Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 50


__ADS_3

Semua kini sudah berkumpul di ruangan besar yang terdapat di lantai dua Mansion granny Gabriela.


Kedua tersangka dalam tragedi mobil bergoyang kini duduk berdampingan, dengan raut wajah berbeda.


Lagi-lagi wajah Davin kembali memar dan terdapat bekas goresan kuku-kuku panjang Rose.


Buka hanya di wajah, di leher pria itu pun terdapat luka cakaran.


Sedangkan Rose, duduk dengan tidak nyaman, ia merasa inti tubuhnya terasa terganjal sesuatu dan terasa perih mengigit.


Granny memperhatikan tingkah sang cucu dengan wajah terangkat ke atas dan mata melirik.


Ia juga melirik pria yang ada di samping Rose yang memiliki tato di seluruh bagian tangannya.


Yang sedang meringis sambil mengompres luka memar akibat Bogeman Rose yang membuat rahangnya terasa retak dan hidungnya mengeluarkan cairan merah, akibat pukulan Rose beserta amukannya.


"Stt" desis Rose dan Davin bersamaan.


"Kalian, kenapa?" Tanya granny.


"Sakit," sahut keduanya bersamaan.


Rose dan Davin saling memandang dengan raut wajah sengit, dan kembali memalingkan wajahnya secara bersamaan juga.


"Apa yang sakit, nak?" Granny bertanya dengan tatapan mengarah kepada Rose.

__ADS_1


"Hmmp, tidak, granny!" Gumam Rose dengan wajah merah yang di sembunyikan.


"Apa, sesakit itu?" Kembali granny melayangkan pertanyaan.


"Hm! Rose mengumam sambil mengangguk.


"Apa kau terluka?" Kini Davin yang bertanya dengan dahi mengerut.


Rose hanya terdiam sambil mendelik tajam kesamping.


"Plak" nenek Margaretha yang gemes mendengar pertanyaan cucunya yang konyol, segera memberikan sang cucu tepukan keras di kepalannya.


"Tentu, saja terluka, karena perbuatan mu," geram nenek Margaretha sambil menarik telinga Davin.


"Sakit, nenek," adu Davin yang meringis kesakitan.


"Aku, tidak membuatnya terluka," elak Davin.


Membuat Rose menoleh dengan wajah berang dan marah.


"Apa, katamu. Kau tidak melakukan apa-apa? Terus yang membuat inti tubuhku terluka siapa? Itu karena, jamur raksasa beracun milikmu," sentak Rose dengan wajah merah, karena emosi.


"Jamur raksasa beracun?! Semua orang membeo dengan tatapan bingung dan penasaran.


"Apa, kau memiliki jamur raksasa? Sejak kapan, kau, memiliki jamur?" Cerca nenek Margaretha, dengan raut penasaran.

__ADS_1


Davin hanya bisa mencenggir dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia lalu melirik Rose yang hanya mendesis tajam ke arahnya.


Granny yang memiliki kemesuman tingkat meningkat itu pun mulai paham dengan ucapan sang cucu.


"Jamur apa, bodoh," sentak nenek Margaretha.


"Jamur ajaib tersembunyi," timpal Nicko dengan alis tebalnya yang naik-turun.


"Aku pun memilikinya, tapi, punyaku kurang terbentuk, mungkin aku harus mengukirnya juga," celetuk Nicko dengan tingkah konyolnya.


"Pletak" lagi, Nicko mendapatkan sahutan dari Tongkat granny yang terbuat dari kayu.


Nicko hanya bisa mengusap kepalanya dengan bibir mencibir dan bersungut-sungut.


"Oh, iya Rose, apa dia juga memiliki tato di bagian itu?" Bisik Nicko yang masih bisa terdengar.


Wajah Rose terlihat merona, saat mengingat benda bentuk jamur raksasa ajaib milik Davin.


"Apa yang katakan, bedahan," geram Lion.


"Ck! Aku hanya penasaran, dengan bentuk dan warnanya. Apakah dia juga memiliki tato, sayap atau akar." Nicko mendelikkan matanya kepada Lion dengan bibir yang masih mencibir.


"Cucu, laknat! Kau membuat, granny perpikir kemana-mana," sentak granny, yang ikut melukiskan tentang jamur ajaib beracun apabila menggunakan tato sayap dan akar.


"Tidak, masalah granny, bukankah, aku sudah memberikanmu sebuah boneka, penghilang kesepian?" Sahut Nicko dengan wajah bangga.

__ADS_1


"Nickolas Keller!!" Pekik granny yang siap melayangkan tongkatnya kepada Nicko.


Semua orang yang ada di sana menghela nafas, melihat tingkah cucu dan nenek itu.


__ADS_2