Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 56


__ADS_3

"Apa yang kau, lakukan?" Davin yang baru keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar dengan sebuah handuk melilit di pinggang kerasnya.


Pria itu menghentikan menggosok rambutnya dengan sehelai handuk kecil, Lalu memandangi Rose.


Alisnya hampir bertautan, ketika melihat sang istri terduduk di lantai dengan dahi merah.


Davin berjongkok di depan Istrinya yang terdengar mendesis kesakitan.


"Apa yang terjadi, denganmu?" Tanya Davin sekali lagi, yang tangannya terulur menyentuh kening Rose.


"T – tidak!" Jawab Rose gugup dengan wajah merah.


"Kau, yakin?" Bisik Davin lembut sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rose yang nampak terlihat gugup.


Rose hanya bisa menahan nafas sesaat, mata terpejam, merasakan dan menikmati hembusan nafas hangat Davin yang meniup keningnya yang merah.


Rose rasanya ingin melayang jauh, ketika merasakan kecupan bibir dingin Davin di keningnya, tepatnya di bekas luka memar akibat benturan di dinding.


"Katakan! Kenapa kau bisa terluka dan berada di sini? Jangan, bilang, kau mengintipku, baby," ucap Davin dengan tatapan curiga, sudut bibirnya pun terlihat berkedut menahan senyuman.


"T — tidak. A, … aku tidak mengintip mu," elak Rose dengan terbata.


Wajahnya ia palingkan kesamping, menyembunyikan rona merah pada wajah cantiknya.


Davin berusaha tidak tersenyum atau tertawa melihat tingkah konyol Rose, yang pertama kali ia lihat.


Ternyata istrinya ini, begitu menggemaskan kalau bertingkah gugup.


"Akh!" Pekik Rose saat merasa tubuhnya melayang.


Rose dengan refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Davin yang masih lembab dan dingin.


Rose juga bisa menghirup aroma maskulin suaminya, dengan dahi mengerut.


"Sejak kapan, kamar mandi ku ada sabun seorang, pria?" Batin Rose.


Ia menghirup sekali lagi aroma mint dari tubuh Davin dan itu sangat menyenangkan.


Tanpa sadar hidungnya menghirup aroma maskulin Davin di dada kerasnya dengan mata terpejam.


"Apa, kau menyukai aromanya?" Bisik Davin membuat Rose tersentak kaget.

__ADS_1


Rose hanya terdiam menyembunyikan rasa malunya dengan memperlihatkan wajah datar.


Davin tampak tersenyum miring dan meletakkan Rose dengan hati-hati di atas ranjang.


"Istirahatlah," lirih Davin.


"Mau kemana?" Tanya Rose dengan dahi terlipat.


"Memakai baju." Jawab Davin dengan memasuki ruangan ganti Rose.


"Sejak kapan perlengkapan dia, ada, di sini?" Gumam Rose yang menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Apa mungkin, granny?" Monolognya dengan wajah bingung.


Rose menoleh ke arah pintu ruangan ganti, saat mendengar derap langkah mendekat.


Lagi, dada Rose bergemuruh ketika melihat penampilan suaminya yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasnya, dengan rambut yang sudah di potong pendek itu dibiarkan berantakan.


Rose terus saja mengikuti kemana langkah Davin dengan mata penuh kagum dan mulut terbuka.


"Cup" tanpa sadar, sebuah ciuman mendarat di mulut terbukanya.


Ia menyesapnya lembut bagian bawah penuh perasaan, begitu pun dengan bibir bagian atas Rose.


Bibir mereka pun kembali saling beradu dalam suasana hening menyenangkan.


Davin bahkan mengangkat tubuh Rose ke atas pangkuannya yang kini sudah berada di ranjang dengan punggung bersandar.


Cumbuan mereka semakin memanaskan dan menuntun untuk melakukan hal lebih lagi.


Tubuh keduanya sama-sama semakin panas dengan sentuhan-sentuhan halus yang memancing gelora hasraat keduanya,


Rose bahkan tanpa sadar meremas kuat rambut Davin, saat bibir suaminya itu, kini berada di permukaan kulit leher panjangnya.


Davin mengecup, menghisap bahkan menggigit pelan kulit leher istrinya yang lembut.


Rose hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan desaahannya. Dengan tubuh melengkung ke belakang, ketika Davin merobek paksa gaun malamnya dan menyesap pucuk tinggi salah satu dataran tinggi miliknya yang indah.


"Hg" lenguhan dan desahaan tertahan Rose terdengar syahdu di telinga davin yang membuatnya, semakin bergelora.


"Panggil aku, honey!" Bisik Davin dengan intonasi suara parau nan seksi.

__ADS_1


Jangan lupa tatapannya yang sudah ditutupi oleh gelora hasraat yang menuntun.


"Honey, baby. Panggil aku honey," pinta Davin dengan tangan meremat salah satu dataran tinggi istrinya, dan memainkan pucuknya dengan warna begitu menggoda.


"H – honey," lirih Rose dengan desisan kenikmataan, ketika Davin kembali memagut belahan dataran tingginya.


"Apa ini masih, sakit?" Bisik Davin sambil mengecup lembut pundak polos Rose dan tangannya kini berada di area privasi istrinya.


Rose hanya bisa melengkungkan tubuhnya dengan wajah merah dengan mata terpejam, saat merasakan jemari lembut Davin berada di area privasinya.


"Keluarkan, baby, aku suka erangannmu," lirih Davin dengan suara berat seksinya.


"Apa masih, sakit, hm?" Tanya Davin kembali.


Rose menegakkan wajahnya di depan wajah Davin dengan diikuti gelengan lemah.


"Biar aku memeriksanya," ucap Davin sambil menurunkan sesuatu di bagian bawah perutnya hingga ke mata kakinya.


Ia juga membuka kain bersegi tiga istrinya yang membungkus daerah sensitif nya.


Davin mengangkat sedikit pinggul ramping istrinya, yang membuat wajah Rose kebingungan.


"Apa yang sedang ka, …."


"Hg"


Rose tidak mampu meneruskan perkataannya yang kini berganti eraang terkejut, dengan tubuh kembali melengkung dan kepala mendongak ke atas.


Saat sesuatu benda yang terasa seperti daging dengan bermuka kulit hangat nan keras, menerobos area privasinya.


Dada keduanya kembang kempis dengan deru nafas memburu.


Davin menikmati pemandangan wajah menggoda istrinya dari bawah dengan tatapan mendamba dan merasakan denyutan dibawah sana yang membuatnya menggila.


Sedangkan Rose masih senantiasa memejamkan mata merasakan area keintimannya terasa nano-nano.


"Sakit?" Bisik Davin di depan wajah istrinya dengan kening menyatu.


"Sedikit," Cicit Rose.


"Mari kita membuatnya tidak, sakit lagi," ujar Davin.

__ADS_1


__ADS_2