Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 25


__ADS_3

Seorang pria berbadan tinggi besar dengan mengenakan seragam khusus kepolisian, kini menatap jengah kepada pria dan wanita di depannya.


Ia menghela nafas frustasi, saat meminta keterangan kedua tersangka, yang sudah melakukan keributan di pinggir jalan, yang menimbulkan ketidaknyamanan kepada para warga kota Los Angeles.


Pria dengan usia setengah abad itu, memindai keduanya secara bergantian, dengan nafas beratnya.


Sedangkan kedua tersangka, kini saling memunggungi dan saling berdecak kesal.


Jangan tanya penampilan Davin yang dipenuhi luka cakaran dan lebam.


Rambutnya pun masih berantakan di bibirnya terdapat luka gigitan dan di keningnya terdapat bekas benjolan.


Sedangkan Rose, penampilannya tidak jauh dari Davin.


Dengan keadaan pakaian yang acak-acakan, rambut berantakan bagaikan rambut singa.


Bibir yang nampak membengkak dan di lehernya terdapat bekas merah.


Kedua pergelangan tangannya pun terlihat memar dan juga lecet.


Penampilan keduanya tidak luput dari perhatian seorang pria yang berpakaian polisi tersebut.


"Bisakah, anda membiarkan saya pergi, tuan!" Seru Rose dengan menghadapkan wajahnya kedepan.


Davin pun mengikuti posisi Rose, yaitu berhadapan dengan sang polisi.


Rose dan Davin saling melirik tajam dan saling membuang pandangan dengan sengit.


"Maaf, nona muda, Kato, kami tidak bisa sebelum mendapatkan keterangan dari anda berdua," jawab sang polisi dengan tag name nya tertulis 'Mark killer'


"Ini hanya kesalahpahaman, tuan. Kami tidak melakukan yang dituduhkan kepada, kami," protes Rose.


"Benar tuan killer, ini semua salah wanita, salju ini," sela Davin dan menuding Rose.


Membuat Rose kembali naik pitam. Ia lantas memutar tubuhnya menghadap Davin dan menatapnya nyalang.


"Jaga ucapanmu, pria berdaki!" Hardik Rose berang.


"Apa!" Tantang Davin dengan tatapan jengah kepada Rose.


"Ini, semua memang salahmu. Kau yang lebih dulu merusak motor kesayanganku," ungkap Davin emosi.


"Ini juga salahmu. Bukankah aku sudah memberimu perintah untuk memindahkan motor jelekmu, itu," jawab Rose sengit.

__ADS_1


"Itu karena aku ingin menyapa kekasihku, apa kau manusia tidak memiliki kesabaran, 'akh. Dasar wanita sombong, arogan," sahut Davin tak kalah berangnya.


"Kau lebih cocok, menjadi pemeran wanita jahat atau penyihir jelek," sambung Davin sinis.


"KAU! Geram Rose yang berdiri dari duduknya dan menunjuk wajah Davin.


"Apa!? Yang aku katakan kenyataan, kalau kau wanita menakutkan dan kasar," ejek Davin dengan sudut bibir terangkat sebelah.


"Dasar pria berdaki, menyebalkan!" Teriak Rose menggebu.


Rose bahkan ingin meraih Surai bercat coklat milik Davin, tapi, pria itu dengan gesitnya lebih dulu meraih pergelangan tangan Rose dan menyentakkannya, sehingga Rose jatuh ke pangkuan Davin.


Pandangan mereka kembali bertemu dan saling terdiam sesaat.


Davin bahkan meneduhkan tatapannya, memuja manik indah Rose yang terlihat berkilau diterpa sinar kekuningan sore hari yang masuk lewat ventilasi jendela di ruangan interogasi.


Begitu pun Rose, yang seakan terhipnotis dengan netra teduh Davin yang dilengkapi bulu mata lentik dan tebal, alis yang tercetak indah dan garis wajah kokoh dengan bulu-bulu halus tipis di sekitarnya.


Tatapan Rose turun ke bibir seksual Davin, bibir lembut dan manis yang sudah mengambil keperawanan bibirnya yang selalu ia jaga.


Rose memang menjaga dirinya dari kontak fisik, meskipun ia memiliki kekasih, namun Rose tidak ingin menyerahkan kehormatan dan tubuhnya begitu saja.


Ia ingin mempersembahkan kehormatannya kepada sang suami.


Entah itu, sentuhan, ciuman, kecupan dan hubungan intim. Rose ingin melakukannya sebelum menyebut nama Tuhan bersama sang suami.


Ia tidak peduli dengan cibiran orang diluar sana yang menganggapnya kolokan atau ketinggalan jaman.


Ini tentang prinsipnya dan juga jati dirinya yang tidak ingin melakukan hubungan intim, tanpa status terlebih dahulu.


Tapi apa ini? Ia hanya bisa terdiam menikmati cumbuan seorang pria asing yang sialnya sangat menyebalkan.


Rose bahkan mengutuk dirinya yang sempat terbawa suasana dan juga menikmatinya.


Mereka pun masih saling menatap dengan intens dan dalam.


Davin kini mulai lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Rose sedikit demi sedikit.


Ia pun mulai memiringkan wajahnya, bermaksud mengecup bibir seksi Rose yang sangat begitu menggoda.


Namun niatnya itu terhenti, saat mendengar seruan gadis yang ada di pangkuannya.


"Apa kau membawa batu?" Tanya Rose pelan.

__ADS_1


"Batu?! Davin membeo.


"Hm! Gumam Rose dan memindahkan tatapannya ke bawah.


"Apa ini?"


"Apa?" Tanya Davin dengan wajah merah.


Nafasnya bahkan sempat tertahan saat menyadari arah pertanyaan Rose.


"Di bawah sini?" Tanya Rose penasaran.


"Bisakah, kau berdiri!" Perintah Davin dengan nada suara berat.


Rose pun berdiri dari pangkuan Davin dengan wajah sinis dan bibir bersungut-sungut.


Jangan tanyakan Davin yang wajahnya terlihat tersiksa dan frustasi.


"Apa anda tahu, nona, kalau batu yang anda sebut tadi sangat berbahaya!" Timpal sang polisi yang sejak tadi menyimak kedua tamu tersangkanya.


"Berbahaya?"


"Hm! Sangat berbahaya,"


"Benarkah!? Pekik Rose dan memandangi Davin lekat.


"Yap. Anda akan ketagihan bila terkena patukan kepalanya," celetuk sang polisi dengan senyum usil.


"Patukan? Kepala?" Lirih Rose dengan wajah konyol.


"Hm! Batu berkepala satu," timpal sang polisi dan tertawa lepas.


"Anda harus berhati-hati!" Lanjut sang polisi.


"Anda bisa berteriak dan minta lagi," sambungnya dengan tawa membahana.


Ia baru tahu kalau putri seorang Arthur Kato sangatlah minim pengalaman dalam keintiman.


Davin pun hanya bisa melengos kesal mendengar ucapan sang polisi.


Jangan tanyakan wajah Rose yang mencoba berpikir keras tentang ucapan absurd sang polisi.


"Apa semegerikan itu?"

__ADS_1


__ADS_2