Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 35


__ADS_3

Dengan senyum miring penuh kelicikan dan wajah dibuat sedramatis mungkin, Sisil mengayunkan tangannya dan bermaksud menyemburkan air jus ke wajah Rose.


"Byur" jus yang Sisil semburkan kini mengenai tepat di wajah dan menetes di pakaian seorang lelaki tampan.


Sisil yang merasa menggebu hanya bisa tercengang saat serangannya di tepat sasaran.


Sewaktu Sisil mendekat dan berniat menyemburkan jus tersebut ke wajah Rose, sang target menundukkan kepalanya ke bawah meja makan.


Akhirnya Nicko yang duduk di sisi kiri Rose menjadi sasaran Sisil, bermandikan jus jeruk.


Semua pengunjung terkejut dengan perbuatan Sisil.


Apalagi keempat penghuni meja VVIP tersebut.


Rose yang kebetulan sedang menunduk mencari pena nya yang terjatuh dan lekas mendongak.


Betapa terkejutnya dia melihat keadaan Nicko, ia lalu menoleh ke arah Sisil yang masih terlihat tercengang.


Nicko segera bangkit dan di susul sang adik.


"Apa yang kau lakukan, nona!" Gertak Nicko.


"Apa, masalahmu dengan, kakakku," timpal Natalie.


"Apa dia menghamilimu dan dia tidak ingin bertanggung jawab?" Lanjut Natalie.


"Pletak" Nicko yang mendengar celotehan sang adik langsung menjitak kening adik laknatnya.


"Aku memang penggila wanita, bahkan penyuka lubang ajaib, tapi …, aku juga memilih mana yang layak pakai, belum tentu luarnya terlihat bagus, tapi isi jalan tol l, mulus tanpa halangan," seloroh Nicko asal sambil menatap Sisil jengah.


Pria tampan dengan garis wajah yang menyerupai sang daddy itu, meraih sebuah tissue yang diserahkan seorang pelayan dan juga manajer restoran tersebut.


"Pelayanan restoran anda sangat, buruk." Lion melayang protes kepada sang manajer yang datang setelah memenuhi perintah dari Davin.

__ADS_1


"Maaf tuan, atas kelalaian kami," jawab sang manajer yang berusia setengah abad tersebut.


"Cih! Apa begini keamanan restoran kalian, membiarkan wanita stres masuk kedalam dan berniat menyerang saudara perempuan saya," bentak Lion.


Sisil yang mendengar ucapan Lion terdiam sesaat dan mencerna perkataan Lion, yang menyebut Rose adalah saudaranya.


"Saudara?! Batinnya bertanya sambil memandangi Lion dan Rose bergantian.


Tiba-tiba keberanian Sisil menciut dan wajahnya terlihat pias. Namun sebisa mungkin ia melawan rasa takutnya.


Ia pun mendongakkan kepalanya kembali dan menatap sengit ke arah Rose.


Yang ditatap malah santai sembari menikmati makan siangnya.


Membuat Sisil geram dan meradang, karena sudah dianggap remeh.


Lion masih berdebat dengan manajer restoran dibantu oleh Natalie.


Nicko yang membersihkan wajah dan pakaiannya di toilet khusus tamu VVIP.


"Ehem" manajer restoran itu berdehem untuk menyampaikan keinginan tuan muda Kato.


"Maaf, nona Sisil!" Seru sang manajer.


Sisil yang masih menunjukan perhatiannya kepada Rose, kini menoleh dengan dahi yang diolesi makeup tebal itu mengkerut.


"Apa?" Sentaknya tidak acuh.


"Anda harus mempertanggung jawabkan atas perbuatan yang nona lakukan," tutur sang manajer.


"Anda, harus meminta maaf kepada, nona muda, Kato," lanjut sang manajer.


Sisil hanya bisa membulatkan matanya dan bergeming tak percaya. "Jadi, wanita sombong ini, keturunan, Kato?" Monolognya dalam hati.

__ADS_1


Ia pun lantas merubah raut wajahnya, menjadi menantang.


"Ini, kesempatanku membuat wanita ini malu," batin Sisil licik.


"Nona!" Seru sang manajer.


"Tidak. Aku tidak akan pernah meminta maaf, kepada wanita murahan, ini," teriak Sisil yang terdengar seluruh pengunjung.


Sisil sengaja ingin mempermalukan Rose di depan semua pengunjung restoran.


"Jaga ucapanmu, nona. Kau sudah keterlaluan menghina, saudaraku." Lion beraksi mendengar hina Sisil terhadap saudara kembarnya, Rose.


"Apa? Ucapanku, memegang benar, dia wanita murahan, yang sudah menggoda kekasihku, ia bahkan menyerahkan tubuhnya kepada kekasihku di dalam, mobil." Pungkas Sisil menggebu.


"CUKUP!" Teriak Lion.


"ANDA SUDAH KETERLALUAN MENGHINA, SAUDARAKU, NONA!" Teriak Lion dengan mata nyalang.


Sisil yang sudah di atas awan merasa tingkat keberaniannya bertambah, saat mendengar kasat-kusut komentar para pengunjung.


"Cih! Aku tidak percaya, wanita sehebat dan sepintar dia adalah wanita murahan, penggoda kekasih, orang," sindir Sisil dengan tersenyum remeh.


"DASAR MU.RA.HAN!"


"Plak"


"Wanita, SIALAN!"


"Bugh"


"Argh"


__ADS_1


__ADS_2