduk di bangku Madrasah Aliyah.


Empat tahun kini sudah berlalu, rasa rindu kepada teman-temannya pun tak terelakkan. Rayan berjanji setelah hari ini dia akan menghubungi satu persatu temannya dan akan mengadakan reuni bersama.


Semua anggota telah bersiap untuk melakukan makan malam. Moment ini telah ditunggu oleh sepasang orang tua yang merindukan momen seperti ini. Dimana mereka bisa berkumpul bersama.


Dengan penuh kasih sayang Nuri meladeni Rayan, bahkan dia hampir saja melupakan suaminya yang duduk termenung melihat pancaran bahagia dari raut wajah sang istri.


"Makan yang banyak!" seru mamanya sambil menyendokkan lauk ke piring Rayan.


"Sepertinya ada yang sudah dilupakan," sindir Agung.


Seketika itu Nuri menepuk jidatnya saat menyadari jika piring suaminya masih kosong.


"Astaga ... maaf Mas, lupa." Nuri tertawa kecil kemudian berpindah untuk meneladani suaminya.


"Apakah aku juga telah dilupakan?" celoteh Briyan yang ternyata terabaikan juga oleh mamanya.


"Hmm ... bilang saja iri," ejek mamanya yang kemudian juga melayani mengambilkan nasi serta lauk untuk Riyan.


"Nah ... ini baru adil," kelakar Riyan.

__ADS_1



__ADS_2