
Davin melaju meninggalkan parkiran klub, kini ia berada di jalan raya yang sudah sepi pengendara.
Davin melaju mobil Rose dengan menahan sesuatu di dalam tubuhnya.
Sesuatu yang tiba-tiba membakar seluruh saraf tubuh sehingga membangkitkan benda yang sudah bertahun-tahun bersemedi dalam diam.
Belum lagi ia harus menahan godaan, saat wanita di sebelahnya terus bertingkah aneh.
Davin hanya bisa mengerang dalam hati, jangan tanyakan raut wajahnya wajahnya yang bagaikan kepiting rebus.
Davin hanya bisa melampiaskannya dengan menggenggam erat setir mobil, membuat telapak tangannya kapalan.
"Berhentilah, bertingkah aneh!" Erang Davin dengan dengusan nafas frustasi.
"Kenapa? Apa aku sebegitu buruknya? Sehingga kau saja tidak tertarik dengan tubuhku ini?" Racau Rose sambil menurunkan tali tipis gaunnya.
"Pria brengsek itu mengatakan, aku wanita kaku dan membosankan, tidak menarik dan kurang hot." Rose terus saja meracau dengan membelai tubuhnya sendiri, ia bahkan berbisik nakal di telinga Davin.
Davin menoleh sejenak dengan alis terangkat keatas, ia tidak menyangka, wanita di sampingnya pernah dekat dengan seorang pria.
"Menjauhlah!" Sentak Davin sambil mentoyor kasar kepala Rose hingga membentur kaca mobil.
"Dasar, pria kasar," ujar Rose sambil terisak.
Davin terkesiap melihat tingkah konyol Rose, tapi sialnya sangat menggugah selera gemes Davin.
"Astaga, dia terlihat begitu menggemaskan," batin Davin
"Oh godaan ini sungguh berat," Kelu Davin yang terus melakukan mobil mewah Rose.
"Cittt"
"Brak"
Davin tiba-tiba saja menekan pedal rem dan menabrak pohon yang ada di taman kota.
Entah mengapa Davin membawa mobil Rose ke arah taman kota, apakah ini karena ia sudah tidak tahan, apalagi Rose kini duduk di atas pangkuannya dan merobek kasar kaos polos hitamnya.
"Wow! Kau seperti wadercat!" Seru Davin dengan nada berat.
"Menjauhlah!" Perintah Davin yang ingin mengangkat tubuh Rose, tapi wanita itu melilitkan tangannya di leher Davin dengan kuat.
"Turunlah, kau akan ngebocoran kalau begini terus, aku akan benar-benar dalam keadaan emergency car," cerotos Davin yang mencoba menjauhkan Rose dari atas tubuhnya.
Bukannya mengapa, benda ajaibnya kini sudah bangkit dari pertapaannya.
"Turunlah, wanita nakal!" Pekik Davin.
"Kau akan membangunkan sisi liarku, nona," bisik Davin dengan nafas memburu.
"Bukankah dia sudah bangun? Aku bisa merasakannya, dia mengganjal punyaku," ucap Rose yang kini tersenyum nakal.
"Dasar perawan tua, nakal. Kau akan menyesal, nona," bisik Davin lagi.
"Aku ingin merasakannya, katanya itu sangat menyenangkan dan membuat kita melayang," racau Rose.
"Kau sedang mabuk, aku takut kau akan memukulku besok, setelah kau sadar," tolak Davin masih menatap wajah Rose yang ada di atas pangkuannya.
"Aku, tidak mabuk," ujar Rose dengan nada manja.
"Kau sedang mabuk, baby," bisik Davin.
"No!
"Ck! Kau tidak akan bertingkah seperti ini. Kau akan bertingkah dingin dan menyebalkan," pungkas Davin, tangannya kini membelai lembut rambut Rose.
__ADS_1
"Tapi aku ingin mencobanya!" Rengek Rose.
"No!
"Please," mohon Rose dengan wajah mengiba.
"Astaga, kau kira es krim rasa stroberi di coba," pekik Davin frustasi.
Percayalah, benda ajaibnya kini bertambah tegang, saat Rose bergerak gelisah di atasnya.
"Please!" Rose masih memohon dengan nada lembut dan dengan mata memohon.
"Oh no. Godaan ini sungguh menyiksa dan juga keberuntungan," lirih Davin.
"Ayolah, kita coba," ajak Rose sambil melompat-lompat di atas pangkuan Davin.
"Berhentilah!" Pekik Davin lagi.
"Okay, sebelum itu, kau harus memintanya dengan nada tegas, dan biarkan aku merekam suaramu, sebagai barang bukti, atas tindakan pemaksaan," seloroh David.
"Okay, deal." Setuju Rose sambil bersorak kegirangan.
"Apakah, dia benar-benar ingin merasakannya? Tapi bagaimana caranya? Aku saja tidak pernah. Masa bodoh lah, bukankah yang penting bisa membuatnya bocor," monolog Davin.
"Kita ikuti alurnya saja," monolognya lagi.
"Sekarang katakan!" Perintah Davin sembari menekan tombol rekam di ponselnya dan juah ponsel Rose.
"Aku mohon, mari kita bercinta," ajak Rose dengan menggigit bibir bawahnya.
