
Davin kini duduk di sebuah sofa tunggal yang menghadap ke arah sang istri yang, sibuk membahas sesuatu dengan sekretaris.
Davin hanya bisa menatap penuh kekaguman kepada istrinya yang terlihat begitu cantik dengan wajah serius, seperti sekarang ini.
Davin menangkup dagunya dengan sebelah tangannya yang ia letakkan di pinggiran sofa.
Dengan binar kekaguman, pria itu terus saja menatap istrinya dengan menarik kedua sudut bibirnya yang membentuk senyuman manis.
Pria itu terlihat melemparkan kiss jauh kepada Rose, saat tatapan mereka bertemu.
Membuat Rose mengembangkan senyumnya dengan rona merah di wajah cantiknya.
Sesekali wanita itu melirik suaminya yang masih setia menatapnya dengan tatapan teduh nan lembut, yang mampu membuat jantung Rose berdebar kencang.
Rose kembali membahas sesuatu dengan sekretaris dan juga beberapa karyawannya.
Istri dari Davin Jackson itu, terlihat mendiskusikan hal penting tentang kerjasama yang tadi disepakati dengan kliennya dari Korea.
_____
"Baiklah, kalian bisa pulang, sekarang!" Rose mengakhiri rapat dadakan dengan beberapa karyawannya.
"Baik, nona," sahut serentak para karyawan Rose yang terdiri dari 4 orang termasuk sekretaris Rose.
"Keluar!" Suruh Rose, saat sekertaris masih membereskan beberapa lembaran berkas di atas meja kerja Rose.
Sekretaris Rose pun keluar tanpa membantah, wanita itu dapat melihat suami dari nona bos-nya, masih setia berada di sofa dengan posisi setengah berbaring.
Rose melanjutkan tugas sekretarisnya tadi, membereskan lembaran berkas dan meletakkannya menjadi satu ke dalam map berwarna coklat.
Rose merenggangkan otot-otot tubuhnya, membuka jas khusus wanita yang menyisakan blues lembut tanpa lengan, yang memperlihatkan pundak indahnya.
Ia memalingkan wajahnya saat menangkap sosok suaminya yang kini tertidur di sofa dengan posisi miring menghadap kepadanya.
Davin yang merasa mengantuk menunggu sang istri, ia pun berpindah ke sofa panjang dan merebahkan tubuhnya.
Lama kelamaan matanya pun terpejam seiring rasa ngantuk menyerangnya.
_____
Rose kini duduk di pinggir sofa, di mana sang suami terlelap.
Ia menelisik wajah tampan sang suami dengan perasaan berdebar-debar.
Wanita itu bahkan, menyusuri setiap inci kulit wajah suaminya, yang terlihat begitu damai dan tak terusik sedikitpun.
Dengan posisi membungkuk, Rose memberanikan dirinya untuk mengecup bibir lembut Davin.
"Ini adalah milikku, manusia berdaki," bisik Rose tepat di depan wajah suaminya, sambil mengecup bibir merah Davin.
__ADS_1
"Bukankah, kau pun sering mencuri, ciumanku?" Gumam Rose yang masih dengan posisinya, membungkukkan badannya.
"Mulai sekarang, kau hanya, milikku dan selamanya," lirih Rose, yang masih menelusuri wajah tampan Davin, dengan jari-jemari lembut dan lentiknya.
"Kau, suamiku sekarang dan aku adalah istrimu. jadi, kau tidak boleh dekat dengan wanita manapun," gumam Rose dengan sedikit nada penuh penekanan.
"Aku akan menghancurkan, wajahmu ini kalau, aku mencoba menggoda wanita lain." Rose terus saja bergumam dengan nada kesal, tanpa ia ketahui kalau suaminya sedang menahan senyumannya sejak tadi.
"Apa kau mengerti, tuan muda, berdaki," ucap Rose dengan penuh nada ancaman.
Rose sekali lagi mengecup bibir suaminya dan berniat, berdiri dari posisinya.
Namun tiba-tiba, Davin menarik kembali pergelangan tangannya hingga kini, Rose berada di atas tubuh Davin.
Tentu saja Rose terkejut dengan mulut terbuka dan mata membola tidak percaya.
Jangan lupa rona merah di wajahnya yang terlihat begitu kentara. Antara terkejut dengan tarikan suaminya atau karena malu.
"Mau kemana, baby?" Tanya Davin dengan suara berat dan serak.
Davin pun menyambar bibir terbuka istrinya dan menyesapnya sebentar.
"Jadi, kau pura-pura, tidur?" Rose balik bertanya dengan wajah shock.
