
Hening. Seluruh karyawan, Kim dan Rose terdiam mendengarkan teriakan Sisil.
Sisil tampak tersenyum penuh kemenangan, saat melihat wajah terkejut Rose, tapi, tidak dengan Kim yang menampilkan senyum miringnya yang mengerikan.
Membuat kesombongan Sisil menciut. Ia memundurkan tubuhnya saat Kim melangkah mendekatinya.
"Apa kau percaya dengan wanita, ini?" Kim menoleh ke belakang dan bertanya kepada putrinya.
Rose tampak terdiam dan ia pun menggeleng dengan senyum miringnya.
"Bagus! Kalau kau tidak percaya dengan ucapan wanita, ini," Seloroh Kim yang kembali menatap Sisil. Bahkan mengelilingi tubuh wanita itu yang terlihat menciut.
"Apa kau yakin sedang hamil benih, menantu ku?" Tanya Kim yang mengelilingi tubuh sintal Sisil deh kedua tangannya terlipat di dada.
Sisil nampak mengangkat wajahnya dengan memberanikan dirinya untuk melawan rasa takutnya.
"Iya! Aku sedang hamil anak dari, Davin!" Jawab Sisil tegas.
"Kau, yakin nona?" Tanya Kim sekali lagi.
"Sangat yakin, dan kami sering bercinta dimana dan kapanpun," ucap Sisil dengan tersenyum ke arah Rose. Mencoba memancing emosi Rose, tapi yang ia dapat hanya senyum sinis dan wajah biasa saja.
"Hm! Gumam Kim.
Dengan tatapan tajam menelisik penampilan Sisil dengan seksama dan terlihat mengendus aroma yang sangat ia kenali berasal dari tubuh Sisil.
"Berapa bulan?" Tanya Rose santai.
__ADS_1
Sisil tampak bergeming dengan tangan mengepal erat. Dia harus menjawab apa? Dia pun tidak menyiapkan jawab itu. Wanita itu hanya spontanitas saja tadi.
"D – dua bulan," jawab Sisil gugup.
"Benarkah!" Sela Kim yang lebih mendekatkan wajahnya ke tubuh Sisil.
"I – iya," jawab Sisil segera.
"Apakah, kau tahu? Kalau wanita hamil tidak bisa mengkonsumsi minuman beralkohol tinggi? Apalagi jenis minuman yang kau konsumsi, akibatnya akan membuat janin mu hilang dalam beberapa jam," terang Kim dengan wajah datar.
"Mengkonsumsi alkohol dan bercinta semalam bisa, membuatmu keguguran nona, dan bahkan kehilangan, nyawa," sambung Kim dengan senyum miring terpatri di bibirnya.
Sisil hanya bisa membeku di tempatnya dengan raut wajah pias dan memucat.
Dia terkejut mendengar keterangan wanita setengah baya di hadapannya.
Dengan penuh keberanian, Sisil memberanikan dirinya menjawab ucapan Kim.
"Itu karena hormon, kehamilan. Yah hormon kehamilan," tutur Sisil.
"Dengan bercinta dengan pria lain?! Tanya Rose tidak percaya.
Lagi, Sisil hanya diam dan bungkam seribu bahasa. Ternyata dirinya salah memulai dengan masalah pura-pura hamil.
"Denyutan nadi di lehermu pun deru nafasmu, menyakinkan ku, kalau kau tidak sedang hamil, nona," terang Kim lagi.
"Apa, perlu kita memanggil dokter, mom?" Timpal Rose.
__ADS_1
"Ide bagus." Kim tersenyum sinis melihat wajah pucat Sisil.
"Atau nona ingin aku yang memeriksa? Dengan senang hati, aku akan membelah perut indahmu, ini," bisik Kim, yang membuat tubuh Sisil meremang seketika dengan genggaman tangan yang mulai bergetar.
"Bawa, dia!" Perintah Kim, kepada anak buahnya.
"T – tidak perlu," tolak Sisil.
"Aku, bisa sendiri," cicitnya dengan nada getar.
"OH tidak semudah itu, nona. Anda sedang mengandung anak dari suamiku, jadi, kau harus diperiksa dengan bantuan, mommy," bisik Rose dengan seringai licik.
"TIDAK! LEPASKAN AKU! Teriak Sisil sambil mencoba memberontak, ketika di bawah paksa oleh anak buah Kim.
"LEPASKAN, AKU WANITA, SIALAN!"
"AKH" Sisil pun diseret keluar dengan kasar, entah kemana dia akan di bawah, yang tentu saja dia akan dibuang jauh-jauh oleh Kim. Agar kehidupan pernikahan putri tidak terganggu oleh bibit pelakor.
Rose menatap sang mommy yang mana Kim juga menatap horor ke arah sang putri.
"Kau, harus lebih gesit menyingkirkan para ulat keket," pungkas Kim.
"Hm! Rose hanya bergumam dan mengikuti langkah sang mommy memasuki lift.
Kedua wanita dengan tampilan sama, wajah yang begitu mirip, hanya usia yang membedakan mereka.
Para karyawan pun membubarkan dirinya dengan mengutuk dan mencibir wanita seperti Sisil.
__ADS_1
Wanita rubah buruk rupa yang begitu terobsesi dengan Davin. Lebih tepatnya, harta keluarga Davin.