
Sepasang suami-istri itu, kini menatap nanar dengan mata berkaca-kaca, pada layar monitor Ultrasonografi 4 dimensi, yang dapat merekam dan mengambil gambaran janin pada kandungan dengan sangat jelas.
Tetesan air mata tidak hentinya mengalir di mata seorang pria yang kini mengubah statusnya menjadi calon ayah.
Cairan kristal yang menandakan, kebahagiaan, keharuan dan syukur.
Sambil menggenggam erat tangan istrinya yang tak kalah terharunya. Ia bubuhkan kecupan berkali-kali di kening sang istri dengan berbisik kata-kata yang membuat istri tercintanya terisak.
Betapa terharunya dan bersyukurnya mereka, di saat usia pernikahan mereka memasuki 3 bulan, sang istri sudah dipercaya untuk mengandung benih berharga suaminya.
Ucapan syukur tak hentinya terbesit di hati kedua pasangan suami-istri itu.
Senyum bercampur derai air mata terus menghiasi wajah keduanya.
Isakan sang istri kini berubah Raung shock, saat dokter wanita yang memeriksa kandungnya, memperlihatkan dua titik hitam di layar tersebut.
Sang suami hanya bisa menutup mulutnya dengan ekspresi wajah tak percaya. Tak lama ia merengkuh erat tubuh istri tercinta dan menghadiahi kecupan di seluruh permukaan wajah wanita yang ia cintai.
Mereka pun saling berbagi perasaan bahagia dan haru dengan, saling berpelukan. Tidak lupa tangisan bahagia yang mengiringi kabar bahagia keduanya.
Sang istri pun tak henti-hentinya, terisak dengan mulut yang terus mengucapkan syukur dan kata cinta untuk suaminya.
_______
"Baby twins!" Rose terus menatap lembar Foto berwarna putih hitam di genggamannya. Matanya pun tak henti mengeluarkan air mata.
Davin yang mengemudikan mobil hanya bisa, tersenyum bahagia dan mengarahkan tangannya ke arah perut sang istri yang, terdapat calon bayi-bayi keduanya.
"Aku tidak percaya β mereka begitu cepat berada di sini." Kini tangan Rose beralih di atas perutnya dan mengusap lembut perut yang masih rata itu.
Davin mengikuti arah telapak tangan istrinya dan mengikuti jejak tangan sang istri mengusap lembut perutnya.
Sambil menatap penuh cinta istrinya, Davin berkata. "Terimakasih. Karena sudah mencintaiku hingga sekarang, dan akan merubah status ku menjadi seorang ayah dari, dua bayi." Davin dengan tulus mengucapkan kata-kata indah dengan didukung oleh tatapan penuh kasih pun cinta.
Rose mengeratkan genggaman tangan mereka, dan membalas tatapan sang suami tak kalah lembutnya. Ia juga kini mengusap lembut wajah sang suami yang berderai air mata.
"Terimakasih juga, karena sudah sabar dalam menghadapi sikapku, dan terimakasih, karena begitu sangat, β¦ mencintaiku." Rose berkata dengan terbata karena di iringi isakan.
Davin menyentuh lembut pundak Rose dan menariknya, membawa kedalam pelukannya.
Mereka kini saling berpelukan dengan iringan rasa bahagia, gembira dan haru.
Davin menepikan mobilnya di sebuah pinggir jalan raya Los Angeles, ia tidak tahan ingin memeluk tubuh istrinya itu dan mengucapkan kata terimakasih juga cinta.
"Kita pulang sekarang, memberikan kabar bahagia ini kepada, granny dan nenek." Davin mengecup sejenak kening sang istri dan melajukan kembali mobilnya.
_______
__ADS_1
Pekikan nyaring terdengar di seluruh penjuru Mansion mewah granny Gabriela, lebih tepatnya terdengar di ruangan santai.
Suara nyaring yang berasal dari mulut seorang wanita berusia senja.
Tak lama di susul lagi seruan nyaring dari wanita seusia granny Gabriela.
Kedua wanita paruh baya itu, berteriak, bergoyang dan berloncatan sangking bahagianya dengan berita yang ia dapatkan hari ini.
"OH Tuhan, terimakasih. Kau, masih memberikanku kesempatan untuk menimbang seorang cicit." Granny berkata-kata syukur dengan berloncat kegirangan.
"Terimakasih Tuhan," sela nenek Margaretha yang terus menciumi lembaran foto USG Rose.
