
"Perlu, bantuan?" Suara berat datang dari arah belakang Rose, begitu yang berusaha menurunkan, resleting gaunnya.
Rose menoleh ke sumber suara dengan wajah jengah.
"Tidak, perlu," ketusnya dan masih berusaha menurunkan resleting gaunnya yang terasa sulit.
"Gaun apaan ini, menyusahkan," gerutut Rose di depan cermin.
Tiba-tiba ia tersentak kaget saat, sebuah jemari menyentuh kulit punggungnya yang mulus, jemari panjang lembut tanpa kuku itu, sengaja mengenai permukaan kulit punggungnya.
"Selesai," bisik Davin tepat di telinga Rose, nafas hangat Davin dengan aroma maskulin itu menerpa kulit tengkuk lehernya bagian belakang, membuat Rose meremang dan merasakan ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
"Apa, kau ingin aku pun yang menurunkan, gaunmu? Kalau iya, dengan senang hati, nona," bisik Davin kembali dengan kedua tangannya mulai menyentuh gaun tersebut dan bermaksud menariknya ke bawah.
Namun dengan segera, Rose, menahan gaun tersebut di bagian depan.
"Apa yang kau, lakukan!" Sentak Rose.
"Membantumu," jawab Davin pendek.
"Tidak perlu. Sebaiknya kamu, keluar!" Tolak dan usir Rose yang menjauhkan tubuhnya dari Davin yang masih terdiam di tempatnya dengan alis mengkerut.
Sedangkan Rose berjalan ke arah, ruangan ganti.
Setelah menjadi tuan putri dan raja sehari, untuk menerima ucapan selamat dan doa para tamu undangan yang lumayan banyak, kini pengantin baru tersebut sudah berada di Mansion granny Gabriela.
Rose menolak menginap di salah satu suite room mewah di hotel tempat mereka melangsungkan acara resepsi, Rose beralas dia harus ke perusahaan pagi-pagi.
"Kau masih, disini?" Sore yang baru keluar dari ruangan ganti yang ada di kamarnya di lantai tiga.
Davin yang merebahkan tubuh tingginya di sofa, lantas terbangun dengan kening terlipat.
Rose pun menatap pria di depannya yang merupakan suaminya yang baru beberapa jam mengikrarkan sumpah pernikahan, di depan pemuka agama dan kedua belah pihak keluarga, setelah mengurus dan menandatangani berkas pernikahan mereka secara sah agama dan negara.
"Keluarlah!" Usir Rose dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Davin hanya terdiam, menilai penampilan sang istri dari atas hingga ujung kaki.
"Tidak melayang," monolog David.
"Berarti dia manusia, bukan, bidadari," gumam Davin dengan pandangan kagum kepada sosok yang mengenakan gaun malam putih yang lumayan seksi dan rambut coklat kemerah-merahannya dengan ujung bergelombang dibiarkan terurai, wajah yang sudah bersih dari polesan make up tipis yang menjadi pelengkap penampilannya tadi di pesta resepsi.
"Glek" Davin menelan Salivanya dengan susah, tengkoraknya tiba-tiba terasa kering dan tubuhnya terasa memanas saat menelisik penampilan sang istri yang seakan memiliki magnet sesuatu.
"OH God!" Teriaknya dalam hati, ketika merasakan sesuatu yang tadinya tertidur dengan tenangnya, kini perlahan terbangun dengan gagahnya.
"Keluar, manusia berdaki," sentak Rose yang membuat sesuatu yang berdiri tegak seperti tiang keadilan itu, melayu tiba-tiba, saat mendengar suara kencang saat Rose.
"Ust! Jangan teriak-teriak, dia jadi tertidur lagi kan," lirih Davin dengan jari yang ia letakkan di bibirnya.
"Aku tidak peduli. Sekarang, kau keluar!" Perintah Rose sambil berjalan mendekat kepada sang suami yang kini duduk dengan senyum aneh.
"Jangan mendekat, dia, akan bangun kembali." Davin mencoba menghentikan langkah Rose.
"Aku tidak mau tahu, siapa yang bangun dan siapa yang tidur," pekik Rose sembari meraih bantal kecil berwarna hitam disusun rapi di sofa, lalu memukulkannya kepada davin.
"Keluar, kataku!" Teriak Rose sambil memukul-mukul tubuh Davin.
Davin hanya diam menikmati pukulan Rose yang tidak terasa apapun di tubuhnya, ia malah seperti di pijat.
__ADS_1
Satu tarikan kasar saja, kini Rose berada di atas pangkuan suaminya.
Davin tersenyum, saat melihat wajah terkejut sang istri.
Ia menghadiahi satu kecupan di bibir alami Rose yang diolesi pelembab beraroma jeruk.
Davin melepaskan jas putih khas pengantin itu dan membuangnya sembarang arah, ia juga membuka satu persatu anak-anak kacang kemeja putih yang ia kenakan dengan gerakan sedang, tidak lambat pun tidak cepat.
Davin melemparkan begitu saja kemeja putihnya ke segala arah, dengan senyum lembut terus terukir di bibir pria yang memiliki marga Jackson itu.
Rose mengikuti arah layangan kemeja dan jas Davin dengan wajah tidak terima.
Rose paling tidak suka yang berbau sembarang, ia sosok wanita penuh kedisiplinan tinggi, semua barang-barang di kamarnya harus tertata rapi dan tidak boleh salah tempat.
"Ka, β¦." Ucapan dan telunjuk lentik Rose melayang di udara dengan mata tertuju di tubuh seksi suaminya yang di penuhi tato di bagian dada kerasnya.
Dada Rose terlihat naik-turun dengan jari yang menggantung kini bergetar dengan rona wajah merah.
Ia segera membuang pandangannya, ia tidak boleh tergoda dengan tubuh seksi pria di hadapannya ini, " tidak boleh."
Desisan keluar dari mulutnya, saat Davin menggigit jarinya yang menggantung di depan wajah pria itu.
Davin hanya tersenyum melihat wajah tegang sang istri, kalau boleh jujur ia pun merasa tegang, tapi dia harus menjaga titelnya sebagai bad boy rasa good boy itu.
__ADS_1
"L β lepaskan," gugup Rose yang berusaha lepas dari kurungan kedua tangan kekar Davin.