Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 13


__ADS_3

Davin yang sudah keluar dari ruangan khusus untuknya dan berjalan santai ke arah pintu gedung tersebut.


Dengan penampilan yang cuek, dengan celana panjang hitam yang robek di kedua bagian lututnya dengan di padukan kaos hitam yang Lengannya digulung, yang memamerkan tato di kedua lengannya.


Penampilan Davin pun disempurnakan dengan sebuah kalung rantai yang lumayan besar, gelang tangan hitam dan juga anting yang terdapat di telinga bagian kirinya.


Rambut coklatnya di sengaja dibuat berantakan yang menambah kesan cool pada pria cuek itu.


Davin berjalan tanpa mengindahkan keberadaan Mark di sana yang sedang menikmati gumpalan asap putih yang keluar dari mulutnya.


"Kau pergi, sekarang?" Tanya Mark, yang menahan langkah David.


"Menurutmu?" Tanya balik Davin dengan tidak acuh.


"Ck! Mark hanya bisa berdecak kesal mendengar ucapan Davin.


"Kau, akan kembali kesini?" Mark berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Davin keluar dari gedung tua tersebut.


"Entahlah!" Jawab Davin cuek yang kini sudah berada di dekat motor besar kesayangannya.


Mark hanya bisa menghela nafas panjang melihat sifat cuek sahabatnya itu.


Tanpa mengatakan apapun, Davin melajukan motor besarnya meninggalkan Mark sendiri di sana dengan wajah kesal.


"Dasar, manusia purba!" Maki Mark.


Pria itu lalu masuk kembali ke dalam gedung tersebut dengan mulut yang bersungut-sungut.



Davin sendiri kini melajukan motor hitamnya yang gagah di tengah  jalan kita los Angeles, yang begitu terik.



Davin mengajukan terik matahari yang begitu panas membakar kulit putihnya yang kini berubah kemerahan di bagian tangannya.



Helm full wajah itu dapat melindungi wajah tampan Davin dari paparan sinar matahari yang begitu terik.


__ADS_1


Tanpa memikirkan tangannya yang di penuhi tato itu berubah merah, Davin terus melajukan kuda besi gagahnya.



Tidak butuh waktu lama Davin, sudah tiba di sebuah kafe favoritnya yang merupakan kafe peninggalan sang mommy.


Davin memarkirkan motornya di sana dan disambut hangat oleh sang penjaga yang dengan sigap membuka pintu untuk putra semata wayang dari pemilik kafe yang terkenal itu.


"Dimana wanita tua, itu?" Tanya Davin dengan wajah cueknya, kepada salah satu writers disana.


"Di lantai atas, tuan muda," jawab sang writers sopan.


"Okay, thanks!" Ucap Davin sambil mengedipkan matanya dan tersenyum manis.


Writers wanita itu pun merona melihat kedipan nakal putra dari pemilik kafe terkenal di los Angeles tersebut.


Davin membuka pintu ruangan khusus itu yang terbuat dari kaca.


Ia hanya bisa menghela nafas saat netranya melihat wujud sang nenek yang begitu ia sayangi.


Dengan langkah santainya dengan sebuah tusuk gigi yang ada di mulutnya, Davin mendekati sang nenek, yang ternyata tidak sendiri.


Kedua wanita lanjut usia itu menoleh ke arah Davin dengan ekspresi wajah berbeda.


Wajah nyonya Margaretha dengan binar bahagia, sedangkan mata tua granny menelisik penampilan Davin dari atas sampai ujung kaki.


"Sangat jauh dari kriteria, cucuku," gumam granny Gabriela.


"Dia, cucumu?" Tanya granny dengan tatapan lekat masih ia tujukan kepada Davin yang kini sedang memeluk nyonya Margaretha.


"Yap, kenapa? Apa dia tampan?" Tanya nyonya Margaretha antusias.


"Apa, dia kurang bahagia di masa kecilnya?" Tanya granny yang masih memperhatikan Davin. Bukan, lebih tepatnya menghitung tato di tubuh pria itu.


Davin dan nyonya Margaretha mengerutkan dahi mereka mendengar ucap sarkas, granny.


"Memangnya kenapa?" Sahut nyonya Margaretha.


"Apa kau tidak melihat, tubuhnya penuh lukisan anak TK?" Seloroh granny Gabriela yang jari tuanya menunjuk ke seluruh tato Davin yang ada di tangan.


Davin membolakan matanya mendengar ucapan granny Gabriela, "apa katanya? Lukisan anak TK?" Batin Davin berteriak.

__ADS_1


"Ini namanya seni, Gabriela," jawab nyonya Margaretha.


"Apa dia tidak punya kegiatan lain, selain mencoret tubuhnya," decak granny.


"Ini —" nyonya Margaretha tidak dapat melanjutkan ucapannya saat kursi di samping ditarik kasar oleh sang cucu.


"Hey, gadis tua. Ini namanya seni, dan gaya anak jaman


 sekarang," ujar Davin menahan emosinya.


"Cih, kau seperti penjual lukisan jalanan," cibir granny.


"Apa?


"Lihatlah, bukankah, kau membawa gambar kemana-mana? Seperti penjual lukisan berjalan," ucap granny.


"K —" bentakan Davin terhenti saat melihat tatapan sang nenek.


Davin hanya bisa menarik nafas untuk mengontrol emosinya, menghadapi nenek-nenek.


"Dia, siapa?" Tanyanya kepada sang nenek.


Davin menajamkan matanya ke samping, saat sang nenek hanya terdiam.


"Jangan, bilang dia yang nenek jodohkan, denganku!" Pekik Davin dengan wajah shock.


"Pletak"


Sebuah sendok melayang dan mengenai hidung mancung Davin.


"Stt, sial," ringis dan umpat Davin.


"Dasar anak muda laknat," bentak granny.


"Kau, pikir aku akan menolak, kalau kau mau menikah denganku," sungut granny.


Nyonya Margaretha menganga mendengar ucapan sahabatnya, sementara Davin hanya bisa bergedik.


"Dia, Cucumu yang waktu kecil berwajah jelek itu kan? Aku tidak percaya dia setampan ini, padahal waktu kecil dia sangat jelek dengan cairan lengket di hidungnya," pungkas granny.


Perkataan granny Gabriela, sontak membuat Davin menganga tidak percaya, sedang nyonya Margaretha hanya bisa tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2