
Hari sudah memasuki malam, itu terlihat dari warna langit yang tadinya berwarna kuning cerah kini berganti menghitam ke abu-abuan.
Sebagian orang kini sudah pulang dari aktivasi mereka seharian di awal pekan ini.
Namun tidak dengan Rose dan Davin, yang masih berada di kantor polisi, tepatnya di ruangan pemeriksaan.
Mereka masih mencoba menjelaskan kepada para petugas, kalau semua itu hanya kesalahpahaman semata.
Keduanya mengaku kalau mereka sedang bertengkar tentang suatu hal.
Dan yang dituduhkan oleh masyarakat kota Los Angeles, adalah hoax pun berita yang kini viral tentang 'mobil bergoyang di pinggir jalan raya los Angeles'
Namun keterangan keduanya kurang memuaskan para polisi yang meminta keterangan keduanya.
Terpaksa, Rose dan Davin menghubungi para wanita tua mereka. Siapa lagi kalau bukan nyonya Margaretha dan granny Gabriela.
Rose dan Davin kini duduk berjauhan di dalam ruangan pemeriksaan.
Mereka duduk dengan gaya mereka sendiri. Rose duduk dengan masih gaya elegan nya, sedangkan Davin duduk dengan kedua kakinya terbuka dan meletakkan kedua sikunya di atas paha kerasnya.
Mereka saling terdiam membisu dan saling memalingkan wajah.
Davin yang menikmati gumpalan asap yang keluar dari mulutnya sambil menengadah ke atas.
Sedangkan Rose yang sibuk dengan ponsel mahalnya, ia terus menyibukkan jari-jarinya di atas layar ponselnya, untuk menghapus berita viral tentangnya.
Bisa gawat kalau sampai mommy dan daddy nya tahu, maka hidupnya akan menjadi cercaan sejuta pertanyaan dari kedua orang tuanya.
Davin menghempaskan punggung lebarnya di sandaran kursi dengan kasar, sehingga menimbulkan bunyi yang mengganggu konsentrasi Rose.
Rose memicing ke samping, di mana Davin duduk dengan kedua kaki terbuka.
"Cih! Pria urakan tidak tahu aturan, serampangan," gumam Rose pelan.
Ia pun kembali fokus kepada ponselnya, dan mencoba menghubungi para bawahnya untuk mengurusi berita viral tentangnya.
"Kau mengumpat ku, wanita, salju?"
Rose tersentak kaget saat tiba-tiba bisikan Davin berada tepat di telinganya," kapan pria berdaki ini berpindah?" Batin Rose sambil mengusap dadanya.
"Kau tidak perlu memperlihatkan dada jelekmu itu, karena aku tidak akan tertarik," celetuk Davin dengan tatapan ke arah dada Rose yang memperlihatkan asetnya yang begitu menggiurkan.
Nampaknya ucapan Davin tidak sinkron dengan pandangan matanya pun hatinya, nyatanya dia masih betah memperhatikan aset indah Rose.
"Glek! Davin pun dengan susah payah menelan ludahnya.
"Jaga matamu, sialan!" Ucap Rose dengan nada penuh peringatan, ia pun menjauhkan wajah Davin dengan telunjuknya.
"Ck! Aku tidak tertarik elaknya, nyatanya dia masih melirik benda lunak milik Rose.
"Really?" Rose kembali menghentikan kegiatannya dan menatap Davin dengan penuh maksud.
__ADS_1
"Hm! Punyamu tidak ada menariknya dan ditambah kau wanita kaku," cibir Davin yang segera bangkit dan kembali ke tempatnya.
Rose pun tersenyum licik ke arah Davin, ia mempunyai sebuah ide untuk mengusili Davin.
Tidak ada salahnya ia mencari hiburan dengan menjahili seseorang.
"Kita lihat saja," lirih Rose dengan senyum misteriusnya.
Davin yang melihat senyum Rose, mengernyit bingung, Davin hanya bisa mencibir dan menatap Rose jengah.
"Dasar wanita, sinting!" Batin Davin mencibir.
Rose meletakkan ponselnya dan berjalan ke arah toilet yang terdapat di ruangan itu, kebetulan mereka hanya berdua, sambil menunggu pihak keluarga masing-masing.
Davin hanya melirik sekilas Rose yang melintas di hadapannya sambil menyesap minuman hitam pekat yang rasanya ada pahitnya banyak (kopi hitam).
Davin hanya mencebikkan bibirnya dan kembali menyesap minuman hitam di dalam cangkir putih yang ia minta tadi kepada sang petugas kepolisian.
Davin masih menikmati minuman pahitnya dengan begitu nikmat dan penuh penghayatan.
Sambil memejamkan matanya ia menghirup dalam-dalam aroma kopi tersebut.
"Byur"
"Huk, huk, hukh,"
Davin menyemburkan minumannya dan terbatuk-batuk.
Ia mengikuti langkah Rose yang melintas di hadapannya yang masih terbatuk-batuk.
Dadanya tiba-tiba berdetang kencang dan sesuatu di dalam sana bergemuruh hebat.
Tubuhnya memanas yang seakan siap untuk menerkam wanita yang berada empat langkah di dekatnya.
Rose hanya bisa tersenyum puas dengan respon Davin melihat penampilannya yang hanya menggunakan bra dan celana jeans nya.
Ia juga sengaja menggulung rambutnya tinggi yang memperlihatkan leher panjangnya yang putih dan seksi.
Dengan perlahan Rose duduk dengan gaya menggoda, ia bahkan sengaja membungkukkan badannya ke arah Davin, memperlihatkan dua asetnya yang tanpa spasi itu.
__ADS_1
Jangan tanyakan wajah Davin yang tersiksa dengan penampakan indah di samping.
Dadanya kini bergemuruh cepat seperti orang yang habis melakukan lari maraton.
Rahangnya mengeras dan giginya saling bergesekan, ia mengepalkan tangannya dan mencoba memalingkan wajah, namun sial, pemandangan di samping terlalu indah untuk diabaikan begitu saja.
Davin bangkit dan mendekati Rose. Dengan kasar Davin mendorong tubuh Rose kebelakang dan membungkukkan tubuh tingginya.
Dengan nafas berat Davin mendekatkan wajahnya ke wajah Rose.
Hidung mancung keduanya saling bersentuhan dan Davin menempelkan kening mereka.
Rose mendongak wajahnya dengan mata terpejam, menikmati aroma kopi bercampur bau tembakau dari mulut Davin.
"Kau mencoba menggodaku, hm!" Bisik Davin dengan suara berat.
"Bukankah, kau mengatakan tidak akan tergoda," balas Rose dengan diakhiri kekehan mengejek.
"Apa kau lupa, kalau aku adalah pria normal yang sangat berbahaya?" Bisik Davin yang kini menggesekkan hidung mancungnya di seluruh wajah Rose.
"Kau akan hancur bila berani menyentuhku," sahut Rose sengit penuh ancaman.
"Aku tidak pernah takut, nona," jawab Davin yang kini menyusuri belakang telinga Rose.
"Menyingkirlah!" Perintah Rose dingin.
"Kau, harus bertanggung jawab, nona," bisik Davin berat dan nafas memburu.
"Lepaskan, sialan!"
"Aku memperingati mu, LEPASKAN,"
Davin pun tidak menghiraukan teriakan Rose, ia kini bersiap untuk kembali merasai bibir seksi wanita di hadapannya, yang sudah berani memancing jiwa liarnya sebagai pria normal.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!
"GRANNY!
"Nenek?!
__ADS_1