
Suasana pesta di salah satu hotel ternama di kota Los Angeles, kini semakin ramai oleh para tamu undangan.
Sebuah acara pesta ulang tahun salah satu pengusaha sukses yang berasal dari negeri ginseng.
Tuan, Kim Yun Taek yang dulunya adalah pemimpin salah satu perusahaan yang bergerak di pertambangan batubara dan juga minyak.
Tapi sekarang perusahaan tuan Kim di pimpin oleh sang cucu setelah putra satu-satunya meninggal dunia dalam tragedi kecelakaan pesawat pribadi mereka.
Fang Yu Taek, adalah cucu satu-satunya tuan Kim yang menjadi ahli waris kerajaan bisnisnya.
Sosok pria penuh wibawa dan kharismatik, dengan didukung oleh garis wajah tampan pun kulit putih bersih.
Pria yang sekarang sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke 33 tahun.
"Selamat malam, nyonya," sapa cucu tuan Kim, yang membungkukkan sekilas tubuhnya untuk menghormati granny, ia juga mengarah tangannya kepada granny dan nenek Margaretha.
Granny dan nenek Margaretha bergantian menyambut dan membalas sapaan pria berwajah mulus di depan mereka.
"Wajahmu, terlihat mulus sekali, nak!" Seru granny meraih wajah Fang Yu dan mengelusnya.
"Wajahmu tanpa pori-pori dan juga tanpa rambut-rambut halus," lanjut granny lagi sembari menilai wajah Fang Yu.
"Mulus, lembut dan halus," gumam granny.
"Kau mengingatkan granny dengan wajah mudaku anak, muda," Seloroh granny dengan tatapan menerawang.
"Yap, kau terlihat cantik." Tuan Kim menyela ucapan granny.
"Cucumu, pas di sebut pria, cantik," komentar granny membuat Fang Yu tersenyum kikuk.
Granny terus mengoceh tentang masa lalu mereka dengan, sedangkan Fang Yu hanya menjadi pendengar dalam diam.
Pria berwajah oriental itu, menyusuri suasana pesta dan tatapannya kini mengunci kepada sosok wanita cantik yang sedang berjalan ke arah mereka.
Fang Yu, terlihat membeku di tempatnya dengan debaran jantung semakin bertalu-talu.
Rose semakin dekat ke arah mereka dan Fang Yu, semakin gugup dengan tatapan terus ia fokuskan kepada Rose.
_____
"Granny!" Seru Rose, saat ia berada dekat dengan granny dan nenek Margaretha.
Fang Yu, terlihat tercengang dengan apa yang barusan ia dengar. "granny? Berarti, dia cucu dari sahabat, kakek?" Gumam Fang Yu dalam hati.
"Ada apa, nak?" Tanya granny dengan tatapan penasaran.
"Tidak!" Sahut Rose yang berdiri di sisi kedua wanita paruh baya itu.
"Kemana, Davin, nak?" Nenek Margaretha bertanya kepada Rose dengan pandangan menyusuri seluruh penjuru ballroom.
"Astaga, anak, itu," gumam nenek Margaretha, ketika menangkap sosok sang cucu berada di depan pantry ballroom hotel.
"Apa yang dia lakukan disana?" Granny bersuara dengan pelan.
"Memasak," jawab nenek Margaretha cuek.
"Lihatlah, cucu menantuku sangatlah tampan, membuat para wanita menjerit." granny melirik berubah raut wajah Rose yang terlihat tidak suka dengan para wanita yang mengambil gambar suaminya.
Dengan wajah merah padam, Rose kembali mendekati sang suami yang terlihat sibuk mengolah masakan.
"Kau, selalu saja menggoda, cucumu," gerutut nenek Margaretha.
"Lihatlah, cucuku yang berhati dingin itu menjadi, budak cinta," seloroh granny senang.
"Kau, benar. Cucuku yang tampan pun menjadi budak cinta," sahut nenek Margaretha.
Kedua wanita tua itu pun saling bersulang gelas berisi cairan putih.
Granny dan nenek Margaretha nampak melihat gelas yang ada di tangan keduanya.
Mereka juga terlihat mendekatkan gelas mereka ke hidung, mencium aroma minuman tersebut.
