
"Nicko!" Pekik seorang wanita mungil dari arah belakang Nicko.
Wanita dengan kacamata bulat bertengger di hidungnya itu, segera menarik sang kakak yang terus memukuli tuan muda Fang Yu.
"NICHOLAS KELLER! APA YANG KAU, LAKUKAN!? pekik wanita tersebut dan menjauhkan Nicko dari jangkauan Fang Yu, yang wajah mulusnya kini penuh dengan luka memar.
"Dia, mengumpat kasar kepadaku, entah apa masalahnya denganku, sehingga dia mengumpat ku berkali-kali." Nicko menjelaskan kepada Natalie tentang biduk permasalahannya, sehingga ia memukul pria bermata sipit tersebut.
Dengan nafas terengah-engah dan berwajah merah padam, Nicko masih menatap Fang Yu dengan tatapan permusuhan.
"Itu tidak mungkin, Nico?! Sentak Natalie yang malah memasang wajah geram kepada sang kakak.
"What! Kau membela pria kurang tidur, ini," pekik Nicko, tidak terima sang adik lebih membela pria bermata sipit itu.
"Namanya, Fang Yu. Dia klien kami dan dia pria baik-baik. Jadi, tidak mungkin tuan muda Fang, mengumpat mu," pungkas Natalie jengah.
"Lihatlah, kau juga mengataiku, my sister," geram Nicko tertahan.
"Mengataiku bagaimana, Nicholas Keller!" Sahut Natalie geram.
"Fa*ck you!" Sentak Nicko dengan tatapan tajam.
"Bukan, FA*k you Nicholas. Tapi, FA-NG YU." dengan intonasi suara emosi tertahan, Natalie menjelaskan nama Fang Yu dengan ejaan bertekanan emosi.
"Fa-ng Yu?! Nickolas menirukan cara pengucapan nama Fang Yu dengan kaya bibir yang kaku.
"Hm! Betul," jawab Natalie membenarkan letak pengucapan nama Fang Yu.
"Nama yang meresahkan," cibir Nicko dengan raut wajah jengah.
"Minta maaf!" Natalie memaksa sang kakak meminta maaf.
"Minta maaf," ucap Nicko cuek.
"Pletak" dan melayanglah sandal berkilau granny di kepala Nicko tanpa gangguan apapun.
"MINTA MAAF! gertak granny dengan wajah marah.
"Hey, pria kurang tidur, aku minta maaf," ucap Nicko dengan wajah malas.
"Namanya, tuan, Fang Yu," sela Natalie dengan tersenyum manis kepada Fang Yu, jangan lupa wajah Natalie terlihat merona.
Dengan tatapan penuh curiga, layaknya penyidik handal. Granny memicingkan matanya kepada Natalie.
"Tetap saja, matanya akan terlihat seperti orang kekurangan tidur," Seloroh Nicko tidak acuh.
"Jaga sikapmu, Nicko," timpal Natalie sambil menepuk lengan kekar sang kakak.
__ADS_1
Dengan wajah merona malu-malu, Natalie menatap Fang Yu dan berucap kata-kata dengan nada lembut, tapi dengan Nicko, ia akan berteriak.
Nicko memicingkan lirikan matanya ke arah sang adik yang terus menatap Fang Yu
"Saya memohon maaf, atas kelakuan kakak saya, tuan." Dengan nada lembut dan gaya di buat semanis mungkin, Natalie berusaha mendapatkan perhatian dari tuan Fang Yu.
"Tidak apa-apa, nona," balas Fang Yu dengan tersenyum ramah.
Natalie pun bertambah berbunga-bunga dan dadanya berdebar kencang.
Nicko kini makin menajamkan tatapannya ke arah sang adik, tanpa ia sadari matanya kini menyipit tajam.
"Natalie. Jaga sikapmu, kau adalah seorang gadis, jangan bertingkah seperti wanita nakal di luar sana, apalagi memperlihatkan sikap menjijikkan dan membuatku, ingin menjitak kepalamu." Nicko menyela ucapan adiknya dengan mengikuti gaya bicara, mommy mereka. Apabila menasehati keduanya.
"Hust, berisik!" Tegur Natalie yang kini menarik jauh sang kakak dan berbisik kepadanya.
______
"Jadilah, kakak yang baik malam ini, okay," tukas Natalie dengan raut wajah memohon dan memberikan kecupan di kedua pipi Nicko.
"Please, Nicko. Aku hanya berusaha untuk, mendapatkannya," keluh Natalie.
