
Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam pekat, berhenti di depan pintu lobby salah satu hotel berbintang dan terkenal di kota Los Angeles.
Salah satu penjaga hotel dengan sigap membuka pintu yang ada di balik kemudi.
Keluarlah seorang pria tampan dan gagah dengan postur tubuh tegap, berpenampilan rapi pun maskulin.
Pria tersebut menghalangi sang penjaga yang ingin membuka pintu mobil di bagian sebelahnya.
"Tidak perlu, biarkan saya, saja," cegah Davin dengan nada ramah.
"Terima Kasih," ucap Davin saat penjaga pintu lobby hotel kembali ke tempatnya.
Davin terlihat mengangkat pintu mobil satunya dan mengulurkan telapak tangannya kepada sang istri dan disambut dengan cepat sang istri.
Davin menutup kepala pintu mobilnya dan membiarkan seorang pelayan hotel memindahkan mobil mereka.
Dengan saling berpegangan tangan, pasangan pengantin baru itupun memasuki lobby hotel, yang di sambut oleh beberapa pihak penyelenggara acara tersebut.
Rose mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tas tangan mewahnya dan menunjukkan kepada pihak yang menjaga keamanan acara yang sekarang dihadiri oleh Rose dan Davin.
Kedua pasangan itu pun kembali melangkah mengikuti salah satu dari pihak penyelenggara acara.
"Silahkan, nona, tuan." Dengan ramah, pihak dari pemilik acara pesta tersebut mempersilahkan keduanya masuk kedalam ballroom hotel yang berada di lantai dasar.
"Terimakasih." Davin yang mengucapkan terimakasih dengan ramah.
"Bisakah, senyumanmu hanya, untukku," bisik Rose dengan nada ketus.
Davin menghentikan langkahnya dan membawa sang istri kehadapannya.
"Why?" Dengan dahi terangkat keatas, Davin ingin mendengar sekali lagi perkataan sang istri.
"Aku tidak suka, kau tersenyum kepada wanita, lain," ketus Rose dengan bibir manyung.
"Cup! Kau cemburu, baby," goda Davin sambil mengecup bibir wanitanya.
"Apa salah, seorang istri, cemburu saat suaminya tebar pesona," jawab Rose dengan ketus.
Davin hanya tersenyum melihat wajah tidak suka sang istri, apabila dirinya tersenyum kepada wanita lain.
Ia merasa berbunga-bunga, karena sang istri menggap dirinya Sangatlah berharga dan menjadikan dirinya adalah barang penting buat sang istri.
"So cute," bisik Davin di depan wajah Rose.
Rose nampak terlihat merona dan segera memalingkan wajahnya ke samping.
"Dasar, suami tukang, gombal," cicit Rose dan segera melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"OH Tuhan, dia begitu menggemaskan," monolog Davin sambil menggigit bibir bawahnya.
"Baby, tunggu aku!" Pekik Davin yang segera menyusul sang istri.
__ADS_1
Davin kembali menggenggam telapak tangan Rose dan membawanya menuju tempat berlangsungnya acara pesta, yang dihadiri oleh banyak orang.
Sebagian orang kini memusatkan perhatian mereka kepada tamu yang baru datang, yaitu, Rose dan Davin.
Yang tampak begitu memukau dan mengagumkan. Terlihat begitu serasi dan membuat sebagian tamu undangan merasa iri.
_____
"Kalian baru tiba?" Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menegur mereka berdua.
Davin dan membalikkan badannya dan mereka bersamaan tersenyum kepada granny dan nenek Margaretha.
"Kalian, disini juga?" Tanya Rose balik bertanya, ia menghampiri granny dan nenek Margaretha, memeluk wanita paruh baya itu dan menghadiahi kecupan.
Begitu juga dengan Davin, memeluk kedua wanita tua tersebut dan memberikan kecupan lembut di kedua pipi para wanita tua tersebut.
"Ini, adalah acara salah satu cucu teman, kami," jawab granny.
"Benarkah?! Sahut Rose dan Davin.
"Hm! Ini adalah acara, …." Granny tidak dapat melanjutkan perkataannya saat seseorang menyela ucapan granny.
"Kau, sudah datang, princess?" Seorang kakek-kakek mendekat ke arah mereka dengan sebuah tongkat di tangannya dan seorang pria paruh baya yang mengikutinya dari belakang.
"Kim, kau kah itu!" Seru granny dengan mata berbinar.
