Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 14


__ADS_3

"No!" Seru Davin di depan kedua wanita paruh baya yang sekarang menatapnya tajam.


Davin menghela nafas panjang dan menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi.


Ia menatap jengah kedua nenek-nenek di depannya, yang masih berusaha membujuk dirinya, agar mau di jodohkan dengan cucu granny.


"Kau tidak akan menyesal, nak," sela nyonya Margaretha.


"Tidak, nek. aku tidak bisa, karena aku sangat mencintai, Sisil," tolak Davin.


"Nenek mohon, kali ini saja kabulkan permintaan wanita tua ini yang sebentar lagi, akan menemui ajalnya," ucap nyonya Margaretha sedih, ia pun berpura-pura menghapus air matanya.


"Apa, kau yakin sudah siap melepas ajalmu? Kau masih punya hutang kepadaku dan aku belum rela membiarkanmu mati," seloroh granny Gabriela.


Nyonya Margaretha tampak membolakan matanya dan menginjak kaki granny yang berada di bawah.


"Apa? Kenapa kau melotot kepadaku dan apa ini, kau menginjak kakiku, wanita tua," cerca granny yang tidak mengetahui kode nyonya Margaretha.


Davin hanya terdiam menyaksikan perdebatan dua wanita tua di hadapannya dengan menarik nafas dan membuangnya kasar.


"Maaf, nek, aku tidak bisa," lirih Davin.


"Tapi nenek tidak akan menyetujui hubunganmu dengan wanita, itu," sahut nyonya Margaretha dengan wajah kecewa.


"Aku tidak peduli," balas Davin.


"Berarti, kau sudah tidak menyayangi, wanita tua ini," lirih nyonya Margaretha.


Davin menegakkan punggungnya dan berubah posisinya menghadap sang nenek, ia meraih telapak tangan tua nyonya Margaretha dan mengecup kedua telapak tangan tua wanita yang begitu ia sayangi, setelah sang ibu.


Granny hanya bisa terdiam dengan tatapan menyimak perlakuan Davin kepada sang nenek.


Granny dapat menyimpulkan, kalau, Davin adalah sosok pria yang tulus dan setia, yah memiliki kepribadian tegas yang tidak bisa diganggu gugat.


Terbukti ia menolak permintaan sang nenek, demi wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Dia, harus menjadi milik, cucuku," batin granny dengan seringai licik muncul di sudut bibir tuanya.


"Nenek, adalah wanita yang paling aku sayang, setelah kepergian, mommy. Mana mungkin aku melupakan, nenek, tapi – aku minta maaf tidak bisa menerima permintaan nenek, karena, Sisil juga sangat berharga buatku," imbuh Davin lembut.


Nyonya Margaretha hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, dia juga tidak ingin memaksakan cucunya ini, jadi nyonya Margaretha hanya bisa menatap granny dengan sendu.


"Kenapa, kau tidak menikahinya?" Tanya granny tiba-tiba.


Davin mengalihkan tatapannya kepada granny dan mengubah posisi duduknya.


"Itu karena kami masih ingin hidup bebas," jawab Davin.


"Berarti, kau tidak mencintainya, kau hanya ingin bersenang-senang dengannya, atau karena kau merasa nyaman dengannya," pungkas granny santai.


"Cinta tidak harus saling mengikat bukan?" Sahut Davin dengan tersenyum sinis.


"Salah. Kau, salah besar. Cinta harus saling mengikat, agar kalian bisa saling memiliki seutuhnya dan tau batasan kalian dalam bergaul," ucap granny dengan tatapan lekat.


"Tapi, aku tidak percaya dengan pernikahan, menurutku pernikahan adalah, omong kosong," Sarkas Davin sinis.


"Tidak dan itu tidak akan pernah ada dalam kamus hidupku," sahut Davin tidak acuh.


Granny Gabriela memindahkan tatapannya ke arah sahabatnya, yang di balas gelengan kepala.


"Kau, yakin tidak ingin mengenal, cucuku?"


"Tidak, nyonya, tua," tolak Davin.


"Kau, akan terpesona dengannya," sela granny.


"Cih, tidak ada yang akan membuatku terpesona, selain Sisil ku," jawab Davin dengan berdecih.


"Kau yakin anak, muda," tantang granny.


"Hm! Aku akan menikahi cucu mu itu, kalau aku terpesona kepadanya," sinis Davin.

__ADS_1


"Tapi sayangnya, itu tidak mungkin," lanjut Davin, yang menyela ucap granny.


"Cih! Tapi aku merasa yakin, kau akan terpesona," sahut granny santai.


"Aku, yakin kau akan menjadi, cucu menantuku," gumam granny.


"Ck? Dalam mimpi anda," sahut Davin.


Tiba-tiba, ponsel Davin berdering nyaring yang menghilangkan kesunyian di ruangan itu, yang sedang dilanda kesunyian.


Davin merogoh ponselnya di dalam saku celananya hitam yang ia kenakan.


Ia menerbitkan senyum tampan, saat melihat sang pemanggil yang tidak lain adalah, kekasihnya.


Davin mengangkat panggilan telepon kekasihnya dengan nada suara lembut mendayu.


"Halo,"


" …


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Davin panik.


" …


"Okay, aku kesana," ucap Davin dengan raut wajah panik.


"Aku pergi!" Pamit Davin sambil mencium kening sang nenek.


Davin pun berdiri dan melangkah ke arah pintu kaca di ruangan khusus d i kafe tersebut.


Tanpa berpamitan kepada granny, Davin berjalan tergesa-gesa menuju parkiran di mana, motor kesayangannya terparkir gagah.


Wajahnya terlihat panik dan khawatir, saat mendengar suara isakan sang kekasih di seberang sana.


Tanpa menunggu lama, Davin menunggangi kuda besinya dan melaju membelah jalanan los Angeles di bawah terik matahari yang begitu menggigit.

__ADS_1


Davin bahkan melintasi, rambu-rambu lalu lintas yang bisa mencelakai dirinya sendiri.


__ADS_2