
"Ehem" suara deheman mengejutkan dua wanita lanjut usia yang sedang, menempelkan telinga mereka di daun pintu.
Granny dan nenek Margaretha, menoleh ke asal suara dengan wajah tidak acuh.
Setelah melihat, siapa yang mengganggu aktivitas mereka, granny dan nenek Margaretha menempelkan kembali telinga keduanya.
"Dasar, nenek-nenek, nakal!" Ketus Nicko, yang berjalan mendekat ke arah, granny dan nenek Margaretha.
"Berhentilah, bertingkah konyol, para gadis tua," Sentak Nicko dengan intonasi suara menggelegar.
Wajahnya dibuat garang dengan kedua tangannya di pinggang.
"Pletak"
Granny menghadiahi Nicko sebuah ketokan di kepala dengan menggunakan tongkat.
"Dasar, pengganggu," bisik granny dengan raut wajah mengancam.
"Ingat umur dan dosa, wahai para wanita, tua," ujar Nicko dengan wajah tegas dan suara berat bagaikan pemuka agama.
"Diamlah, cucu, laknat. Anggap saja ini salah satu hiburan, granny,"
"Cih! Dasar nenek-nenek, kurang encok," cibir Nicko yang juga ikut menempelkan telinganya di daun pintu kamar Rose dan Davin.
Baru saja Nicko menempelkan telinganya di daun pintu. Tiba-tiba daun pintu tersebut, terbuka dari dalam dan Nicko terhuyung dan jatuh ke dalam kamar Rose.
"Apa yang kau, lakukan?" Tanya Rose sambil menatap Nicko yang berada di lantai.
"Aku menemani, granny dan nenek," sahut Nicko sembari bangkit.
"Granny? Nenek?" Rose membeo dengan mata menelusuri ke mana-mana.
Tapi kedua wanita tua itu, sudah tidak berada di tempatnya.
Rose menajamkan matanya ke arah Nicko yang ternganga dengan wajah bingung.
"T β tadi, granny dan nenek ada di sini," terang Nicko sambil menunjuk letak jejak granny dan nenek Margaretha tadi.
Rose hanya terdiam dengan wajah datar dan dingin, jangan lupa, sorot matanya yang tajam ke arah Nicko.
"Serius, aku menemani, granny tadi," lirih Nicko dengan wajah kebingungan dengan menggaruk kepalanya.
"Dasar, nenek-nenek, licik," geram Nicko dalam hati.
"Ayo! Ajak seseorang yang baru muncul dari arah balkon.
Davin meraih tas yang di tangan istrinya, lalu meraih telapak tangan Rose dan menariknya keluar dari kamar.
Rose pun menurut, mengikuti langkah sang suami.
Pasangan pengantin baru itu pun berjalan ke arah lift yang ada di ujung lantai tiga dengan saling bergandengan tangan.
"Apa tidak ada yang tertinggal?" Tanya Davin yang memasukkan kembali ponselnya di saku celana kain miliknya.
"Tidak ada," jawab Rose sambil mengingat-ingat sesuatu.
"Kau yakin, sayang?" Tanya Davin sekali lagi, dengan raut lembut.
Pria itu juga tidak bosan-bosannya mengecupi telapak tangan Rose yang berada di genggamannya.
"Hm! Rose bergumam dan mengangguk.
"Okay!" Ucap Davin sambil merapikan rambut coklat kemerah-merahan sang istri ke belakang.
"Aku suka wangi rambutmu, baby," bisik Davin di puncak kepala Rose.
Rose hanya tersenyum dengan kepala menunduk, hatinya begitu berbunga-bunga mendapatkan perhatian lembut dan manis pagi-pagi dari suaminya.
Sementara Nicko kini sibuk mencari keberadaan dua wanita tua yang sudah meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
"Kemana kedua gadis tua itu?" Tanya Nicko yang mencari di seluruh ruangan di lantai tiga.
"Dasar gadis tua, licik," geram Nicko.
Pria tampan dengan tubuh tinggi atletis itu pun menuruni tangga dengan wajah kesal dan malu.
"Selamat pagi!" Seru Rose setelah memasuki ruangan makan yang sudah tersaji beberapa makanan di atas meja.
Davin dengan sigap menarik kursi makan untuk sang istri.
"Selamat pagi, mom, dad, granny dan nenek," sapa Davin yang menghampiri nenek Margaretha dan mencium pipi sang nenek.
"Hey, anak muda. Jangan membuat jiwa iri ku meronta," sentak granny yang menghentikan langkah Davin yang ingin duduk di samping sang istri.
