Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 44


__ADS_3

Rose terlihat begitu memukau malam ini dengan sebuah gaun indah berwarna hitam yang, memperlihatkan pundak seksi Rose.


Rambutnya digelung tinggi keatas yang, memamerkan leher panjang Rose yang seksi.


Leher yang dihiasi Kalung berlian yang tentunya yang memiliki, harga fantastis.


Kedua telinganya terlihat anting-anting berlian kecil dan juga pergelangan tangan Rose terdapat gelang berlian sederhana dan juga jari manis dan tengahnya terhiasi cincin berlian juga.


Wajah Rose hanya diolesi make up tipis dengan warna bibir alami.


Jangan lupa untuk menambah kesan glamor dan elegan, Rose mengenakan high heels dengan warna senada dengan gaun malam yang memperlihatkan kaki panjang mulus indahnya.


Rose memindai sekali lagi penampilannya di cermin besar yang terdapat di ruangannya.


Senyum puas tampak terlihat di bibir seksinya.


Rose berjalan ke arah nakas berwarna kayu jati yang ada di samping ranjang.


Ia meraih tas tangan mahalnya yang dihiasi berlian dan juga permata di bagian tengahnya.


Rose berlenggang, layaknya seorang model profesional yang sudah mendunia.



"Granny!" Seru Rose saat mendapati wanita paruhbaya itu sedang bersantai di ruangan tengah Mansion.



Granny yang fokus di ponselnya dengan sebuah kacamata bening bertengger di hidung mancung tuanya.



Wanita paruh baya itu melepaskan kacamata bacanya dan meletakkannya di atas meja kecil yang ada di samping sofa.



"Kau berangkat, sekarang?" Tanya granny sembari bangkit dan mendekati Rose yang masih berdiri di anak tangga paling bawah.



"Hm! Sahut Rose dengan gumaman.



"Sendiri?" Tanya granny dengan mata memicing.



"Hm! Balas Rose dengan gumaman lagi.



"Ck! Jelas saja kau sendiri, kau kan perawan tua abadi," ejek granny kesal.


__ADS_1


Rose hanya memutar bola mata birunya, ia terlalu malas menanggapi ocehan granny Gabriela.



"Aku lagi buru-buru, granny. Jadi, aku malas berdebat, okay," ujar Rose.



"Siapa yang ingin berdebat denganmu, granny sedang menyindir mu." Granny mencebikkan bibirnya dan kembali ke kursinya dengan wajah manyung.



"Granny berdoa, semoga besok kau menikah dengan si, lukisan berjalan itu," sungut granny sembari mendudukkan kembali bokongnya di sofa.



"Aku pergi, Granny!" Pamit Rose.



Namun saat baru saja melangkah, tiba-tiba, Lion dan Nicko menyapanya.



"Kau, sendiri?" Tanya Lion dengan tatapan menelisik penampilan saudaranya.



"Dengan pakaian seperti, ini? Tanyanya lagi dengan alis mengkerut.




" Apa dia harus mengenakan, piyama tidur ke acara pesta, kliennya? Dasar, pria kurang model!" Sentak Nicko sinis.



Lion hanya mendelikkan tajam dan kembali menelisik penampilan Rose, yang menurutnya terlalu seksi.



Lion memang sangat posesif terhadap keempat saudara perempuannya.



Dia yang paling dominan, apabila salah satu saudara kembarnya di dekati oleh pria.



Seperti malam ini, ia menatap Rose dengan tatapan curiga.



"Stop, Lion!" Seru Rose malas.

__ADS_1



"Aku, hanya sendiri, tanpa pria manapun. Apakah kau puas, brother," ketus Rose sembari memutar bola matanya.



"Cih! Pantas saja dia tidak memiliki kekasih," gumam Nicko.



"Sudahlah, dude. Biarkan dia bersenang-senang. lihatlah, dia terlihat sangat, cantik," sela Nicko dan memberikan pujian kepada Rose.



"Terimakasih Nicko, atas pujian mu," balas Rose.



"Cih! Percuma cantik, kalau masih sendiri," timpal granny sinis yang menadakan sindiran terhadap Rose.



"Sudahlah, aku berangkat sekarang. Selamat malam, semua." Rose melangkah ke arah pintu keluar, setelah berpamitan tanpa menghiraukan wajah Lion yang menatapnya tidak rela.



"Perasaanku, tidak baik-baik saja, melihat dia pergi," lirih Lion dengan wajah khawatir.



Ikatan batin kelimanya memang sangat kuat, mereka akan berbagi rasa sakit, apabila salah satu dari mereka terluka.



"Tenanglah, dia pasti baik-baik saja. Apa kau lupa? Dia siapa? Dia Rose light Kato, wanita Arogan yang tak tersentuh," pungkas Nicko, menyakinkan Lion.



"Tapi, aku tetap merasa tidak nyaman?" Gumam Lion yang masih menatap ke arah pintu keluar, di mana Rose meninggalkan jejak langkahnya.



"Grannyku tersayang!" Teriak Nicko yang berjalan mendekati sang granny yang berwajah masam.


"Oh granny, kenapa dengan wajah tuamu, yang terlihat makin tua," celetuk Nicko, yang menghadiahi granny ciuman di pipi dan kening.


"Dasar cucu, laknat!" Pekik granny yang mana jari kepitingnya kini berada di perut keras Nicko.


"Akh! Granny, stop. Ini sakit sekali," adu Nicko yamg mengusap perutnya yang terdapat bekas jari kepiting.


"Ternyata semakin tua, bukannya semakin lembut, tapi semakin jadi," cicit Nicko.


"Jadi apa!" Sentak granny, yang mendengar bisikkan Nicko.


"Jadi nyonya, creap!" Balas Nicko yang kini menjauh dari jangkauan granny.

__ADS_1


"Dasar cucu, minta di bumi hanguskan!" Pekik granny yang berdiri dengan sendal rumah ditangannya.


__ADS_2