"Aku, sudah lama menyukainya," lanjut lagi yang kini menggelayut manja di lengan kekar sang kakak.
"Jadi, aku mohon, jangan buat aku merasakan patah semangat yang berakhir patah hati, asal kau tahu perasaan ini sungguh menyenangkan." Tutur Natalie yang mengeluarkan seluruh uneg-unegnya kepada Nicko yang kini merangkul penuh kasih sayang Natalie.
Nicko hanya perlu menjaga atau mengawasi adik tersayangnya dalam diam dan jauh.
"Thanks, cup," dengan wajah bahagia, Natalie mengecup kedua pipi sang kakak kembali.
_______
Sedangkan para lansia kini saling berbisik dan merencanakan sesuatu yang sangat penting.
Tuan Kim tampak mengangguk seakan menyetujuinya semua ucapan granny.
.
"Kau yakin, ingin menjodohkan mereka?" Tanya nenek Margaretha tiba-tiba.
"Pelankan, suaramu, nenek tua," gertak granny.
"Cih, apa kau lupa? Kalau kau pun sudah menjadi nenek tua." Nenek Margaretha nampak terlihat jengah.
Tuan Kim, hanya menggeleng kepalanya melihat kelakuan para wanita tua di sampingnya.
"Sepertinya, aku harus mengundangmu dan cucumu minum kopi pahit di Mansion ku," ujar granny tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Dimana-mana, orang akan berkata mengundangmu minum teh di kediamanku. Bukan minum kopi pahit," timpal nenek Margaretha kesal.
"Terserah, dia tidak perlu yang manis-manis, karena dia punya diabetes, jadi yang diperlukan Kim, adalah kepahitan." Balas granny yang tampak cuek.
"Cih!" Nenek Margaretha berdecak kesal.
"Baiklah," sahut tuan Kim pasrah.
"Datanglah, besok malam dan seluruh keluargamu," ucap granny.
"Hm! Gumam tuan Kim.
Granny tampak terlihat merencanakan sesuatu dengan terus melihat kelakuan cucunya itu, putri dari Nathan Keller dan Jennifer.
______
Sementara di bagian kerumunan para tamu undangan, tepatnya di sekumpulan para wanita yang sedang mengagumi sosok pria tampan yang kini sedang berada di pantry ballroom, memasak khusus menu istimewa untuk para tamu VVIP.
Tidak jauh dari mereka, wanita yang sejak tadi mendengar dan memindai para wanita itu dengan tatapan tidak suka, atau lebih tepatnya tatapan tidak ikhlas, miliknya di kagumi oleh wanita lain.
Rose hanya diam sembari menahan rasa emosinya dan rasa panas pada dadanya.
Sesekali ia memperlihatkan senyum terbaiknya saat sang suami menatapnya penuh cinta, yang membuat salah paham salah satu di kerumunan wanita tersebut.
"Lihatlah, dia tersenyum kepadaku," sorak wanita itu sambil melambaikan tangannya kepada Davin.
"Apa kau yakin?" Ucap salah satu temannya dan menoleh ke belakang di mana Rose berada dan kebetulan Rose sedang menunduk.
"Sangat yakin, karena daddy ku akan berusaha mendekati aku dengannya," ujar wanita tersebut yang berpenampilan seksi dengan wajah oriental khas wajah Chinese.
"Really?" Sentak teman yang lainnya.
"Hm! Aku dan daddy menemuinya tadi siang di restoran miliknya, memintanya khusus untuk menemaniku di hari ulang tahun ku," lugasnya dengan nada sombong.
"Wow. kau hebat, aku salut kepadamu bisa mendekati chef Davin," komentar wanita lainnya dengan tatapan kagum kepada Davin.
"Tentu saja aku hebat, apa yang kuinginkan, harus menjadi milikku, termasuk chef Davin yang begitu tampan dan hot," Seloroh wanita tersebut bernada kan ke sombong dan kelicikan.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya para wanita itu serentak.
"Aku akan membuatnya bertekuk lutut kepadaku, dengan memberikan tubuhku ini," jawabnya pongah.
"Cih! Chef Davin tidak akan mau dengan tubuh murahan sepertimu," batin salah satu wanita di sana.
"Dia akan merasa ketagihan dengan tubuhku ini," lanjutnya lagi dengan wajah penuh yakin.
Rose yang mendengar ucapan wanita tersebut, hanya tersenyum miring dan segera bangkit dari kursi.
__ADS_1
Ia meraih sebuah gelas berisi minuman berwarna merah bening dan berjalan ke arah para kerumunan wanita tersebut.