Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 57


__ADS_3

Aroma mint menyejukkan dan hembusan hawa hangat menyapa wajah lelap Rose.


Percikan air membuat mata lebar ber iris biru kehijau-hijauan itu terbuka dengan perlahan.


Hal pertama yang Rose tangkap saat membuka netranya adalah, senyum lembut dan tampan pria yang sudah membuat tubuhnya remuk redam tadi malam.


"Pagi, baby!" Ucap Davin yang sudah bangun sejak tadi dan wajahnya tampak segar dengan tetesan air yang berasal dari rambut basahnya.


Rose mengeliatkan tubuhnya, dan tanpa menyadari keadaannya yang masih polos.


Davin yang menyaksikan pemandangan di depannya, hanya bisa mengetatkan rahang tegasnya dengan dengusan kasar.


"Bangunlah. Dan jangan menggodaku pagi-pagi, baby," bisik Davin dan menyetuh salah satu dataran tinggi Rose.


"Hg" lenguhan halus lolos dari mulut Rose, saat Davin mengigit kulit leher istrinya dengan salah satu tangannya menggoda pucuk dataran tinggi Rose yang sudah menjulang tinggi.


"Menyingkirlah," suruh Rose dan mendorong dada lebar Davin.


Terlihat tubuh Davin terjarak dengan tubuh polos Rose.


Rose mencoba bangkit dan mengulurkan kaki panjangnya ke bawah tempat tidur dengan tubuh di lilitkan selimut.


Kedua tungkai kaki Rose terasa tak bertulang, lemah dan bergetar.


Bagaimana tidak, kalau Davin menggaulinya berkali-kali, hingga pagi buta menjelang.


"Perlu, bantuan?" Tanya Davin yang berdiri di hadapan Rose dengan tangan terlipat di dada.


"Tidak perlu!" Ketus Rose dengan wajah jengah.


Davin terdengar terkekeh, tanpa sepersetujuan sang istri, Davin, mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Rose hanya diam, karena jujur, ia pun tidak bisa berjalan tanpa bantuan suaminya.


"Bersihkan tubuhmu!" Perintah Davin sambil memasukkan tubuh istrinya yang tanpa sehelai benang pun.


Davin sejak tadi sudah menyiapkan air hangat beraroma menenangkan untuk sang istri.


Dia sadar sudah membuat tubuh istrinya kelelahan tadi malam.


Anggaplah, Davin sudah kecanduan dengan tubuh istrinya yang pertama kali memberinya atau merasakan sentuhan nikmat dari lawan jenis.


Karena rasa gilanya dengan kenikmatan itu, membuat Davin gelap mata dan menggauli istrinya berkali-kali, tanpa rasa lelah.


Apakah ini karena efek jamur jumbo ajaib nya bertapa terlalu lama dalam kurungan kain berbentuk segitiga warning?


__ADS_1


"Cup"



"Bisa sendiri, hm?" Tanya Davin dengan bibir yang mengecup kening istrinya berkali-kali.



"Hum!" Gumam Rose dengan mata terpejam.



"Okay, aku tinggal, yah?" Ucap Davin.



"Kemana?" Rose mencekal pergelangan tangan suaminya dengan mata terbuka lebar.



Davin kembali memposisikan tubuh di samping Rose dengan kaki terlipat.



"Aku, menunggu di luar, okay," bisik Davin dan kembali menghadiahi kecupan di kening Rose dan melangkah meninggalkan sang istri.




Ia takut tidak bisa tahan dengan godaan tubuh seksi dan indah sang istri.



Dan bisa kembali gelap mata dan menyentuh istrinya, bahkan mungkin ia akan menggurung sang istri di kamar seharian.



"Lama-lama, aku bisa, gila," gumam Davin yang melangkah masuk kedalam ruangan ganti.



"Kau akan pergi?" Rose menghentikan langkahnya untuk menuju ke arah ruang ganti, saat ekor matanya menangkap sosok pria dengan setelan rapi duduk di sofa dengan iPad di tangannya.


"Sudah selesai?" Davin tidak menyahuti pertanyaan Rose. Pria dengan status suami baru itu malah bertanya kembali, membuat Rose mendengus kesal.


"Aku sedang bertanya, dia malah balik bertanya. Menyebalkan," gerutut Rose sambil memasuki ruangan ganti yang terletak di sudut ruangan dan di dalam, tersusun rapi pakaian berharga miliknya dan juga tentu saja pakaian sang suami.

__ADS_1


Davin hanya tersenyum miring melihat bibir indah Rose bersungut-sungut.


Ia lalu bangkit dan mengikuti sang istri memasuki ruangan ganti.


"Akh! Apa yang kau lakukan, disini?! Pekik Rose dengan kedua tangan menyilang, menutup dua benda kesayangan Davin mulai saat ini.


Davin hanya bisa menajamkan tatapannya dengan nyalang ke arah tubuh polos sang istri yang tercetak begitu indah di hadapannya.


"Keluarlah, brengsek! Maki Rose sambil melemparkan Davin sebuah miniatur bangunan tinggi yang terdapat di atas nakas.


"Pletak" miniatur itupun tepat mengenai kening Davin membuat suami Rose itu kesakitan.


"Keluarlah! Dasar suami berdaki, mesum."


"Brak"


Rose menutup pintu ruangan dengan kencang, membuat Davin terloncat kaget.


"OH Tuhan, dia kasar sekali. Baru sehari aku menjadi suaminya, dia sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga," cibir Davin dan kembali ke sofa dengan kening yang terlihat benjol.




"Apa yang mereka, lakukan?" Bisik wanita tua di depan pintu kamar Rose.



Ia menatap teman seangkatannya dengan bingung.



"Apa, mereka melakukannya di nakas?" Tanyanya lagi.



"Mungkin!" Jawab wanita tua satunya yang masih menempelkan telinganya di pintu.



"Aku takut nakasnya jadi, roboh." Dengan wajah khawatir, wanita itu terlihat mondar-mandir di depan pintu.



"Berhentilah, kau membuatku, pusing," komentar granny.


__ADS_1


"Diam! Aku tidak bisa mendengar, suara decitan dan ha, hu, he, hi, ho. Di dalam sana," sentak granny.


__ADS_2