Pria paruh baya itu terkekeh yang kini berada di hadapan granny dengan tersirat tatapan lembut dan memuja.
"Kau, tidak mengenalku lagi?" Tanya pria yang biasa di panggil tuan Kim itu.
"Maaf, Kim. Wajahmu, tertutupi kerutan di mana-mana, jadi aku tidak bisa mengenalimu," ujar granny dengan tersenyum kaku.
"Mata mu pun semakin tak terlihat, kau semakin menyipit," sambung granny dan tertawa lepas.
"Jaga, sikapmu, Gabriela." Nenek Margaretha menyenggol lengan granny dan berbisik kepada sahabatnya itu.
"Maafkan, dia, tuan Kim," sela nenek Margaretha.
"Kau, mengenalku?" Tanya tuan Kim.
"Dia Margaretha, wanita yang tergila-gila kepadamu, tapi, … kau malah tergila-gila kepadaku," Seloroh granny sambil tertawa lepas.
Membuat wajah nenek Margaretha menjadi tidak enak dan tuan Kim pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kau, tidak berubah, gaby," lirih tuan Kim.
"Wow, aku seperti melihat sebuah cinta tak terbalaskan dan cinta segitiga," gumam Davin.
Rose mencubit pinggang keras sang suami dan memeluknya dari samping.
"Cubitan mu, sangatlah, hot." Davin membalas rangkulan istrinya itu dan mencium kening Rose.
__ADS_1
"Dia, cucumu, Gaby?" Tuan Kim melihat pasangan suami-istri itu yang sedang bermesraan di antara mereka.
Granny mengalihkan perhatiannya kepada sang cucu dan juga cucu menantunya.
"Iya, dia cucuku dan pria di sampingnya adalah, suaminya, cucu dari Margaretha," terang granny antusias.
"Sebentar lagi, kau akan memiliki, cicit," sela tuan Kim.
"Aku, berharap seperti itu." Granny membalas ucapan tuan Kim dengan antusias.
"Kau bagaimana?" Kini granny bertanya kepada tuan Kim.
Tuan Kim terlihat menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sahabat lamanya itu.
"Cucuku, terus menolak menikah. Padahal usianya sudah mencapai kepala tiga," balas tuan Kim lesu.
"APA! KEPALA CUCUMU ADA TIGA!" Pekik granny mengejutkan pasangan suami-istri yang sedang merasakan kasmaran.
"Bukankah, seorang pria yang memiliki kepala dua? Satu di atas dan satunya lagi di bawah," Seloroh granny.
"Dasar wanita tua, mesum." Cibir nenek Margaretha.
"Ternyata, kau benar-benar belum, berubah," lirih tuan Kim dengan suara berat khas pria paruh baya.
"Dia, tidak akan pernah berubah, sikapnya tidak akan berubah, sampai kapanpun, pepatah selalu benar, tua-tua semakin jadi." Celetuk nenek Margaretha ketus.
Tuan Kim pun tertawa dengan suara gemetar, dan mereka pun saling berbincang-bincang, mengingat masa-masa muda mereka dulu.
Ternyata, granny adalah salah satu primadona di kampus mereka, yang terkenal kecantikannya, keceriaannya dan tentu saja kecentilan pun tingkah bar-barnya.
Granny juga adalah wanita tangguh dan memiliki hati yang baik.
Ia dan nenek Margaretha adalah sahabat sejak masih sekolah hingga saat ini.
Sedangkan tuan Kim, adalah kakak kelas mereka yang sangat tergila-gila kepada granny.
Sedangkan granny hanya menyukai satu Pria, yaitu suaminya yang merupakan sahabat tuan Kim, yang berwarga negara Italia.
"Kakek!" Seruan dari arah samping mereka, membuat obrolan ketiga lansia itu terhenti dan memalingkan wajahnya ketiganya secara bersamaan.
Tuan Kim terlihat menerbitkan senyum hangatnya di sudut bibir tuanya itu dan memberi kode kepada cucunya agar mendekat kepadanya.
"Kemarilah, Kim Fang Yu," panggil tuan Kim.
"Fa*k you?! Granny membeo.
"Hey, pria tua. Kau memanggil cucumu dengan, fa*k you?" Sentak granny dengan wajah geram.
"Bukan, Gaby. Tapi, Kim Fang Yu," sahut tuan Kim menjelaskan.
"Sama saja, sungguh nama yang sangat buruk," cibir granny.
__ADS_1