"Apa ini alkohol, Kim?" Granny menunjukkan gelas yang ada di tangannya kepada tuan Kim.
"Ini hanya, minuman bersoda, nyonya," Fang Yu yang menjawab pertanyaan granny dan juga rasa penasaran kedua wanita tua itu.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya, nyonya." Fang Yu memperlihatkan senyum terbaiknya kepada granny dan nenek Margaretha.
Granny dan nenek Margaretha pun menyesap minuman yang berada di genggaman mereka.
Kedua wanita paruh baya itu terus menyesap minuman bersoda tersebut hingga gelas yang berada di tangan mereka kosong.
"Ehem" Fang Yu berdehem untuk mengalihkan perhatian granny dan nenek Margaretha.
Benar saja, granny dan nenek Margaretha menatap Fang Yu dengan alis tuanya terangkat keatas.
"Apa, wanita tadi cucu anda, nyonya?" Dengan intonasi suara pelan dan penuh keramahan, Fang Yu, mencoba mencari tahu tentang wanita yang sejak dulu ia kagumi dalam diam.
"Wanita yang mana? Soalnya, dia pun wanita. Tapi yang ini sudah kadaluarsa dan tidak layak pakai," Seloroh granny sambil menunjuk nenek Margaretha yang berada di sampingnya.
"Dasar sahabat, laknat!" Nenek Margaretha tampak merajuk.
Fang Yu hanya bisa mengusap tengkuknya dengan sudut bibir di paksa terangkat ke atas.
"Maaf, nyonya. Maksud saya, wanita yang bergaun hitam tadi, nyonya," tukas Fang Yu.
"Oh. Dia salah satu cucu saya, nak. Namanya Rose light Kato, bukankah, kalian sedang bekerja sama?" Jelas granny dan diakhiri pertanyaan di perkataan granny.
"Iya nyonya, kami baru saja menandatangani surat kontrak kerjasama," pungkas Fang Yu.
"Semoga, kerja sama kalian berjalan lancar." Doa tulus pun usap lembut granny berikan kepada Fang Yu.
"Aku hanya bisa berdoa sampai batas di sini saja, karena tidak, mungkin aku mendoakan kalian semoga berjodoh," pungkas granny dengan tersenyum samar.
Granny dapat melihat tatapan penuh arti kepada cucunya itu, dan granny juga bisa melihat ada harapan lain yang pria tinggi di hadapannya ini, inginkan selain kontrak kerjasama.
Fang Yu menatap lekat wajah tua granny dengan mata mengkerut dan menyipit.
Granny tersenyum kepada Fang Yu dan mengusap lembut pundak pria di depannya.
"Dia sudah milik pria lain. Dia, sudah menikah," ungkap granny setengah berbisik.
Fang Yu terlihat terkejut dengan tubuh membeku, ia tidak percaya, kalau wanita pujaannya sudah menikah.
Rose juga kini melangkah kembali ke arahnya, bukan. Lebih tepatnya mendekati granny.
Fang Yu tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya kepada Rose yang terlihat begitu cantik dan mempesona.
Salah kah, dirinya bila mengagumi wanita yang kini berada di hadapannya ini?
Fang Yu juga bisa melihat pria yang kini memeluk Rose dari belakang dan menghadiahi wanita pujaannya itu ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah cantik Rose.
Fang Yu hanya bisa bergeming di tempatnya dengan perasaan panas dan juga perasaan menyesakkan.
Tiba-tiba sebuah telapak tangan yang terasa bergetar menepuk pundak kekarnya.
"Lupakan lah, nak. Dia, bukan untukmu," tegur sang kakek yang mengerti dengan perasaan cucunya itu.
Fang Yu hanya tersenyum getir dan membuang pandangannya ke samping, saat netranya melihat pasangan suami-istri saling bercumbu mesra.
______
"Rose, kemarilah!" Pinta granny Gabriela.
Rose dan Davin yang masih saling bercumbu menoleh ke arah granny.
"Kemarilah!" Pinta granny sekali lagi.
Rose menarik tangan suaminya lembut untuk lebih dekat dekat dengan granny.
"Sapa mereka, nak!" Suruh granny kepada sang cucu untuk menyapa tuan Kim dan cucunya.
"Ucapkan selamat," bisik granny di dekat telinga Rose.
