
Malam sudah larut, namun kota Los Angeles semakin terlihat ramai di malam hari.
Ada yang sedang menghabiskan waktu dengan para orang terdekat dan ada juga yang hanya sekedar menghilangkan kepenatan mereka.
Apalagi malam akhir pekan, maka keadaan kota los Angeles akan semakin ramai.
Di kantor polisi sendiri, kedua wanita paruh baya keluar dari kantor polisi dengan raut wajah kecewa.
Bagaimana tidak, kedua muda-mudi di belakang mereka menolak untuk menikah.
Alasan mereka adalah, karena tidak percaya dengan yang namanya pernikahan.
Rose keluar terlebih dahulu, setelah itu Davin yang menyusul di belakangnya.
Sedangkan granny berjalan gontai menuju mobil jemputannya.
Nenek Margaretha pun ikut berjalan di samping granny dengan wajah lesuh.
"Kita gagal, lagi," lirih nenek Margaretha.
Granny Gabriela menghentikan langkah pelannya dan menatap tajam ke arah depan.
Ia menajamkan tatapan mata tuanya ke arah sepasang kekasih yang sedang berpelukan.
Granny memindahkan tatapannya kepada sang cucu yang sedang mencebikkan bibirnya ke arah pasangan yang sedang bermesraan.
Nenek Margaretha pun menghentikan langkahnya dan mengikuti arah pandang sahabatnya.
"Cih!" Nenek Margaretha berdecak kesal dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Granny menolehkan wajahnya dan menuki sebelah alis tuanya.
"Dia siapa?" Tanya granny dengan tatapan ke arah Davin dan Sisil.
"Wanita yang digilai cucuku, wanita murahan!" Gumam nenek Margaretha.
Granny Gabriela terdiam sejenak dan mengarahkan pandangannya kepada Sisil, memindai penampilan wanita seksi itu, dari atas hingga ujung kaki.
"Lebih cantik, cucuku!" Seru granny pelan.
"Dia, hanya wanita jaaalang," ketus nenek Margaretha.
"Sepertinya, kau sangat membencinya," sela granny.
"Wow, wanita yang sangat berbakat, dapat anak plus daddynya, sungguh patut dimusnahkan," seloroh granny.
Granny masih menelisik penampilan Sisil dan bersiul.
"Tubuhnya sangat seksi, aku tidak yakin cucumu masih perjaka abadi," tebak granny.
"Pantas saja, anak dan cucumu tergila-gila," komentar granny, yang menilai penampilan Sisil.
"Aku, sudah memberikan peringatan kepada anak dan cucuku, untuk menjauhi wanita itu, tapi …, mereka menulikan ucapanku," kelu nenek Margaretha.
"Menghadapi wanita macan tutul seperti dia, harus dengan taktik cantik," ujar granny.
__ADS_1
"Kita hanya perlu mencari umpan untuknya," lanjut granny yang memiliki ide cemerlang.
Kedua nenek itu kembali duduk di luar kantor polisi, tepatnya di kursi tunggu.
"Ide kamu sungguh cemerlang," puji nenek Margaretha.
"Jangan ragukan kemampuan ku, sobat," ucap granny pongah, lantas berdiri dan kembali melangkah.
"Cih!" Nenek Margaretha hanya berdecak kesal. Ia pun mengikuti langkah sahabatnya menuju parkiran.
Granny melewati Davin dan Sisil yang sedang asyik berciuman tanpa mengetahui keadaan sekitar.
Tanpa aba-aba, granny memikulkan tas kecilnya di kepala Davin.
Membuat sepasang kekasih yang sedang bercumbu itu, menghentikan kegiatan mereka.
"Apa masalahmu, nyonya!" Geram Davin tertahan.
"Maafkan, wanita tua ini, nak. Yang sengaja memukul kepalamu," celetuk granny dengan mimik wajah di buat-buat.
"Nyonya!" Erang Davin tertahan.
"Bugh"
Nenek Margaretha pun mengikuti perbuatan granny, namun sasarannya kini adalah Sisil.
"Hey!" Hardik Sisil tanpa sadar.
"Apa kau tah …." Bentakan Sisil terhenti saat menyadari siapa wanita tua di hadapannya.
"N — nenek!" Seru Sisil terbata.
"Jangan, panggil aku, nenek," ketus nenek Margaretha.
"Tapi aku kekasih cucu anda, nek," sahut Sisil bangga, jangan lupa wajah mengejeknya.
"Kekasih dari daftar hitam," seloroh granny.
Granny kini menatap Davin yang hanya berwajah masam dan jengah.
Ia hanya melirik granny sebentar dan membuang pandangannya ke arah samping, tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Rose.
__ADS_1
Davin menyunggingkan senyum tipisnya ke arah Rose yang segera memalingkan wajahnya.
"Selamat nak, impianmu untuk mendapatkan wanita terbuka menuju jalan ke arah tepat, sudah kau temukan. tinggal kau harus mencobanya dan merasakannya," imbuh granny penuh perkataan ambigu.