
Davin dan Rose telah tiba di restoran miliknya yang telah di ramaikan oleh pengunjung yang ingin menikmati makan siang.
Restoran yang berlantai tiga itu, dilengkapi dengan fasilitas lengkap, yang membuat para pengunjung merasa puas.
Belum lagi makanan di restoran Davin terkenal lezat pun pelayannya yang begitu memuaskan.
Davin terlihat mengangkat ke atas pintu mobil sport mewahnya, ia menuntut sang istri keluar dari mobil dengan memberikan perhatian manis, seperti yang biasa ia lakukan.
Keduanya kini saling berpegangan tangan sambil masuk ke dalam restoran.
"Selamat siang, tuan, nona." Seorang wanita setengah baya datang menghampiri mereka dan memberikan sapaan ramah.
"Selamat siang juga bibi, Kenny." Davin menghentikan sejenak langkahnya dan membalas sapaan akrab wanita itu, yang merupakan manajer restoran Davin.
"OH iya, bibi Kenny. Kenalkan, dia istriku." Dengan perasaan bangga, Davin memperkenalkan sang istri kepada manajernya yang sudah lama bekerja di restoran miliknya, semenjak sang mommy masih hidup.
Bibi Kenny menyapa Rose dengan ramah sambil membungkuk setengah badannya.
Rose pun membalas sapaan bibi Kenny, dengan ramah. Tanpa melepaskan tautan tangan mereka.
"Apa, anda akan makan siang, tuan? Kalau iya, saya akan menyiapkannya untuk, anda," tutur bibi Kenny, menawarkan kepada Davin.
"Tidak! Terimakasih, aku akan menyiapkan sendiri makan siang untuk, kami," ujar Davin lembut, menolak tawaran bibi Kenny.
"Tapi, tuan muda, saya terbiasa menyiapkan segalanya buat, anda," ungkap bibi Kenny dengan nada kecewa.
Rose yang mendengar ucapan bibi Kenny, mengerutkan keningnya bingung.
"Tidak perlu bibi. Mulai, sekarang anda tidak perlu lagi melayani saya. Lebih baik anda fokus mengurus restoran saja. Karena sekarang saya sudah memiliki privasi sendiri terutama buat kami." Davin mencoba memberikan alasan kepada wanita setengah baya itu, dan ia juga merangkul mesra pundak istrinya.
"Tapi tuan, —" perkataan manajer restoran Davin itu terhenti, saat melihat gelengan lembut Davin.
__ADS_1
"Kembalilah, bekerja bibi Kenny!" Perintah Davin.
Wanita itu pun meninggalkan Davin dan Rose sebelum itu ia menunduk setengah badannya terlebih dahulu.
Rose masih menatap lekat punggung wanita itu dengan perasaan yang penuh tanda tanya.
Dengan perasaan penasaran, Rose menatap suaminya dengan mata mengerut.
"Dia, begitu dekat denganmu, honey," timpal Rose dengan nada meminta penjelasan.
Davin meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket denim miliknya, tanpa menjawab pertanyaan penasaran istrinya. Ia lantas menarik lembut sang istri menuju ruangan miliknya.
"Honey!" Seru Rose kesal.
"Dia sudah seperti, ibu bagiku, baby. Dia yang menjagaku saat mommy tiada, dia sangat berjasa bagiku," jelas Davin yang membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan sang istri lebih dulu masuk.
"Duduk dan tunggu disini!" Pinta Davin yang menuntut sang istri duduk di kursi pantry.
"Dia terlihat menyayangimu," sela Rose kembali.
"Itu karena dia adalah sahabat, mommy," jawab Davin sambil memakai apron chef nya.
Davin mendekati sang istri dengan kedua tangan diletakkan di kedua sisi kursi yang diduduki Rose.
Davin mengecup sekilas puncak kepala istrinya dan turun ke bibir seksi sang istri.
"Kau, ingin memakan sesuatu?" Tanya Davin lembut di depan wajah istrinya.
Rose meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi rahang wajah keras Davin, menciumnya berkali-kali bibir legit sang suami.
"Aku akan memakan, apapun yang kau masak," sahut Rose di sela-sela kecupannya di bibir Davin.
__ADS_1
"Okay. Aku akan memasak makanan spesial untukmu," balas Davin yang menyesap sekilas bibir Rose.
"Aku akan menunggu, honey," bisik Rose sembari menggigit pelan bibir bawah suaminya.
"Kau, mulai nakal, baby." Davin terkekeh dan mulai mendekati meja kompor yang sudah tersedia beberapa bahan untuk diolah menjadi menu spesial untuk istrinya tercinta.
Rose hanya bisa menyimak aksi Davin di depan kompor dengan berpangku dagu menggunakan kedua tangannya.
Rose yang tidak tahan dengan godaan pesona suaminya, Saat terlihat serius dalam mengolah masakan.
Ia segera mendekati Davin dan memeluk suaminya dari arah belakang.
Davin jelas terloncat kaget dengan kedua tangan mungil istrinya kini melingkar di pinggang.
"Hey, disini berbahaya baby, kau akan terluka dan kepanasan." Ujar Davin lembut.
"Aku, ingin seperti ini," pinta Rose manja.
"Baby!" Erang Davin tertahan.
"Love you," bisik Rose yang merubah posisinya ke hadapan Davin.
"Love you," ulangnya dan mencium bibir sang suami.
"Baby …, love you," lagi. Rose mengulang ucapan cinta dan kali ini dengan nada merengek, saat Davin hanya terdiam.
Davin hanya menatap sang istri dengan menahan senyumannya, ia meraih rambut kecoklatan istrinya dan menggulungnya ke atas.
"Okay. Aku tidak akan mengganggumu," ketus Rose dengan mimik wajah ditekuk.
Ia bergeser sedikit ke samping dan bermaksud kembali ke tempatnya. Tapi — tiba-tiba Davin menariknya kembali kehadapannya.
__ADS_1
"Love you too."