Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 76


__ADS_3

Suasana ruangan CEO perusahaan agensi light Hugo terlihat hening, namun terasa mencekam.


Lion yang berjalan ke arah kursinya tanpa memperdulikan, mimik ekspresi wajah marah saudara kembarnya.


Lion melanjutkan membuka lembar demi lembaran berkas yang akan ia bubuhi tanda tangan.


"Apa yang akan kau lakukan, jika aku tidak datang, kemari." Rose masih berdiri di tempatnya dengan wajah terlihat masih menahan emosi.


Lion menghela nafas panjang dan menghempaskan punggung lebarnya ke belakang, meraup wajahnya sendiri yang kini di tumbuhi rambut-rambut halus di bagian kedua sisi rahangnya dan di atas bibirnya.


Lion mengusap wajahnya dengan dengusan frustasi dan menyugar rambut panjangnya kebelakang.


"Please, Rose. Dia hanya teman wanitaku, okay." Lion mencoba menekan Amarah saudara kembarnya itu.


Ia sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga Hugo dan Kato, mencoba untuk bersabar dalam menghadapi sikap arogan saudarinya ini.


"Kau, akan bercinta disini? Dan, apakah — kau sudah bercinta dengannya?" Rose berkata pelan namun tersirat ketegasan di setiap ucapannya.


"Rose!" Pekik Lion yang kini rahang tegasnya mulai mengetat.


"Kau, biasa melakukannya. Coba jelaskan, kepadaku." Rose mengulang perkataan Samantha tadi dengan tersenyum sinis.


"Dia wanita penghangat, ranjang mu?" Lirih Rose dengan ejekan.


"ROSE!" kali ini Lion berteriak lantang pertama kalinya kepada saudara kembarnya.


Raut wajah Rose menatap Lion dengan tatapan tidak percaya, karena selama ini, Lion lah yang paling sabar selain Lily.


Lion mencoba menetralisir perasaan amarahnya dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

__ADS_1


"Aku, merasa tidak mengenalimu, lagi," lirih Rose dengan mata mulai berembun.


Lion yang melihat wajah saudaranya, segera mendekat dan meraup tubuh Rose masuk ke dalam pelukannya.


"Maaf!" Bisik Lion menyesal.


"Maaf, maafkan aku," sambungnya lagi.


Lion memeluk erat tubuh Rose sambil mengecup kening Rose lembut.


"Berhentilah bersedih, kau akan melukai perasaanku dan yang lainnya." Lion mencoba menenangkan Rose, karena rasa sakit hatinya itu, bisa membuatnya merasakan juga pun ketiga saudara kembarnya.


"Aku kecewa kepada," lirih Rose yang menjauhkan tubuhnya dari Lion.


"Mommy dan daddy, pasti akan kecewa, kepadamu," sambung Rose.


"Maaf! Dia wanita yang selama ini aku inginkan." Lion berkata dengan kepala menunduk.


"Apa maksud, kamu?" Dengan tatapan penasaran Rose mengenggam telapak tangan Lion.


"Aku sudah lama, menyukainya. Bukan — lebih tepatnya sangat mencintainya. Tapi kami berpisah setalah dia memilih melanjutkan kariernya di negara lain. dan kami, di pertemukan kembali satu bulan yang lalu." Lion menjelaskan kepada Rose dengan semangat.


"Dia wanita pertama yang menarik perhatianku," lanjut Lion dengan tersenyum.


"Jadi, kau rela melakukan hal-hal yang tidak pernah, engkau lakukan?" Rose memicingkan matanya.


"Aku, hanya mencoba menarik perhatiannya," jawab Lion pelan.


"Tapi, yang kau lakukan bisa membuat, mommy dan daddy, kecewa," terang Rose mengingatkan Lion.

__ADS_1


"Please, Rose. Aku hanya ingin mendapatkan hatinya," sela Lion frustasi.


"Apa kau yakin, mencintainya? Bukan, perasaan tertarik atau karena dia cantik?" Ujar Rose mencoba meyakinkan perasaan Lion.


"Bukan!" Sahut Lion cepat sambil menggeleng lirih.


"Kau sudah melakukan, …."


"Tidak! Aku, tidak akan melakukan itu, tanpa mengikrarkan janji terlebih dahulu," sela Lion cepat, saat paham apa yang di maksud dengan saudaranya itu.


"Hm, syukur lah," gumam Rose.


"Dia model disini?"


"Bukan, dia dari agensi, lain."


Mendengar jawaban Lion, Rose memasang raut wajah waspada.


"Agensi lain?" Cicit Rose.


"Tenanglah, dia dari agensi, model's group."


"Model's group?"


"Hm! Perusahaan, tuan. Brian Regal," jawab Lion sembari duduk kembali di kursi kerjanya.


Rose masih terdiam mencoba memahami apa yang di katakan Lion barusan.


"Baiklah, lebih baik kita ke ruangan pemotretan," ajak Rose, yang mencoba membuang jauh perasaan curiganya.

__ADS_1


Rose melangkah lebih dulu sambil menepuk pelan pundak lebar Lion.


Pria bertubuh tinggi itu pun menyusul langkah saudara kembarnya, menuju pintu ruangannya.


__ADS_2