
2 tahun berlalu setelah acara pernikahan Rose gagal, kini wanita mandiri dan tangguh itu telah bangkit kembali dari masa lalunya.
Ia kini hidup dengan menyibukkan diri dengan prestasinya di dunia bisnis.
Rose sudah menutup rapat hatinya dari para kaum Adam dan juga tidak menginginkan sebuah komitmen.
Rose seakan tidak lagi mempercayai yang namanya cinta dan pernikahan.
Rose menganggap hubungan serius itu adalah sebuah kisah bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan.
Rose kini lebih menyibukkan dirinya di dunia bisnis, yang mana menjadikan dirinya lebih sukses dan dikenal di seluruh kalangan pebisnis di seluruh dunia.
Rose pun menjadi seorang wanita yang sangat sulit disentuh dan dicapai oleh kaum Adam.
Banyak yang mencoba untuk mendekati Rose. Namun wanita itu menutup dirinya dan membatasi dirinya untuk bertemu atau berkenalan dengan pria.
Wajah Rose pun kini semakin datar dan dingin.
Ia hanya menampilkan sikap profesionalnya di setiap meeting dengan klien.
Tanpa melayani atau menyahuti para rekan bisnisnya yang terang-terangan menginginkannya.
Kadang Rose pun meninggalkan meeting, apabila ia mulai jengah atau ia akan mempermalukan rekan bisnisnya yang keluar dari batas normal saat menggoda dirinya.
Yang jelas, Rose kini sosok wanita yang tidak mudah disentuh ataupun di dekati.
Rose kini lebih memilih tinggal di negara sang granny di Amerika.
Menemani granny Gabriela yang semakin menua, namun masih terlihat aktif.
Rose memimpin perusahaan sang daddy dan juga bisnis agensi sang mommy.
Apakah Rose bisa memimpin dua perusahaan sekaligus?
Tentu saja bisa, dia adalah Rose light Kato, wanita karier di dunia bisnis yang patut diacungi jempol.
Wanita mandiri, cerdas, tangguh, dan penuh kepribadian menarik.
"Kau berangkat sekarang, sayang?" Sosok wanita tua yang rambutnya kini dipenuhi uban itu, bertanya kepada cucunya yang baru turun dari kamarnya.
"Pagi granny, sayang," sapa Rose sambil mencium kedua pipi granny Gabriela, tanpa menjawab pertanyaan granny nya.
"Pagi juga, sayang," balas granny Gabriela.
Rose duduk di kursi makan di samping granny Gabriela.
Kepala pelayan di mansion granny Gabriela pun dengan sigap melayani majikan nya.
"Terimakasih, paman," ucap Rose lembut.
__ADS_1
"Sama-sama, nona," sahut paman Okawa, kepala pelayan granny Gabriela
"Ini masih pagi, Rose!" Seru granny.
"Aku ada meeting penting, granny," jawab Rose tidak acuh, sambil menyantap Sarapannya.
"Kau, juga butuh refreshing, nak," ujar granny Gabriela sambil menghela nafas.
"Aku tidak suka menyia-nyiakan waktuku, dengan yang tidak penting, granny," sahut Rose.
Granny Gabriela menatap sendu kepada cucunya dan iapun menarik nafas.
"Kau sudah berumur 26 tahun, sayang, sudah waktunya kau memikirkan hidupmu sendiri. Jangan biarkan masa lalu mu membuat mu kesepian, nak," imbuh granny Gabriela lembut, mencoba menasehati cucunya.
"Aku tidak kesepian, aku punya kalian," sahut Rose cuek.
Kembali granny Gabriela menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan.
"Aku berangkat, granny," pamit Rose, tanpa menyahuti nasehat granny nya.
Rose menggeser kursi makanannya kebelakang, ia lantas bangkit dan berjalan meninggalkan ruang makan.
Granny Gabriela hanya bisa menatap sang cucu dengan tatapan sendu, ia sangat mengkhawatirkan nasib percintaan para cucu-cucunya, yang masih betah sendiri.
"Kapan aku bisa menimang cicit ku, kalau seperti ini," gumam granny Gabriela.
Granny Gabriela pun menengadahkan tangannya kepada kepala pelayannya.
Kepala pelayan itu pun segera menyerahkan, ponsel sang nyonyanya dengan tubuh setengah membungkuk.
Granny Gabriela lantas mencari kontak telepon di ponselnya, setelah granny Gabriela menemukan nomor yang ia cari, wanita tua itu langsung melakukan panggilan telepon.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, panggilan telepon granny pun dijawab oleh seorang wanita di seberang sana.
"Halo, kau dimana?"
" …
"Temui aku ditempat biasa,"
" …
"Aku ingin membicarakan, soal cucu laki-laki mu,"
" …
"Hm!
"Temui aku secepatnya,"
" …
"Hm, baiklah."
" …
"Tut"
Granny Gabriela menutup panggilannya dan menyerahkan kembali ponselnya kepada paman Okawa.
Granny Gabriela berdiri dari kursi makan dan berjalan dengan hati-hati ke arah kamarnya.
"Temani aku keluar!" Perintah granny Gabriela.
"Baik nyonya, besar," jawab paman Okawa.
__ADS_1
"Maaf sayang, sepertinya, granny harus melakukan ini," gumam granny Gabriela.