Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 63


__ADS_3

"Hay, nona." Davin menghentikan langkahnya saat berada di depan meja kerja sekretaris Rose.


Rose ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, dimana, suaminya dan sekretaris pribadinya saling bertukar sapa.


"Kemana yang tadi saya, serahkan kepada anda, nona?" Tanya Davin ramah dan sopan.


Rose menatap tidak suka interaksi suaminya dan sang sekretaris.


Sekretaris Rose pun menunduk seketika, karena tatapan horor sang nona boss.


"T – tuan menitipkan, sesuatu kepada saya, nona," jawab sekretaris Rose gugup.


Davin menoleh ke depan di mana istrinya mendelik ke arahnya.


"Dimana anda menyimpannya, nona?" Tanya Davin lagi dengan tersenyum manis, sambil melirik sang istri yang terlihat menahan amarah.


Jangan tanyakan wajah wanita yang diajak Davin berbicara, ia seakan ingin menghilang saat ini juga, saat merasakan hawa mencekam dari sang bos arogan yang kini menajamkan matanya ke arahnya.


"D – di ruangan, n – nona," sahut sekestaris Rose dengan segera.


Davin hanya bisa menahan tawanya, melihat wajah marah sang istri.


"LISA. KAU DIPINDAHKAN KEBAGIAN PEMASARAN!" sentak Rose dengan nada suara lantang dan segera membuka pintu ruangan dan menutupnya kasar.


Membuat Davin dan sang sekretaris tersentak kaget.


Davin masih memamerkan senyum ramahnya kepada sekretaris istrinya yang nampak gelisah.


"Jangan khawatir, saya akan berbicara, dengannya," ucap Davin mencoba menenangkan wanita di hadapannya.


Wanita itu pun hanya bisa mengangguk penuh harap, karena jujur, ia sendiri sudah merasa nyaman menjadi sekretaris Rose.


______


Davin mendekati Rose yang sedang berdiri di sudut ruangan dengan memandangi, bangunan tinggi menjulang yang berbaris di kota Los Angeles. Ruangan Rose hanya berdindingkan kaca tebal yang bisa menikmati hiruk pikuk ramai kota Los Angeles.


Davin melingkar kedua tangan kekarnya di pinggang ramping Rose yang dibalut jas wanita berbahan lembut.


Davin juga menghadiahi sang istri dengan kecupan hangat di pipi dan tengkuknya.


Rose masih terlihat kesal dengan kedua tangannya di lipat di dada.


"Kau terlihat akrab, dengannya," ketus Rose dengan wajah kesal.


Davin terdengar terkekeh sambil mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di pundak indah sang istri.


"Kau, terlihat menggemaskan saat, cemburu," bisik Davin tepat di samping telinga Rose.


Rose menoleh ke samping dengan tatapan tajam dan bibir mencebik.


"Cup"


Davin pun menghadiahi kecupan di bibir kesal sang istri dan menyesapnya sebentar.

__ADS_1


"Siapa, yang cemburu," sahut Rose dengan memalingkan wajahnya segera.


"Jadi, kau tidak cemburu aku dekat, dengan wanita lain?" Tanya Davin sambil membalikkan badan istrinya.


"T – tidak," jawab Rose terbata dengan pandangan mengarah ke samping.


"Really?" Tanya Davin lagi dengan alis terangkat sebelah.


Rose hanya terdiam dengan pandangan masih ke samping, tapi sesekali melirik suaminya.


"Kalau begitu, aku bisa mendekati, wanita manapun," ujar Davin, yang sukses membuat mata Rose melebar dan menajam ke arahnya.


"Terserah!" Sentak Rose yang bertambah kesal.


"Menyingkirlah," ia lalu mendorong Davin ke samping yang menghalangi jalannya, menuju sofa.


Davin tersenyum penuh kemenangan, ia lantas meraih tubuh Rose dan mengangkatnya naik ke gendongannya.


"Turunkan, aku!" Pekik Rose yang secara refleks melingkarkan kakinya di pinggang keras suaminya dan kedua tangannya dilingkarkan di leher.


Davin tidak menghiraukan pekikan istrinya, pria itu membawa istrinya ke arah sofa dengan menciumi bibir sang istri berkali-kali.


"Kau, menyebalkan," ketus Rose yang kini duduk di pangkuan suaminya.


"Kau, mau kemana, sayang?" Davin menahan pinggang ramping Rose saat wanita itu hendak turun dari pangkuannya.


"Aku lapar," jawab Rose ketus.


