Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 12


__ADS_3

Bulan ini, kota los Angeles memasuki musim panas, yang begitu hangat dan kering.


Itu terlihat dari pantulan pasir dan trotoar di sepanjang jalan di pinggir pantai yang begitu cerah dan signifikan.


Para warga kota Los Angeles pun mulai memadati pantai-pantai lokal yang ada di kota Los Angeles, untuk sekedar berjemur.


Namun tidak dengan Rose, yang masih sibuk dengan pekerjaan, meskipun sudah memasuki awal pekan.


Semua karyawan pun libur hari ini, karena ini adalah hari Sabtu dan perusahaan Kato group akan memberikan libur bagi karyawannya di awal dan akhir pekan.


Rose kini masih berkutat dengan pekerjaan, dengan wajah serius Rose meneliti secara serius semua angka-angka yang tersusun rapi di laptopnya.


Rose menutup laptopnya, setelah menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya di lakukan oleh sang asisten.


Rose menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerja miliknya dan memijit pelipisnya yang terasa berat.


Ia menatap jam di atas meja kerja yang sudah menunjukkan angka 2 siang.


Rose menghela nafas lelahnya dan merdiri dari duduknya.


Ia meraih tas tangan mewah miliknya dan berjalan ke arah pintu.


Rose berjalan di sepanjang gedung perusahaan milik sang daddy yang terlihat sepi.


Ia hari ini, akan mengunjungi perusahaan agensi milik sang mommy.


Di karenakan, harus inj Rose akan melihat langsung proses syuting sebuah produk kosmetik yang dilakukan oleh salah satu model pendatang baru di agensinya, yang mendapatkan kontrak kerjasama dari perusahaan kosmetik terkenal di kota Los Angeles.


"Selamat siang, nona!" Sapa kedua penjaga keamanan di perusahaannya.


"Selamat, siang," jawab Rose dan tersenyum tipis.


"Kalian, hanya berdua?" Tanya Rose yang menghentikan langkahnya dan menatap heran kedua penjaga di gedung perusahannya.


"I β€” iya, nona," sahut salah satu dari mereka dengan terbata.


"Kenapa?" Tanya Rose dengan wajah serius.


"Mereka, mengambil cuti, nona," jawab salah satu dari keduanya.


"Hm! Baiklah, selamat pekerja," ucap Rose ramah.


"B β€” baik, nona," sahut keduanya dengan kepala menunduk.


"Hm!" Gumam Rose, lalu melanjutkan langkahnya ke arah parkiran khusus untuknya.



__ADS_1


Sementara di sebuah gedung tua yang terlihat kosong dan menyeramkan dari luar.



Namun siapa yang menyangka kalau didalamnya terlihat mewah.



Tempat perkumpulan sebuah geng motor, yang terkenal kebrutalan mereka.



Di salah satu ruang yang terlihat gelap dan hanya cahaya pantulan dari pentilasi yang memberikan cahaya di dalam ruangan itu.



Seorang pria muda, berusia sekitaran 27 tahun yang masih tertidur lelap dengan keadaan tunggurap, memperlihatkan punggung lebar yang di penuhi tato.



Masih terdengar suara deru nafas teratur dari hidung pria itu.



Wajahnya pun masih terlihat damai dalam tidurnya, ia tidak terganggu sedikitpun oleh suara deringan telepon dari ponselnya yang terletak di bawah bantal.




"Davin!" Serunya dengan berdecak kesal.



"Davin!" Serunya sekali lagi.



Pria yang di panggil Davin itu pun tidak terganggu sedikitpun, ia malah memperbaiki posisi tidurnya.



Dengan wajah kesal bercampur emosi, Mark, sahabat Davin, memukul wajah sahabatnya.



"BANGUNLAH, BRENGSEK!" teriak Mark.


__ADS_1


Davin yang merasa sakit di rahang wajahnya pun membuka matanya.



Ia mengusap cairan merah di sudut bibirnya sambil bangun, mata tajamnya yang memiliki iris mata biru itu, menghunus Mark.



Mark hanya berdecak kesal dan mengusap genggaman tangannya yang ia pakai untuk memukul sahabatnya itu.



"Nenek, Margaretha, memintamu menemuinya," ucap Mark.



"Dia, beberapa kali mencoba menghubungi mu, tapi kau tidak menggangkatnya," sungut Mark.



Pria yang bernama Davin masih berada di atas ranjang sambil mengusap wajahnya kasar.



Ia meraih ponselnya dan melihat ada puluhan panggilan tak terjawab dari sang nenek dan juga pesan.



Davin hanya menghela nafas dan kembali merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang.



"Bangunlah, brengsek. Temui nenek atau dia akan kemari dan membakar tempat ini," pekik Mark.



"DAVIN! Pekik Mark.



Saat Davin menutup wajahnya dengan bantal yang bermaksud mengabaikan suruhannya.



"Ck! Baiklah, beri aku lima menit," ujar davin.



"No!

__ADS_1



"Ck! Kau menyebalkan. Paling juga nenek, menemuiku untuk membahas perjodohan," sungut Davin yamg bangun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi.


__ADS_2