Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 51


__ADS_3

"Pokoknya, kalian harus menikah." Kali ini granny terlihat tegas.


Rose dan Davin masih terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


Bagaimanapun, kali ini mereka harus menikah, karena sudah melakukan perbuatan di luar kendali.


Meskipun mereka hidup di kota serba bebas tanpa pernikahan, tapi, keluarga keduanya memiliki prinsip tentang memegang teguh kehormatan dan nama baik.


Davin pun hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, walaupun, ia berpenampilan, urakan bagaikan pria bajingan, tapi, davin sosok pria yang bertanggung jawab dan memegang prinsip keluarganya, meskipun ia dan sang daddy tidak pernah akur.


Rose pun demikian, ia harus menikah dengan pria di sampingnya. bagaimanapun caranya, karena, pria inilah yang sudah menyentuhnya untuk pertama kalinya.


Ia melirik Davin yang juga meliriknya. Davin meraih telapak tangan dingin Rose dan menggenggamnya erat.


Ia menegakkan punggungnya dan mengangkat kepalanya, menatap secara bergantian, orang yang ada di sana, terutama kepada, granny, nenek Margaretha dan sang daddy.


"Aku, setuju menikah dengannya. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan, kepadanya," ucap Davin deng dengan wajah tegas penuh keyakinan.


"Bagaimana, dengan mu, nak?" Granny menatap serius ke arah sang cucu yang meminta persetujuan.


"Aku, bersedia, granny!" Lirih Rose dengan nada suara berat dengan diikuti helaan nafas panjang.


"Baiklah, kalau begitu kita tunggu, daddy dan mommymu," sela granny.


Lion hanya diam dengan tatapan kosong ke arah saudara kembarnya, ia juga menatap Davin penuh selidik.


Ia ingin menyakinkan dirinya terlebih dahulu tentang pria yang bersama saudaranya, agar dia merasa lega melepaskan saudara kembarnya menikah dengan pria yang tepat.


Lion tidak ingin kejadian dua tahun lalu, terulang kembali kepada, Rose.


Dimana Rose ditipu dan dipermainkan oleh pria brengsek, seperti calon suami Rose dulu.


Tangan granny yang mulai terlihat berkerut itu, menyentuh punggung tangan Lion yang terasa hangat.


Granny tersenyum lembut, mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Granny seakan mengerti kekhawatiran Lion kepada saudara kembarnya, yang begitu ia sayangi.


Bukan hanya Rose, Lion pun mengkhawatirkan ke-tiga saudara kembarnya yang lain.


Sebagai anak laki-laki sendiri di keluarga Kato, Lion memiliki kewajiban untuk melindungi saudara kembarnya yang perempuan.


Setiap hari, Lion akan menghubungi ketiga saudara kembarnya melalui panggilan telepon atau video call.


Ketiga saudara kembarnya yang kini memilih hidup mandiri dan terpisah di berbagai belahan negara lain.


Rose dan dirinya di Los Angeles, Lily memilih di kota Milan, Daisy di kota Paris dan sakura di negara asal nama sakura yaitu, Jepang.

__ADS_1


Mereka hidup terpisah jauh, membuat rasa khawatir dan was-was Lion bertambah setiap harinya.


Apa lagi kalau ia merasa dadanya terasa berdebar atau tiba-tiba bagian tubuhnya terasa sakit, maka Lion akan menghubungi satu persatu saudara kembarnya.


Menanyakan kabar dan keadaan saudara kembarnya, dan bisa menebak luka di yang dapat dari salah satu saudara kembarnya.


"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik, saja," hibur granny mencoba menyakinkan cucu laki-lakinya.


"Hm! Aku hanya belum yakin, granny." Lion berucap dengan nada suara berbisik.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik, saja," sela granny lagi, yang kini mengusap punggung lebar cucunya.


"Granny cuma takut, kalau mereka tidak menikah, dan Rose bisa saja hamil kapan, saja," lirih granny dengan wajah di buat sedih.


"Hamil?! Pekik Lion tanpa sadar.


"Siapa yang, hamil?" Tanya Nicko yang tersentak kaget.


"Apa benar kamu sedang, hamil?! Pekik Lion kepada Rose yang mengenyiat bingung.


"Kamu hamil? Padahal baru tadi malam aku memberi jalan benihku, di rahimmu ? Itupun baru beberapa tetes," ucap Davin dengan wajah konyol.


"Plak! Rose menepuk paha Davin kencang, membuat pria itu mendesis.


"Kau, suka sekali memukulku," protes Davin.


Rose tidak menanggapi ucapan protes Davin. Ia kini memilih menjelaskan kepada saudara kembarnya.


"Butuh, beberapa tetas atau sumber benih baru di hamil," lanjut Davin.


"Tenanglah, tadi malam baru pembongkaran atau perkenalan, setelah ini kami akan bekerja keras lagi untuk membuat keponakan untukmu," seloroh Davin panjang lebar.


"Akh!" Davin berteriak kesakitan, saat Rose menginjak kakinya kuat.


"Dasar, pria mesum!" Cibir Rose.


"Benar kamu tidak sedang, hamil?" Lion sekali lagi bertanya.


"Tidak! Sahut Rose lembut.


"Syukurlah!"


Namun tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar dari luar. Terlihat wajah garang seorang pria setengah baya bermata sipit, menatap tajam kearah sosok pria yang sudah menyentuh salah satu putri kembarnya.


"Brengsek! Bugh, bugh, bugh."


"Akh!

__ADS_1


"Argh"


"Uncle, Arthur, ini aku!"


Arthur menghentikan pukulannya saat mendengar suara pria yang ia pukuli.


"KAU?!


"Iya, ini aku, Nickolas Keller, putra dari Nathan Keller," sungut Nicko sembari mengusap sudut bibirnya sambil meringis kesakitan.


"Granny!" Ucapnya manja.


"Lihatlah, kelakuan anak granny yang sipit. Di menghajar orang bukan pada tempatnya," adu Nicko manja di pelukan granny.


"Begitulah, kalau matanya lupa di buka," seloroh granny Gabriela asal.


"Apa granny lupa? Kalau dia, sipit?"


"Hm!


Tidak lama muncul sosok pria wanita anggun dengan berwajah tegas dan penuh kewibawaan.


Mommy Kim berjalan mendekati putrinya dan ….


"Plak"


Kim menampar keras pipi sang putri, membuat Davin terkejut dan segera bangkit dan melindungi Rose dari tamparan yang akan Kim berikan kepada Rose.


"Plak"


Kali ini tamparan keras Kim mendarat mulus di pipi Davin.


"Pukul aku saja, tapi jangan pernah menyakitinya," ucap Davin dengan tatapan tajam.


"Cih! Kim berdecak memandang Davin dari atas turun kebawah.


"Kalian harus menikah sekarang juga,"


"Tapi, mom, …."


"SE.KA.RANG!" sentak Kim tidak ingin dibantah.


"Oh jadi ini pria yang sudah menyentuh, putriku!" Pekik Arthur yang siap memukul Davin.


Tapi tangannya tiba-tiba tertahan di udara dan wajahnya mendadak pucat.


Tubuhnya pun bergidik berkali-kali dan menjauhi Davin.

__ADS_1


"Mommy, okusan, ada tato!" Pekik Arthur dengan nada gemetar.


"Astaga, granny lupa kalau dia fobia, tato,"


__ADS_2