Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 65


__ADS_3

Pasangan suami-istri itu kini, berbaring di ranjang ruangan istirahat Rose.


Saling berpelukan, setelah melakukan aktivitas menyenangkan di sore hari dengan suasana yang begitu Romantis, yang di saksikan cahaya langit sore.


Kini keduanya saling memejamkan mata, namun, Davin terlihat mengusap-usap permukaan kulit punggung istrinya yang berada di pelukannya.


Tubuh mereka pun masih polos yang hanya ditutupi selimut lembut yang ada di ruangan istirahat Rose.


"Hg! Terdengar lenguhan halus di balik dada bidang Davin, dan tak lama kemudian, wanita yang ada di pelukan Davin menggeliat.


"OH, astaga!" Seru Rose dengan suara tersentak kaget.


Ia segera melepaskan diri dari pelukan suaminya yang menatapnya heran.


"Ada apa, baby?" Tanya Davin yang juga ikut bangun dari tidurnya dan bersandar di belakang ranjang.


"Sorry, honey. Aku baru ingat, kalau malam ini aku harus menghadiri undangan pesta ulang tahun, klienku." Rose yang ingin melangkah ke arah kamar mandi, kembali ke sisi suaminya, Rose meminta maaf dan menjelaskan kepada Davin yang masih mengerutkan dahinya.


"Aku, ingin membersihkan tubuhku, dulu." Rose pun mengecup seluruh wajah suaminya dan berjalan ke arah kamar mandi.


"Honey!" Tiba-tiba Rose menyembulkan kepalanya dari balik kamar mandi dan memanggil sang suami.


Davin yang ingin kembali merebahkan tubuhnya, terhenti dan segera mengalihkan pandangannya kepada Rose.


"Hm! Gumam Davin lembut.


"Kau mau, ikut?" Tanya Rose dengan tatapan penuh harap.


"Ikut?! Davin membeo dengan pikiran yang kini berfantasi liar, ia membayangkan bercinta dengan sang istri di dalam kamar mandi.


"Yap, ikut bersamaku ke acara pesta," sahut Rose yang membuyarkan imajinasi suaminya yang berharap mampu melumpuhkan sang istri di dalam kamar mandi.


Dengan wajah kecewa, Davin mengangguk, dan Rose kembali menutup pintu kamar mandi.


"Khayalan indah yang sia-sia," lirih Davin dengan mata melirik ke arah benda keramatnya.


Davin kembali ingin merebahkan tubuhnya namun, lagi-lagi sang istri menghentikan gerakannya.


"Honey, mau ikut?" Tanya Rose dengan mata berkedip.


Dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya, Davin segera mengibaskan selimut yang menutupi tubuh polosnya dan berlari pelan ke arah kamar mandi.


"Akhirnya, yes!" Sorak Davin dalam hati.


"Brakk!"


Dengan kasar Davin menutup pintu kamar mandi, dan kini Terdengar lenguhan lembut dan desahaan dari balik kamar mandi.


"No, honey, aku sedang terburu-buru," terdengar suara Rose dari balik kamar mandi.


"Sekali dan sebentar saja, baby, please." Davin terdengar memohon.


"Honey!" Rose terdengar berteriak kencang.


"Ini dalam keadaan emergency, bathroom, baby." Suara Davin seperti seseorang yang menahan beban yang sangat berat dan berganti eraang nikmaat.


Rose pun kembali terdengar mendesis dan melenguh lembut.


Bukankah hanya suara mereka yang terdengar, kini suara kecupan pun ikut terdengar dan juga suara penyatuan, antara benda persegi memanjang dan benda melempem yang terdapat lubang kecil yang merupakan arah jalan si persegi memanjang menuju arah yang tepat.


______


"Serius?! Davin terdengar berseru tidak percaya saat melihat tampilan sang istri.

__ADS_1


"Kau, mengenakan gaun, ini?! Tanya Davin menyakinkan dirinya.


"Kenapa? Apakah buruk? Tapi, ini sangat nyaman?" Jawab Rose yang sibuk membolak-balikkan tubuhnya di depan cermin.


"Tapi, tidak nyaman buatku," gerutut Davin yang kini berada di belakang sang istri.


"Why?"


Rose menatap suaminya dari pantulan cermin dengan wajah bingung.


"Bukankah, kau mengatakan semua yang ada pada dirimu adalah, milikku?" Bisik Davin yang kini memeluk tubuh indah istrinya dari belakang.


Rose mengangguk dengan tersenyum manis kepada suaminya melalui pantulan mereka di dalam cermin.


"Tapi aku, tidak ingin berbagi milikku dengan orang lain, meskipun itu hanya memandangi, wajah dan tubuh ini." Davin mengecup leher panjang Rose yang terekspos begitu saja dan juga jari-jarinya kini menyusuri kulit mulus Rose di belakang yang pun terbuka hingga ke punggung bagian bawah.


"Apa kau mengerti, baby?" Lirih Davin di balik punggung Rose dengan suara berat, ia menghirup rakus aroma lembut dari kulit istrinya menggunakan hidung mancungnya.


Rose hanya bisa memejamkan matanya yang menikmati sentuhan Davin, suaminya yang kini masih sibuk mengecup seluruh kulit punggung putihnya.


"Stop, honey! Sentak Rose yang menghentikan pergerakan tangan Davin yang ingin menurunkan resleting gaunnya.


"Aku, hanya membantumu membukanya, baby," elak Davin dengan kekehan licik.


"Ck! Kau akan membutuhkan waktu lama," ketus Rose dengan wajah cemberut.


