Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 62


__ADS_3

"Selamat siang, tuan!" Seorang pria yang berdiri di pintu lobby utama di perusahaan Kato group, memberikan salam kepada, suami dari pimpinan perusahaan tersebut.


"Selamat siang, paman," balas Davin ramah sambil menepuk pundak pria berkulit hitam itu.


Penjaga pintu lobby utama itu, tentu saja terkejut dengan sikap ramah, suami dari nona boss mereka yang terkenal arogan.


"Apa, nona kalian, ada?" Tanya Davin sambil merotasi pandangannya keseliling lobby utama perusahaan Kato group.


"A – ada, t – tuan. Nona berada di lantai paling atas," jawab sang penjaga lobby perusahaan dengan gugup.


"Baiklah, terima kasih paman. Dan, jangan terlalu tegang bertemu denganku, paman," ujar Davin sambil menepuk pundak pria hitam tersebut.


Davin pun melangkah lebih kedalam lobby yang ramai para karyawan lalu lalang, karena waktu jam makan siang, jadi para karyawan kini masing-masing menuju pintu keluar untuk mencari makan siang di tempat favorit mereka.


Sebagian juga karyawan, memilih menu masakan di kantin perusahaan yang sudah disiapkan dari pihak perusahaan itu sendiri.


Mungkin karena sebagian karyawan merasa bosan dengan menu masakan khusus karyawan perusahaan itu-itu saja.


Bagi karyawan baru atau karyawan level bawah, merasa senang dengan adanya menu khusus para karyawan disajikan di kantin, yang memiliki fasilitas mewah tak kalah mewahnya dengan restoran mewah.


Rose sekali-kali ikut menikmati menu masakan di kantin perusahaannya dengan menempati meja khusus.


Ia ingin menyakinkan sendiri kelayakan masakan yang akan diberikan kepada ratusan karyawannya.


_________


Davin keluar dari lift khusus untuk pemimpin perusahaan dengan tote bag di tangan kanannya.


Ia tampak tersenyum ke arah para karyawan yang menyapanya dengan menundukkan kepala mereka.


Seluruh karyawan sudah mengenal Davin adalah, suami dari nona boss mereka, jadi patut dihormati dan dihargai seperti nona Rose.


"Selamat, siang. Apa nona, kalian, ada?" Davin menyapa wanita yang berada di luar ruangan Rose yang merupakan sekretaris sang istri.


Wanita itu lantas mendongak dan segera berdiri memberikan hormat setelah mengetahui siapa yang menyapanya.


"Selamat siang juga, tuan." Wanita dengan tampilan formal itu membalas sapaan Davin dengan membungkukkan setengah badannya.


"Apa, dia ada di dalam?" Tanya Davin sekali lagi dengan mata mengarah ke arah pintu ruangan sang istri.


Wanita itu pun mengikuti arah pandang Davin dan kembali menundukkan kepalanya.


"Maaf, tuan. Nona sedang berada di ruangan, meeting," jawab wanita itu dengan kacamata bertengger di hidungnya.


"Hm!" Gumam Davin sedikit kecewa.


"Anda, bisa menunggu di dalam," sela sekretaris Rose.


Davin nampak berpikir dengan memandangi pintu ruangan sang istri.


Ia lalu menatap wanita di hadapannya yang masih setia menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dimana ruang meetingnya?" Tanya Davin.


"Di sebelah sana tuan." Sekretaris Rose pun mengarahkan kedua tangannya menuju jalan ke arah ruang meeting dengan hormat.


"Biarkan, saya mengantar anda, tuan," tawar sekertaris Rose ramah.


"Tidak perlu, biar aku sendiri, saja," tolak Davin lembut dan tersenyum ramah.


"Saya titip ini," ucap Davin sambil menyerahkan tote bag berisi masakan spesial untuk sang istri.


"Baik, tuan," jawab sekretaris Rose sambil meraih tote bag yang diserahkan Davin.


"Terima Kasih," ucap Davin dan kembali melemparkan senyum ramahnya.


Sekretaris Rose hanya bisa menundukkan kepalanya, dan ia tidak menyangka, suami dari nona bos-nya begitu ramah.


Ia terus menunduk kepalanya hingga Davin melangkah ke arah ruang meeting.


Setelah itu, sekretaris Rose nampak terlihat memasuki ruangan Rose dengan titipan Davin di tangannya yang akan ia letakkan di meja sofa yang ada di ruangan nona bos-nya.


_______


"Terimakasih, atas persetujuan kerjasama nona, Rose light Kato." Ucapan terimakasih itu datang kepada seorang pria dengan wajah khas kebangsaan orang negeri ginseng.


Ia mengulurkan tangannya, dengan wajah berseri-seri.


Karena bisa bertemu dengan wanita sehebat Rose yang sudah lama ia kagumi dalam diam.


"Sama-sama, dan semoga kerjasama kita berjalan dengan, lancar." Rose membalas uluran tangan pria berwajah oriental itu dengan wajah datar dan intonasi suara penuh kewibawaan seorang pemimpin perusahaan.