"Cucuku!" Nenek Margaretha kini menatap pasangan bahagia itu dengan manik berembun.
Davin menghampiri sang nenek dan merengkuh tubuh tua wanita kesayangannya.
"Kau bahagia?" Davin berbisik lirih.
Sang nenek hanya bisa mengangguk di pelukan cucunya dengan tangan tuanya yang mengusap lembut punggung lebar sang cucu.
"Terimakasih nak, atas kabar gembira, ini." Kini nenek Margaretha beralih menatap Rose.
"Berkat doa kalian," sahut Rose yang kembali menetes air mata bahagianya.
"Kau, memang cucuku," timpal granny dengan mimik sumringah.
"Apa selamat ini, dia bukan cucumu?" Tanya nenek Margaretha dengan alis mengerut.
"Maksudku, dia gercep. Gerakan cepat tancap, dan jlep langsung jadi," seloroh granny asal.
"Ck!" Nenek Margaretha hanya bisa berdecak kesal, mendengar perkataan absurd granny.
"Aku harus memberikan kabar bahagia ini, kepada semua orang." Granny bersorak gembira.
"Sekalian saja, kau mengadakan pesta," nenek Margaretha menyela ucapan granny.
"Ide bagus, bestie," sahut granny.
Kedua wanita paruh baya itu pun kini kembali bersorak sambil bertelepon.
Rose dan davin hanya bisa menggelengkan kepala keduanya dan ikut merasakan kebahagiaan.
"Sekarang waktunya istirahat, baby," Sentak Davin lembut.
Rose hanya mengangguk setuju dan tersenyum bahagia kepada suaminya.
Dengan penuh kelembutan dan perhatian, Davin menuntut sang istri menuju lift yang akan mengantarkan keduanya ke kamar yang berada di lantai tiga.
__ADS_1
Davin bahkan menuntut sang istri layaknya seperti orang sakit, yang membuat Rose mendegus tertahan.
Ia hanya bisa merenggut dalam hati dengan bibir bersungut-sungut pelan, yang melihat tingkah posesif suaminya.
______
Pesta penyambutan anggota baru keluarga Kato dan Jackson pun dilakukan di halaman luas yang berada di belakang Mansion granny.
Kebahagiaan terpancar dari raut wajah seluruh keluarga, terutama mommy Kim dan daddy Arthur.
Karena mereka akan menyambut cucu-cucu pertama mereka 7 bulan lagi.
Dan semua itu, membuat mereka tidak sabar menanti cucu-cucu mereka.
Mommy Kim lebih produktif dalam mengawasi sang putri yang selalu bertingkah biasa saja, padahal yang dilakukan putrinya itu sangat berbahaya buat kandungannya.
Omelan pun setiap hari Rose dapatkan dari, mommy dan granny.
Sedangkan, daddy Arthur, Davin, Nicko dan Lion, menjadi target ngidam Rose.
Yang membuat mereka merasakan campur aduk saat menuruti permintaan nyeleneh Rose.
Seperti, keempat pria berbeda usia itu harus berdandan layaknya seorang wanita dan berlenggang seperti model di depan seluruh pelayan.
Atau mereka harus mengikuti Rose melakukan perawatan di salon kecantikan dan harus melibatkan keempatnya.
Yang lebih ekstrim bagi daddy Arthur adalah, dia harus rela di tato di salah satu bagian kulit tubuhnya.
Membuat daddy Arthur harus setengah jiwa menahan rasa deg-degannya.
Sebagai calon kakek baik untuk cucu-cucu pertamanya, akhirnya Arthur harus menghadapi rintangan menakutkan dalam hidupnya.
_________
Kebahagiaan dan kegembiraan pun kini menghampiri pasangan suami-istri itu, dalam menyambut kelahiran anak kembar mereka.
Rose kini harus beristirahat total di mansion karena hari kelahiran telah menghitung hari.
Perutnya pun kini nampak begitu besar dari pada kehamilan wanita pada umumnya.
Itu dikarenakan, Rose mengandung bayi kembar sepasang.
Seluruh keperluan sang baby twins, sudah disiapkan dengan keperluan yang begitu mewah tentunya.
Davin pun semakin posesif dalam menghadapi dan menyambut kedua baby twins, dengan perasaan, deg-degan yang mendominasi.
Rose pun begitu, namun sekuat tenaga ia melawan perasaan gugup dan takutnya, karena itu akan sangat mempengaruhi baby twins.
__ADS_1