Davin tertawa mendengar perkataan ketus sang istri, ia lalu melorotkan gaun istrinya begitu saja.


"Okay, kali ini aku akan melepaskanmu, cup." Davin melepaskan pelukannya dari tubuh Rose sebelum melangkah ke arah sofa dengan tubuh bagian atasnya masih polos.


"Honey, kenakan pakaian mu!" Seru Rose tanpa melihat sang suami.


"Hm! Davin hanya bergumam dan menuruti perintah wanitanya.


Ia meraih tote bag berwarna putih yang berisikan sebuah kemeja putih dan jas modern.


"Hey, tuan!" Rose meraih kerah baju Davin dan menariknya ke arahnya.


"Apa kau ingin memamerkan, ini kepada wanita di sana?" Rose menyentuh dada Davin yang sengaja diperlihatkan dengan membiarkan kancing kemejanya terbuka dua.


Davin hanya tersenyum dan menghadiahi Rose kecupan di bibirnya yang mencebik kepadanya.


"Berhentilah, kau merusak warna bibirku," sungut Rose.


"Manis dan lenggit."


"Cih!" Rose hanya berdecak sambil merapikan kemeja dan jas suaminya.


"Okay, sip." Rose merasa puas setelah merapikan pakaian Davin.


"Ayo!" Ajak Rose sembari menatap jam tangannya dan meraih tas tangan mewah miliknya.


Rose pun berjalan terlebih dahulu mendekat ke sofa, membuka sebuah kota berukuran besar dengan bertuliskan nama merek terkenal di dunia fashion.


Rose meletakkan High heels berwarna hitam itu di depannya dan bermaksud mengenakannya.


Tapi terlihat tangan kekar meraih high heels tersebut dan memasangkannya.


Rose menciumi pelapis suaminya yang kini berjongkok di depannya sambil sibuk memasang pengait high heels nya.


"Sudah!" Seru Davin mendongakkan kepalanya dengan senyum terbaiknya.


"Thank you," lirih Rose dengan tatapan mata penuh kagum dan cinta.

__ADS_1


Davin membalas senyuman wanitanya dan segera berdiri, mengulurkan tangannya kepada Rose.


Segera saja Rose membalas uluran tangan sang suami, dan berjalan ke arah pintu kamar istirahat Rose.


Davin berhenti sejenak di depan meja kerja istrinya, meraih tas kerja Rose dan membawanya dengan sebelah tangan menggenggam erat telapak tangan sang istri.


Pasangan suami-istri itu pun berjalan keluar dari ruangan Rose, menuju lift khusus pemilik perusahaan tersebut.


________


"Hey, ladies!" Nicko yang terlihat tampan dengan setelan jas santai membungkus tubuh jangkungnya itu, menyapa para wanita paruh baya yang sedang menunggu seseorang.


"Granny sudah, siap?" Dari arah belakang Nicko, seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi atletis dengan kulit putih susu khas orang Jepang.


"Hm! Apa kabar dengan Rose? Kenapa dia belum, kembali?" Rentetan pertanyaan granny berikan kepada kedua pria yang duduk di hadapannya.


Nicko dan Lion hanya mengedikkan bahu mereka dengan tidak acuh.


"Aku, tadi mencoba menghubunginya," sela Nicko.


"Apa katanya?" Dengan wajah khawatir dan penasaran, granny menatap Nicko.


"Cepatlah, bodoh!"sentak granny tidak sabar.


"Bersabarlah, granny. Ingat, umurmu yang mencapai akhir hayat," sahut Nicko.


"Pletak! Dan melayanglah sandal berkilau granny di kening Nicko dengan jalan mulus tanpa hambatan.


"Dasar, cucu laknat," pekik granny geram.


"Stt," Nicko terdengar mendesis kesakitan sambil mengusap keningnya.


Lion hanya melirik sinis Nicko dan menyerahkan kembali sandal berkilau granny.


"Dia mengangkatnya, tapi, …." Nicko menghentikan perkataannya dengan wajah bingung untuk menjelaskan apa kepada kedua wanita tua di depannya.


"Tapi, apa?" Tanya ketiganya dengan wajah penasaran.


"Aku, hanya mendengar, …." Nicko menghentikan lagi ucapannya.


"Mendengarkan, apa?" Lagi, ketiganya kini menatap Nicko dengan wajah penuh penasaran, nenek Margaretha bahkan berpindah tempat di samping Nicko.


"Mendengar, suara, …." Lagi-lagi, Nicko menggantungkan ucapanya yang membuat, granny, nenek Margaretha dan Lion, geram.


"Suara apa, bodoh!" Pekik ketiganya.


Nicko tanpa berpikir, ucapan apa yang tepat untuk menirukan suara yang samar-samar ia dengar tadi sewaktu granny meminta menghubungi Rose.


"Cepatlah, Nicolas Peter." Kembali ketiganya menyentak Nicko.


Nicko terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah bingung.


"Suara, ceplok, ceplok, ceplok," sahut Nicko pelan.


"Ceplok-ceplok?! Ketiganya pun membeo bersamaan dan saling pandang.


"Apa, mereka sedang mengaduk telur?" Tanya nenek Margaretha.


"Mungkin!" Timpal Lion jengah.


"Hm! Mereka sedang melakukan proses pembenihan dengan gaya, ceplok-ceplok," Seloroh granny yang segera bangkit dari duduknya.


"Ayo kita berangkat!" Ajak granny Gabriela dengan wajah biasa saja.

__ADS_1


Sementara, nenek Margaretha, Lion dan Nicko memasang wajah bingung mereka.


"Pembenihan, ceplok-ceplok?"


__ADS_2