
Davin melangkah kembali ke pantri, di mana dia harus memasak berbagai masakan untuk para tamu yang semakin ramai.
Serok tepuk tangan terdengar di depan sana yang terhias dengan dekorasi begitu indah.
Tuan Will dan calon tunangannya sudah saling bertukar cincin.
Davin hanya menoleh sejenak dan meneruskan langkahnya. Namun beberapa langkah saja ia berhenti dan kembali menoleh, "apa aku salah lihat? Tanya pada dirinya sendiri.
"Itu tidak mungkin, dia kan wanita, kaku," gumam Davin.
Saat sekilas menyadari keberadaan Rose, namun saat menoleh, Rose sudah menghilang.
Davin berjalan melewati, ruang gelap di sudut ruangan.
Davin lagi-lagi menghentikan langkahnya, saat mendengar pembicaraan mereka, Davin pun dengan usilnya mencuri percakapan mereka.
"Berikan ini kepada, nona yang mengenakan gaun, hitam!" Perintah seorang pria yang memberikan segelas jus yang sudah diberi sebuah obat yang menaikan hasraat seseorang.
"Baik, tuan," sahut pelayan tersebut sembari menerima segepok uang
"Hm! Jangan lupa awasi dia," perintahnya lagi, setelah itu pria itu pun meninggalkan tempat tersebut.
Davin berpura-pura, menempelkan ponselnya di telinga dan berbicara seakan-akan sedang bertelepon.
Davin memasukkan kembali ponselnya ke saku celana hitamnya dan mencebikkan bibirnya ke arah pria yang melintasinya tadi.
"Dasar pria licik. Mendapatkan, seorang wanita dengan cara, licik," gumam Davin sinis.
Namun dia tidak ingin ikut campur dengan urusan pria tersebut, dia lebih memilih mengurus urusannya sendiri.
"Hey. Kemarilah!" Perintah Davin kepada pelayannya.
"Iya, bos," sahut sang pelayan tersebut.
"Ini, buat siapa?" Tanya Davin sambil mengarahkan matanya ke gelas berisi jus jeruk di tangan sang pelayan.
"Buat, seorang wanita tuan," jawab sang pelayan.
Davin hanya menatap minuman itu sekilas dan juga sang pelayan dengan alis terlipat.
"Apa dia kekasihnya?"
"I – iya tuan."
"Hm, pergilah," suruh Davin.
Davin pun hanya tersenyum miring dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Dasar, pria berotak licik." Davin terus berjalan dengan bersungut-sungut kesal.
Sedangkan pelayan yang memegang nampang di tangannya dengan segelas jus jeruk di atasnya, mendekat ke arah wanita yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa tamu wanita lain.
__ADS_1
Ia terus mendekat dengan melalui beberapa tamu undangan yang sedang sibuk berbincang-bincang, ada juga yang bergoyang, menikmati musik yang baru dimainkan oleh seorang DJ wanita.
Davin yang kini sudah mulai bergabung dengan Daniel terlihat sibuk mengolah masakan.
Ia hanya melirik Davin sebentar tanpa menanyakan apa-apa, mereka pun sibuk dengan bagian mereka masing-masing.
Davin di bagian masakan dan Daniel di bagian makanan penutup.
"Ternyata dia tidak seperti dikatakan, orang-orang!" Seru Daniel yang netranya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
"Siapa?" Tanya Davin tanpa menoleh.
"Keturunan, Kato," sahut Daniel.
"Kato?" Davin membeo dengan kedua tangannya berhenti memotong sayuran.
Davin nampak berpikir sejenak, ia merasa sangat familiar dengan marga yang disebutkan oleh Daniel.
"Ck! Kau tidak mengenalnya, kamu kan sibuk dengan duniamu sendiri," cibir Daniel.
Sedangkan Davin masih terdiam dengan wajah berpikir keras, mengingat di mana dia mendengar nama marga, Kato.
"Ck! Kalau kamu mau lihat, itu wanita yang aku maksud," tunjuk Daniel ke arah depan.
Davin pun mengikuti arah tunjuk Daniel, dan Davin bisa melihat Rose di sana, yang begitu terlihat memukau.
Davin terkesiap sejenak, mengagumi Rose dengan penampilan memukaunya.
__ADS_1
Ia bahkan tanpa sadar tersenyum, ketika melihat Rose tertawa lepas.
"Entah apa yang di tertawa kan wanita perawan tua, itu," batin Davin.
Tapi manik mata Davin membola saat menyadari sesuatu. Ia melihat pelayan tadi berjalan ke arah Rose, dengan jus jeruk yang sudah diberi cairan obat perangsang.
Tanpa melangkah, Davin terlihat melompati pantry tersebut dan berlari ke arah Rose, dimana pelayan tadi semakin mendekat.
"Sial. Kenapa dia, selalu menjadi incaran pria brengsek!" Umpat Davin yang kini berlari ke arah Rose, tanpa memperdulikan kekacauan yang dibuatnya.
Ia menabrak tamu undangan, mendorong yang menghalangi jalannya, dan bahkan menyenggol tamu yang sedang berdansa, sehingga tamu yang sedang berdansa berjatuhan.
Dan kericuhan pun terjadi, saat kabel melilit salah satu kaki tamu undangan.
Rose hanya diam melihat kekacauan yang entah kenapa tiba-tiba, padahal tadi terasa aman.
Rose meraih segelas jus jeruk yang ditawarkan salah satu pelayan pria.
Rose terlihat mendekatkan gelas tersebut di mulutnya dengan gaya elegannya.
Namun saat, ….
"citttt"
"Kat"
bersambung!!!!!
Iklan mau lewat Dolu🤣🤣🤣
__ADS_1