Niat hati ingin berbicara di luar jalur tentang kerjasama, harus terhalang dengan sikap kaku dan dingin Rose, membuat pria berkulit putih khas orang Korea itu hanya tersenyum kikuk.


Apakah ia butuh bahan obrolan santai untuk membuat suasana menjadi nyaman.


Sedangkan ia pun seorang pria yang tidak paham dengan cara mendekati seorang wanita, karena hal ini adalah pertama baginya berdekatan dengan seorang wanita dari jarak dekat.


Pria itu hanya bisa menatap Rose dengan tatapan kagum dan penuh harapan, ia tidak sedikitpun memalingkan pandangannya dari sosok Rose yang terus saja berbincang-bincang dengan para kliennya yang lain.


Rose hanya cuek menanggapi tatapan penuh puja oleh pria berwajah tampan itu.


Ia bahkan tidak henti-hentinya menatap jam tangan yang bertengger di pergelangan tangannya dan melirik ke arah pintu ruangan.


"Ingin makan siang bersama, nona?" Pria yang sejak tadi menatap Rose menawarkan untuk makan siang bersama.


Rose yang mengalihkan perhatiannya ke pintu ruangan kini menoleh kesamping.


"Maaf, saya tidak bisa, tuan," tolak Rose dengan nada sopan, meskipun dengan raut wajah datar.


"Baiklah," jawab pria berkebangsaan Korea itu dengan wajah kecewa.


Pria itu terlihat berdiri dari duduknya setelah seorang pria di belakangnya dengan sigap membantunya menarik kursi yang ia duduki.

__ADS_1


Rose pun ikut bangkit untuk menghormati kliennya, ia juga membalas uluran tangan pria itu dan berjalan mengantar kliennya itu hingga ke pintu.


Semua kliennya yang ada di ruangan itu pun ikut berpamitan meninggalkan perusahaan Kato group.


Rose berjalan lunglai ke arah kursi yang ia gunakan tadi di ruangan meeting.


Rose tampak menghela nafas lelahnya dengan punggung bersandar di sandaran kursi.


Rose mendengus kesal dengan wajah cemberut saat menatap jarum jam di pergelangan tangannya.


"Dia menipuku," sungut Rose dengan wajah kesal.


"Apa, dia pikir aku sedang menunggunya? Cih, tidak akan." Rose bergumam sendiri dengan wajah cemberut kesal.


Ia lalu bangkit dan membereskan beberapa berkas dan juga laptopnya, lantas segera melangkah ke arah pintu ruangan dengan wajah kesal.


Tanpa ia sadari, kalau seorang pria sejak tadi memperhatikannya dengan senyum mengembang.


Yah sejak tadi Davin berdiri di balik dinding, menyaksikan dan mendengar percakapan istrinya dengan seorang pria tampan.


Tentu saja dia geram dan tubuhnya terasa memanas, saat seorang pria menatap istri cantiknya dengan tatapan puja dan penuh harap.


Namun Davin dengan sekuat tenaga menjaga sikapnya, ia tidak ingin membuat images sang istri rusak di depan para kliennya.


Jadilah ia menjadi penyimak, saat istrinya tidak sedikitpun menanggapi ucapan pria itu, membuat Davin merasa lega.


Apalagi, ia dapat melihat wajah menunggu sang istri, yang tidak hentinya melirik jam tangannya dan juga pintu.


Davin pun terkekeh, saat mendengar gumaman kesal istrinya dan melihat wajah kesal sang istri yang terlihat menggemaskan.


"Mau,makan siang bersamaku, nona?" Rose menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang sangat ia kenali.


Dengan senyum ceria, Rose membalikkan tubuhnya, ia bisa melihat sang suami berdiri, bersandar di dinding dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.


Senyum Rose terus mengembang, melihat wajah tampan dan cool sang suami.


Davin merentangkan kedua tangannya, dan segera saja Rose mendekati sang suami dengan langkah panjang, masuk kedalam pelukan Davin yang begitu hangat dan menyenangkan.


"Kau, menunggu baby?" Davin berbisik di telinga istrinya dan memberikan ciuman di sana dengan kedua tangan kekarnya memeluk tubuh ramping Rose.


"TIDAK! Sentak Rose yang segera melepaskan diri dari pelukan suaminya dan memasang wajah datar.


Davin hanya tersenyum miring dan menarik kembali Rose ke dalam pelukannya dan menghadiahi sang istri ciuman di seluruh wajah.


"Lepaskan, dasar menyebalkan," segera saja Rose melangkah ke arah ruangannya dengan rona wajah merah.


"Ck! Davin hanya berdecak dan mengikuti sang istri.


Pria yang sejak tadi menatap Rose dengan tatapan puja, hanya bisa melihat interaksi Rose dan Davin dengan tatapan tidak suka.


Ia merasa kecewa dengan Rose yang lebih tertarik dengan pria bergaya urakan daripada dengannya yang serba rapi.

__ADS_1


"Apa pria seperti itu yang ia sukai?" Tanyanya kepada seorang pria dengan pakaian formal di belakangnya.


"Mungkin, tuan," sahutnya dengan kepala menunduk.


__ADS_2