"Sial!" Geram Davin.
Ia dengan buru-buru, menyimpan rekaman ajakan Rose dan menaruh kembali ponsel mereka di dashboard depan mobil.
"Baiklah, mari kita mulai,"
Davin pun membalas cumbuan Rose dengan gerakan menggebu.
Davin mengerang di dalam cumbuannya, ketika Rose menggoyang tubuhnya di atas pangkuannya.
Tangan Davin kini menyusuri tubuh indah Rose, ia bahkan sudah menurunkan tali gaun Rose yang kini di depannya sudah terpampang jelas sebuah dataran tinggi yang sangat indah.
Davin meremat salah satu dataran tinggi tersebut dengan lembut, membuat Rose menahan desaahannya.
Dengan gerakan buru-buru dengan bibir masih bertautan, Rose membuka baju kaos hitam Davin.
Yang memamerkan tato davin di perut dan punggungnya.
Davin pun tidak tinggal diam, bibirnya kini berada di salah satu dataran tinggi Rose yang pucuknya sudah berwarna pink itu, sudah mencuat tinggi.
Rose hanya bisa menahan desaahannya dengan meremas kuat rambut Davin. Dan menggigit telinga Davin pelan.
Davin yang sudah tidak tahan pun segera mendorong ke belakang kursi mobil tanpa menurunkan Rose di pangkuannya.
Rose membantu Davin membuka resleting celana jeans Davin.
"Cepatlah, aku sudah tidak tahan," ujar Rose dengan tidak sabarnya.
"Sebentar, aku gugup, ini pertama bagiku merasai gua," sahut Davin dengan tangan gemetar membuka resleting celananya.
"Aku juga," bisik Rose.
"Kenapa, susah sekali dibuka nya," protes Rose tidak sabar.
"Akh!
__ADS_1
"Kenapa?
"Dia terjepit,"
"Terjepit?"
"Hm! Akh sakit," ringis Davin.
"Biar aku saja," tawar Rose sambil mencoba membuka resleting celana Davin.
"Hati-hati, akh, kamu mengenai gigimu," ringis Davin saat Rose menggunakan giginya untuk memutus benang yang terkait di resleting celana Davin.
"Sudah," ujar Rose dengan menurunkan celana Davin.
"Wow, apakah ini yang dinamakan, jamur jumbo beracun?" Pekik Rose saat melihat jamur jumbo Davin yang sudah menegang tinggi menjulang bagaikan tiang yang berbaris panjang di pinggir jalan.
Mereka tidak sadar berada di mana. Beberapa pengunjung yang masih berada di taman kota terkejut dengan mobil mewah yang tiba-tiba masuk ke area taman.
Dan tidak lama mobil itu pun bergoyang dengan diiringi teriakan dan pekikan seorang pria.
Mereka terus memperhatikan mobil tersebut dengan intens.
Remaja yang sedang berpacaran di sana merasa iri dan menarik pasangannya ke arah mobil mereka.
Tidak lama terdengar teriakan nyaring di dalam mobil, teriakkan seorang wanita dan pria.
Sepasang suami-istri dan juga anaknya yang masih berada di sana pun segera membawa sang anak pergi menjauh.
"Mommy, mobilnya kenapa bergoyang? Seperti, mobil bibi Lusi, saat daddy masuk kedalam mobilnya," ujar sang anak.
"What! Pekik sang mommy dengan menatap nyalang sang suami.
Sang suami hanya bisa bergeming di depan kemudi. Dengan keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
"Akh! Teriak Rose dan Davin bersamaan, ketika Davin berhasil membobol sesuatu yang masih tertutup rapat.
Davin pun ikut berteriak saat, Rose menggigit telinganya kuat.
Rose menitikkan air matanya dengan nafas memburu. Ia menatap Davin yang juga menatapnya.
"Maaf!" Bisik Davin di depan bibir Rose.
"Sakit!" Lirih Rose.
"Maaf," bisik Davin kembali sambil mengecup kening Rose berkali-kali.
"Kita berhenti di sini!" Ujar Davin.
"Tidak, lanjutkan saja."
"Kau, yakin," lirih Davin yang hidung mancungnya berada di pipi mulus Rose yang dipenuhi keringat dingin.
"Hm! Rose menjawab dengan yakin.
"Tahanlah, akhirnya juga kau akan menikmatinya," bisik Davin lembut.
Rose hanya terdiam dengan di bawah kendali Davin dengan kedua tangannya, merangkul erat leher pria yang ada di atasnya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Davin.
"Apa, masih sakit?" Tanya davin dengan tempo gerakan lembut.
Rose terasa menggeleng di balik leher Davin.
"Aku, akan menyelesaikannya dengan, cepat," bisik Davin dengan nada berat yang bercampur erangaan.
Davin lantas, menambah tempo gerakannya di bawah sana, sambil mencumbui tubuh Rose, membuat Rose rileks dan mulai terbawa suasana.
__ADS_1
Mereka pun menghabiskan percintaan pertama mereka di dalam mobil, di sudut taman kota yang penghuninya Sudah menjauh.
Mobil mewah itu pun terlihat terombang-ambing bagaikan diseret gelombang air laut.