Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 79


__ADS_3

Cahaya yang dihasilkan dari kamera, mendominasi di ruangan pemotretan. Seorang, wanita cantik dengan tubuh indah nan molek beraksi di depan kamera.


Beberapa macam gaya wanita tersebut perlihatkan di depan kamera. Wanita yang mengenakan gaun indah dengan Glitter memenuhi gaun tersebut.


Gaun yang disesuaikan dengan tema kosmetik yang dipamerkan, begitu pun dengan dandan wajah wanita itu yang begitu dramatis, full make up.


Dari kejauhan, Rose dan Lion mengawasi setiap kegiatan pemotretan tersebut.


Keduanya begitu puas dengan hasil kerja para karyawan dan juga model andalan mereka.


Rose dan Lion pun berdiri dari duduk mereka, mendekati para kru juga wanita yang merupakan, model andalan ligh Hugo.


"Perfect!" Seru Lion dengan tersenyum puas.


"Kerja bagus dan sangat memuaskan," lanjutnya dengan kata-kata pujian ditujukan kepada para kru dan modelnya.


"Terimakasih, tuan." Manajer model itu pun menyambut pujian Lion dengan rasa bahagia.


"Hm! Kalian pantas, mendapatkan bonus bulan, depan." Dengan terus tersenyum puas, Lion memberikan royalti kepada para kru dan modelnya.


"Terimakasih, tuan!" Sahut para kru dengan rasa bahagia.


"Nona, Helena. Kau, direkomendasikan menjadi model populer di agensi ini." Lion kini memberikan sebuah ungkapan rasa puas dan bangga kepada modelnya, berupa ketenaran.


Tentu saja, model tersebut begitu kegirangan dan merasa beruntung.


Siapa yang menyangka, ia akan menjadi model popular di agensi terkenal ini. Jalan untuk menuju kesuksesan terbuka lebar.


Ia bukan saja menjadi model, karirnya akan terbuka lebar di dunia selebritis.


"Terimakasih tuan, sebuah penghargaan yang mengejutkan." Model itu lalu menjabat tangan Lion.


"Semua, karena bakat dan kerja keras anda, nona," sahut Lion dengan wajah bangga.


Rose hanya terdiam menyimak pembicaraan saudara kita dengan para anak buahnya. Rose masih menyimpan rasa kesal kepada saudara laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Baiklah, sebagai ucapan rasa puas dan bangga saya, kepada kalian. saya akan mengundang kalian semua makan, malam." Lion masih memamerkan senyum puasnya dan mengundang para anak buahnya untuk makan malam di Mansion granny.


"Terimakasih, atas undangannya, tuan," sahut mereka.


"Hm! Gumam Lion dan melirik Rose yang berdiri di sebelahnya.


Lion hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskannya.


Ia tidak ingin mencari perkara dengan saudaranya ini. Luka memar pada wajahnya saja belum sembuh, jangan sampai ia mendapatkan tambahan bekas memar lagi.


"Ayo!" Lion menarik lembut pergelangan tangan Rose dan membawanya keluar.


Para kru dan model pun membungkukkan badan mereka, saat melihat Lion dan Rose, melangkah keluar.


"Ayolah, Rose! Jangan mendiami ku."Lion meraup wajahnya dengan dengusan frustasi.


Rose tidak mengindahkan perkataan Lion, ia terus melangkah ke ruangan CEO.


"Rose!" Sentak Lion.


"Cih! Lion berdecak lirih dan mendelik tajam ke arah gadis mungil itu.


"M-maa-maaf, tuan. S-sa-saya hanya membereskan meja, anda," lapor Lolly dengan terbata.


Lion hanya diam dengan wajah dinginnya. Ia menganggap, Lolly musuhnya sekarang. Karena gadis ini, ia harus mendapatkan kemarahan sang mommy dan juga saudara kembarnya.


"Keluarlah!" Suruh Lion dengan intonasi suara dingin.


"Dia, tidak akan kemana-mana," cegah Rose tiba-tiba.


Lolly yang sudah memutar tubuh mungilnya kini kembali kepada posisinya sebelumnya, berdiri di dekat meja Lion.


"Why! Tidak ada yang dapat ia kerjakan disini, dan aku tidak membutuhkannya," sarkas Lion dengan mata mendelik tajam ke samping.


"Ingat. Dia asisten mu sekarang." Rose mengalihkan tatapannya kepada Lolly dan memberikannya senyum tipis.

__ADS_1


"Aku, tidak butuh." Lion hanya bisa berucap dalam hati dengan wajah jengah dan kesal.


Lolly hanya bisa menundukkan kepalanya dengan memilih bagian bawah kemeja lusuhnya.


"Aku harap, kau masih mengingat pesan, mommy!" Seru Rose dan bangkit.


"Hm! Lion hanya bisa bergumam cuek.


"Good brother," ucap Rose dan segera keluar dari ruangan Lion, sebelum ia membisikan sesuatu kepada Lolly.


Lion hanya mendelikkan kesal dan menatap Lolly dengan wajah mencemooh.


"Semoga, saja aku bisa menahan amarahku dan mengikuti pesan, mommy." Lion berdecak kesal ke arah Lolly ag yang hanya mematung di tempatnya.


"Dasar, gadis menyebalkan." Batinnya.


Lion hanya bisa mengumpat dalam hati. Karena ia mengingat jelas pesan dan perkataan sang mommy.


"Jangan, menghinanya ataupun berbuat kasar kepadanya. Karena kau sama saja, menghina dan berlaku kasar kepada, mommy." Lion memijit pelipisnya yang tiba-tiba pusing. Ia hanya bisa menampung kekesalannya yang ditujukan kepada gadis yang berdiri mematung di sampingnya.


"Argh! Menyebalkan."


"Argh! Sial, sial, sial."


Lion berteriak frustasi dan mengumpat dengan sendirinya, ternyata menampung kekesalan itu, sangatlah tidak nyaman.


Sementara Lolly hanya bisa menyusutkan tubuh mungilnya dengan kepala menunduk, tangan yang mulia gemetar dan hati yang gelisah.


"Clek"


"Good morning, kawan!"


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka kasar dan terdengar suara berat menggema di ruangan Lion.


Kekesalan Lion pun bertambah saat melihat kehadiran sepupu konyolnya.

__ADS_1


"Wow! Sejak kapan kau, memelihara bidadari mungil ini?"


__ADS_2