Semua orang pun memutar bola mata mereka melihat tingkah granny.
Davin pun kembali mendekat ke arah granny dan mencium pipi tua wanita itu.
"Tubuhmu wangi sekali, boy," puji granny dengan wajah senang.
"Dasar wanita tua, nakal," sinis nenek Margaretha.
Kim hanya bisa menghela nafas melihat tingkah ibu mertuanya, pun suaminya yang menyusutkan Tubuhnya di punggungnya, saat melihat menantu pertama mereka.
Kim tersenyum lembut kepada Davin yang mengucapkan selamat pagi.
"Kau ingin sarapan apa, nak?" Tanya Kim.
"Rose!" Seru Kim kepada putrinya yang asyik dengan iPad di tangan.
"Hm, mom," sahut Rose tanpa menoleh.
"Kau, harus men, β¦." Ucapan Kim terpotong saat menantunya Davin menyelanya.
Kim harus memberikan pelatihan khusus buat anaknya agar bisa melayani suaminya nanti.
Sedangkan Arthur masih menyembunyikan wajahnya dan sesekali mengintip menantunya itu, ia pun bisa menghela nafas lega saat melihat penampilan Davin yang mengenakan setelan tertutup.
Granny yang melihat wajah lega sang anak pun tersenyum miring.
"Cucu menantu!" Seru granny yang menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyuapi Rose.
"Iya, granny," jawab Davin tanpa menatapnya karena dia sibuk menyuapi sang istri.
"Jam berapa sekarang, nak?" Tanya granny asal dengan melirik Arthur yang mulai memakan sarapannya.
Davin mengernyit bingung, tapi ia juga mengangkat lengan kemeja hitamnya hingga memperlihatkan tato di tangannya.
"Huk, huk, hukh." Tiba-tiba Arthur tersedak makanannya dan terbatuk-batuk, wajahnya pun langsung pias. Ia kembali menyusupkan wajahnya di punggung Kim.
Dengan tersenyum usil, granny, dengan wajah tanpa bersalah meneruskan sarapannya.
Davin hanya bingung melihat mertua lelakinya dan juga semua orang memandangi granny yang berwajah tidak acuh.
"Maaf, aku sengaja," ucap granny cuek sambil berdecak kesal ke arah Arthur.
"Sama tato takut, tapi membuat tato setiap hari." Granny terdengar mengerutut kesal dengan bibir mencibir ke arah Arthur.
"Kau yakin tidak ingin aku, mengantarmu?" Davin dan Rose kini berada di parkiran luas yang ada di Mansion granny.
"Tidak, perlu," jawab Rose lembut sambil membalas tatapan lembut Davin.
__ADS_1
"Hm, baiklah," sahut Davin yang membukakan pintu mobil untuk Rose.
Menuntun istrinya masuk kedalam mobil dengan sebelah tangannya berada diatas kepala Rose.
Davin juga memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya dan memeriksanya, menyakinkan, kenyamanan dan keselamatan sang istri.
"Selesai!" Serunya dan mengecup sekilas kening dan bibir Rose.
"Berhati-hatilah," pesan Davin untuk sang istri.
"Hm, kau juga," balas Rose yang memberanikan dirinya mencium pipi Davin.
Davin menahan tengkuk Istrinya, saat Rose yang segera menjauhkan wajahnya dari wajah Davin.
Davin menyesap lembut bibir bawah Rose yang berisi itu, bergantian bibir atas Rose.
Rose pun membalas cumbuan suaminya dengan mata terpejam, kedua tangannya meremas kuat kemeja hitam milik suaminya.
"Aku akan menjemputmu nanti siang, jadi, tunggu aku," bisik Davin lembut.
Rose mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.
Davin sekali lagi mencium kening dan bibir istrinya, sebelum, benar-benar menutup pintu mobil Rose.
Davin melambaikan tangannya saat mobil Rose sudah bergerak pelan menuju pagar kokoh Mansion granny.
Davin menerbitkan senyum tampannya dan menyentuh dadanya yang berdebar menyenangkan.
"Dia begitu cantik," gumam Davin.
Pria itu pun berjalan ke arah motor besarnya, ia terlihat memakai jaket kulit yang bagian depannya terlihat tebal, sarung tangan, dan terakhir helm full face nya.
Davin pun menunggangi kuda besi kesayangannya dan melesat keluar parkiran Mansion granny.
"Kau, akan menjadi milikku, Davin Jackson," gumam seorang wanita yang berada di dalam mobil mewah saat melihat Davin keluar dari Mansion granny.
__ADS_1
Wanita itu pun mengikuti jejak Davin yang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.