"Tunggu disini," perintah Davin.


"Tap, …."


"Cup, diam dan tunggu disini!" Pinta Davin dengan mengecup bibir Rose sekali lagi.


Rose pun menurut dengan bibir yang terlihat maju kedepan, dan mendelik kepada sang suami.


_______


"Makanlah!" Suruh Davin lembut, sambil meletakkan sebuah piring putih yang tersaji sebuah daging steak kesukaan Rose.


Rose menatap makanan yang disajikan suaminya dengan tatapan berbinar.


Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Davin dengan mata memicing.


"Aku membuatnya, spesial untukmu," ujar Davin, sambil mengambil kembali piring yang ada di hadapan Rose dan memotong kecil-kecil daging steak tersebut.


"Benarkah?! Sentak Rose dengan nada tidak percaya.


"Hm! Makanlah, baby!" Ucap Davin lembut dan memberikan piring berisi daging steak yang sudah dipotong-potong kepada istrinya.


Rose bagaikan seorang anak kecil yang menuruti perkataan sang daddy, menikmati masakan yang disajikan suaminya.


Davin pun dengan setia menemani istrinya menghabiskan makanannya, dengan sesekali membersihkan sudut bibir Rose yang tertinggal bekas makanan.

__ADS_1


Davin juga seperti seorang ibu yang meyakinkan sang istri menghabiskan makan siangnya dengan nikmat.


"Bagaimana? Apakah, enak?" Tanya Davin sambil membersihkan sudut bibir Rose yang tertinggal bekas saus tomat menggunakan jari jempolnya lalu mengarahkan ke mulutnya dan menjilatnya.


"Hm! Gumam Rose sambil mengunyah makan siangnya yang merupakan suapan terakhir.


"Kau suka?" Tanya Davin kembali dengan menyerahkan segelas air putih kepada istrinya.


"Suka," sahut Rose dengan nada suara kegirangan.


"Baiklah, aku akan memasaknya setiap hari, untukmu," ucap Davin yang kembali membersihkan bibir istrinya menggunakan tissue.


"Really?" Sahut Rose kegirangan.


"Hm! Gumam Davin dengan kepala mengangguk.


"Terima Kasih," ucap Rose tulus.


"Tidak masalah, selama itu untukmu," jawab Davin sembari membersihkan bekas makanan istrinya.


"Kembalilah bekerja, aku akan pergi," ujar Davin yang bangkit dari sofa, membawa piring bekas makan istrinya ke pantry mini yang ada di ruangan Rose.


Mendengar ucapan suaminya, Rose pun ikut berdiri dan bergerak mengikuti suaminya.


"Kau, tidak ingin menemaniku?" Rose berdiri di samping Davin yang sedang mencuci bekas piring makan siang sang istri.


Davin menghentikan pergerakan tangannya dan menoleh ke samping di mana Rose menatapnya penuh harap.


"Cup" Davin menyempatkan mengecup bibir istrinya yang terlihat menggoda.


"Aku, hanya kembali ke restoran, sayang." Davin meletakkan piring yang tadi ia cuci di rak piring, mengelap tangannya yang basah menggunakan tissue dan menarik pinggang ramping Rose lembut, merangkulnya erat, dengan bibir tertanam di kening istrinya lama.


"Aku, hanya sebentar, nanti aku akan menjemputmu, okay," pungkas Davin lembut yang mana jari-jarinya mengusap wajah cantik istrinya.


Rose hanya bisa menatap netra lembut suaminya dengan raut kecewa.


Davin pun hanya bisa menghela nafasnya dengan kepala mendongak ke atas.


Davin kembali melihat wajah kecewa wanitanya dengan tatapan yang meluluhkan.


Davin membawa tubuh indah Rose kedalam pelukan hangatnya yang sangat disukai oleh sang istri.


Tiada hentinya Davin mencium penuh kasih sayang puncak kepala sang istri.


Rose hanya bisa memejamkan matanya di balik dada lebar dan bidang suaminya, menghirup aroma menyenangkan dan menenangkan sang suami.


"Baiklah, aku akan menemanimu," bisik Davin lembut.


"Kau, priaku yang terbaik," batin Rose yang lebih mengeratkan pelukannya.


Sedangkan Davin hanya bisa mengusap punggung istrinya dengan lembut dengan hidung mancungnya yang tidak bosan-bosannya menghirup aroma lembut dari rambut Rose.


si Davin, suami idaman akoh 😍

__ADS_1


__ADS_2