Davin yang mengenali wajah Fang Yu, segera memasang siaga satu.
Ia sangat mengenali sosok pria bermata sipit di depan mereka, dia pria yang menatap sang istri penuh puja dan harapan.
Davin tidak sedikitpun melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang ramping Rose. Pria itu seakan-akan mengatakan kepada Fang Yu, kalau Rose adalah miliknya.
__ADS_1
Dengan tatapan tidak suka, Davin segera melepaskan tangan sang istri dari tangan Fang Yu, saat keduanya sedang berjabat tangan.
"Ayo, baby!" Davin segera menarik sang istri dan menjauh dari Fang Yu yang terlihat masih menatap Rose.
Sedangkan para lansia masih asyik berbincang-bincang, tanpa memperdulikan wajah sedih Fang Yu.
"Hey, gadis tua ku!" Seru seorang pria tampan dengan wajah usilnya.
Granny, tuan Kim dan nenek Margaretha, menoleh ke arah asal suara dan mereka bisa melihat wajah mengesalkan Nicko yang sedang merangkul pinggang seorang wanita yang bertubuh sintal nan seksi.
"Akh! Granny dan nenek Margaretha beraksi saat menyusuri penampilan wanita di samping cucu konyolnya itu.
"Dimana kau menemukannya?" Tanya granny dengan mata terus menatap sang cucu tajam.
"Siapa?" Nicko balas bertanya.
"Dia! Wanita yang berpakaian kurang lengkap ini." Granny menunjuk wanita di samping Nicko yang mengenakan gaun malam yang serba terbuka.
"OH ladies ku, ini namanya, gaya," sahut Nicko yang tersenyum senang.
"Gaya apa? Gaya gembel, atau gaya wanita yang menawarkan, ceplok-ceplok." Granny terlihat emosi melihat kelakuan cucu laknatnya itu.
Nicko pun hanya bisa memamerkan cengirannya dan menggaruk lehernya yang kebetulan gatal.
"Singkirkan dari hadapan, granny!" Sentak granny dengan wajah geram.
"Nickolas!" Teriak granny emosi, saat cucu tengilnya itu, berpura-pura tidak mendengarkan perintahnya.
Dengan berat hati Nicko pun, menyuruh wanita yang bersamanya pergi, atau tidak, dirinya yakin wanita tua di sampingnya akan memberikan pukulan dan juga cubitan hot.
"Kenalkan, dia tuan Kim dan cucunya. Beri salam dan selamat!" Perintah granny kepada Nicko sedikit memaksa cucunya itu membungkuk tubuh tingginya.
"Selamat ulang tahun, tuan. Kenalkan saya Nicholas Keller," sapa Nicko ramah.
Fang Yu membalas uluran tangan Nicko dan mengucapkan terimakasih atas ucapan selamat ulang tahun untuknya.
"Fang Yu," balas pria berdarah negeri ginseng tersebut ramah.
Nicko terlihat membolakan matanya dengan wajah mulai merah mendengar perkataan Fang Yu.
"F*ck you?" Monolog Nicko.
"Anda mengatai saya?" Ujar Nicko geram.
Fang Yu, nampak kebingungan dengan raut wajah Nicko yang terlihat emosi dan berbicara ketus kepadanya.
"Why?" Tanya Fang Yu.
"Saya mengenalkan diri dengan ramah, sesuai anjuran ladies tua ini. Tapi, anda mengatai saya," pekik Nicko.
Granny dan yang lainnya kini menyimak perdebatan Nicko dan Fang Yu.
"Dimana letak kesalahan saya, tuan?"
"Nicholas Keller!" Nicko kembali memperkenalkan dirinya.
Meskipun terheran-heran, Fang Yu pun mengenalkan dirinya kembali.
"Fang Yu," balas Fang Yu.
"Nicholas Keller!
"Fang Yu."
"Nicholas Keller," lagi Nicko mengulang memperkenalkan dirinya dengan wajah bertambah merah.
"Fang Yu."
"Brengsek! Bugh, bugh, bugh."
"Nicholas Keller, apa yang kau lakukan!"
"Dia mengataiku, f*ck you, granny."
"OH Tuhan, ini salah mu, memberikan nama kepada cucumu."
__ADS_1