"Menurutmu, nona?" Davin terdengar terkekeh dan mengencangkan kedua lingkaran tangannya di pinggang ramping Rose.
"Dasar, suami licik!" Pekik Rose dan memukuli dada bidang Davin.
"Menyebalkan," balas Rose dan menggigit dada Davin.
"Stt, kau begitu mengerikan juga, sayang," desis Davin merasakan sakit akibat gigitan Rose.
Rose pun mengusap bekas gigitannya di dada keras suaminya dan tidak lupa Rose meninggalkan kecupan lembut.
Davin menangkup wajah Rose dengan kedua tangan dan menariknya lembut mendekat ke depan wajahnya.
Segera saja Davin, menyatukan bibir mereka dan saling ******* dan menyesap lembut.
Rose pun tidak tinggal diam, ia membalas ciuman suaminya tak kalah lembutnya.
Kedua pasangan suami-istri itu pun saling bercumbu dengan suasana langit yang mulai menggelap. Dan keadaan jalan raya kota Los Angeles sudah mulai dipadati pengendara yang pulang dari aktivitas mereka.
Sedangkan kedua pasangan suami-istri itu, masih saling bercumbu yang kini semakin terselut oleh gelora menuntut.
Jari-jari panjang Davin, kini sudah menari di atas permukaan kulit punggung Rose yang begitu halus dan lembut.
Rose hanya bisa menahan suara desaahannya dengan mata terpejam.
Davin melepaskan tautan bibir mereka, ia terlihat bangkit dengan Rose berada di pangkuannya.
__ADS_1
Ia melepaskan kaos polos putihnya dan melemparkannya begitu saja, pria itu sudah terbakar oleh hasrat yang kini menggebu untuk melakukan keintiman dengan sang istri.
Rose pun ikut membuka blues hitamnya dan menyisakan sebuah bra berwarna hitam.
"Kau, tidak masalah kita melakukannya disini?" Bisik Davin yang wajahnya sudah berada di ceruk leher Rose.
Rose hanya bisa mengangguk dengan kepala mendongakkan ke atas, tangannya pun kini meremas rambut suaminya.
Davin menghisap, ******* dan menggigit kulit leher panjang istrinya yang meninggalkan bekas merah dengan tangan yang kini menurunkan tali bra Rose dengan hati-hati.
Bibir Davin kini turun dan turun hingga berhenti di salah satu pucuk dataran tinggi Rose yang sudah mencuat tinggi dan mengeras.
Lidah Davin dengan lihainya menari-nari di atas pucuk dataran tinggi istrinya dengan sebelah tangannya meremaat salah satu dataran tinggi sang istri yang sangat pas di genggamannya.
Memainkan pucuknya dan juga meremaasnya lembut, sangat lembut, sehingga membuat Rose mengeluarkan suara lenguhaannya.
Davin berpindah ke bibir Rose dan kembali menciuumnya dengan menggebu.
Nafas keduanya pun saling memburu dengan deru nafas hangat, yang menerpa wajah keduanya.
Davin kini menempelkan kening mereka dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh hasraat menuntun lebih untuk menuju jalan yang tepat.
"Apa kau siap, baby?" Dengan intonasi suara berat yang serat akan hasraat menggebu, Davin mencoba meminta persetujuan dari sang istri yang tidak bisa berkata-kata lagi.
Rose hanya bisa mengangguk dengan dada naik-turun dengan deru nafas berat.
Segera saja Davin mengangkat rok span ketat Rose hingga ke pinggang dan Davin mencoba membuka resleting celananya dengan bantuan sang istri.
"Akh! Pekik Davin.
"Pelan, baby," lirih Davin.
Rose tidak menyahut, ia lantas menurunkan celana suaminya dan melemparkannya kebelakang.
Dengan wajah bersemu merah, Rose menatap lama kepada benda ajaib sang suami, yang ia gelari jamur jumbo ajaib.
Deru nafas keduanya semakin berat terdengar di seluruh penjuru ruangan kerja Rose.
Davin menarik Rose yang masih terdiam dengan posisi berdiri di hadapan Davin.
Pria itu segera menyatukan tubuuh keduanya dengan sekalii penyatuaan.
"Hg" leguhaan nikmaat keluar dari mulut keduanya saat tubuh mereka menyatu.
Rose menggigit pundak Davin dengan posisi dirinya berada di atas dengan kedua kaki mengangkang.
Davin hanya bisa menikmatii penyatuan mereka, yang membuat jamur jumbo ajaibnya, teras hangat, berdenyut-denyut seperti di pijat.
"Bergeraklah, baby," bisik Davin.
__ADS_1
yang merasa visual nya kurang hot dan macho, ini akoh kasih lagi π