Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 38


__ADS_3

Dengan wajah penuh kemarahan, Davin berjalan ke ruangannya yang berada di lantai tiga.


Tangan pria itu masih mengepal erat bagaikan seorang petinju yang siap menyerang lawannya.


Dengan kasar Davin membuka pintu ruangannya, yang terlihat luas itu.


Hal pertama yang Davin dekati adalah, bar mini yamg ada di ruangan itu.


Davin meraih botol berwarna putih yang berisikan minuman memabukkan.


Davin menyesap minuman beralkohol itu langsung dari botolnya.


Ia ingin meredakan perasaan perih dan panas di dalam dadanya.


Sesakit inikah, dikhianati oleh orang tercinta kita? Kalau ia, ini sungguh menyakitkan.


Davin terus saja menyesap minuman keras itu dengan tegukan terburu-buru.


Wajah pun semakin merah dan air matanya pun sudah menetes dengan sendirinya.


"Argggh"


"Pragg"


Karena perasaannya yang begitu terluka, Davin berteriak dan melemparkan botol minumnya ke sudut ruangan.


"Ahk"


"Aku, membenci perasaan ini. Aku membencinya!" Teriak Davin yang kini berjalan ke sofa lalu menghempaskan tubuhnya dengan secara kasar.


"Aku membencimu, sangat membencimu, ternyata, kau sama murahnya dengan wanita, itu," racau Davin dengan kepala yang menengadah ke atas.


"Kalian sama-sama, wanita jaalang!" Pekik Davin dengan wajah yang ia usap kasar.


"Aku, membencimu, jalaang. AKU MEMBENCIMU!" teriak Davin kembali dan meraih asbak yang ada di atas meja sofa dan melemparkannya ke arah pintu.


Bertepatan pintu terbuka dari luar, yang membuat pria di balik pintu itu mengumpat kasar.


"SH*it, apa yang kau lakukan, bro. Aku baru datang dan kau sudah ingin menghajar ku?" Sungut pria tinggi tersebut dengan wajah kesal.


"Wow, apa ini!" Serunya saat melihat ruangan Davin berantakan.


"Oh lihatlah, wajahmu," sambungnya saat melihat wajah Davin yang merah pun dengan matanya.


"Kau kenapa, bro?" Tanya Daniel sahabat Davin dengan kening terlipat.


"Apa, karena Sisil? Kekasihmu itu, yang aku dengar sedang berbuat masalah disini," seloroh Daniel, tanpa melihat berubah raut wajah Davin.


"JANGAN MENYEBUT NAMA WANITA JALAAANG ITU DI, HADAPANKU." Davin berteriak histeris di depan Daniel, membuat pria berkulit eksotis itu mengedipkan matanya dan menganga.


"Wow! Aku merasa mendapatkan, kejutan, apa aku melewatkan sesuatu? Karena yang aku tahu, kau begitu mencintai kekasihmu itu, sampai-sampai kau buta dengan keadaan sebenarnya." Daniel menyampaikan seluruh unek-uneknya yang selama ini ia tahan.


Pria bermata hijau ini, yang juga salah satu chef terkenal di los Angeles.


Wajahnya sering terlihat wara Wiri di layar tv, untuk mengisi acara berbagi resep atau cara memasak makanan ala rumahan.


Ia sering memperingatkan sahabatnya, agar menjauhi Sisil.


Karena menurutnya, Sisil adalah seorang perempuan rubah licik.


Bukan apa-apa, Daniel memberikan peringatan kepada Davin, karena dirinya pun pernah di goda oleh wanita itu.

__ADS_1


Saat mereka mendapatkan jadwal mengisi acara di salah satu televisi.


Sisil yang diam-diam datang ke ruangan ganti Daniel yang sedang berganti pakaian dan mencoba merayunya.


Namun pria itu tidak tergoda sedikitpun dengan kelakuan Sisil yang sudah setengah telanjang di depannya.


Ia hanya memandang Sisil jijik dan meninggalkan wanita murahan itu.


"Baguslah, kalau kau sudah tahu kebusukan, kekasihmu," ucap Daniel.


Davin masih terdiam dengan tatapan menerawang ke depan, ia juga memaki dirinya sendiri yang sudah di buta kan, oleh cintanya kepada Sisil.


Davin bangkit dari duduknya, dan melangkah ke arah pintu.


Saat ingin membuka pintu, Daniel menghentikan niatnya.


"Kau, mau kemana? Ingat kita ada tugas menyiapkan makanan untuk acara pertunangan tuan, Will," ucap Daniel mengingatkan Davin.


Davin pun membuka pintu, tanpa menyahuti perkataan Daniel yang hanya bisa menarik nafasnya.


"Dasar bucin, makan tuh cinta," sungutnya.


Ia pun berdiri dan menyusul langkah Davin keluar dari ruangan sang pemilik restoran.


Sebelumnya Daniel, memerintahkan pelayan restoran untuk membersihkan ruangan Davin yang berantakan.




Davin kini sudah berada di parkiran restoran di mana motor kesayangannya terparkir gagah.




Rahang Davin pun mulai mengeras dan giginya saling bergesekan.



Genggaman tangannya di stang motornya pun kian mengencangkan kuat, sehingga buku-buku jarinya terlihat memerah.



Dengan kasar Davin melepaskan tangan wanita yang ada di belakangnya, yang sangat ia kenali, Siapa lagi kalau bukan Sisil.



"Ada apa, sayang?" Tanya Sisil manja.



"Aku, merindukanmu," bisik Sisil mencoba merayu Davin



Davin terlihat tersenyum miris melihat kelakuan wanita di belakangnya.



Setelah melakukan hubungan panas dengan pria dewasa di dalam mobil, kini wanita jaalang ini merindukannya?

__ADS_1



"Omong kosong."



"Honey!" Seru Sisil sambil membelai wajah tampan Davin yang masih merah.



"Singkirkan, tangan menjijikkan mu!" Ucap Davin dingin dan tatapan membunuh yang ia berikan kepada Sisil.



Tentu saja membuat Sisil tak percaya dengan reaksi yang diberikan oleh Davin.



"Hey, ada apa dengan dirimu, honey?" Sisil masih bingung dengan sikap Davin dan kembali menyentuh Davin.



Namun dengan kasar Davin menyentakkan tangan Sisil kasar yang berada di wajahnya.



"Menyingkirlah dari hadapanku, wanita, MU.RA.HAN!" Bisik Davin dengan kata-kata penekanan di akhir ucapannya.



Membuat tubuh Sisil membeku dan terdiam di tempatnya.



Ia menatap Davin tidak percaya, dengan apa yang Davin katakan dan sikap kasar Davin kepadanya.



"Jangan lagi menemuiku, karena aku sudah tidak ingin berhubungan dengan jaalang sepertimu," Sarkas Davin.



"Aku, tidak ingin melihat wajah busuk, menjijikkan mu itu, berada di sekitarku jadi, enyahlah dari hadapanku, jaalang," pungkas Davin dengan mata merah menyala dan wajah penuh kebencian.



"S- sayang!" Sisil berkata terbata.



Davin mendorong tubuh sintal Sisil dari sisinya dan melajukan kuda besinya, tanpa memperdulikan teriak histeris Sisil yang bagaikan orang kesurupan.



"Sayang!" Teriak Sisil menggelegar di parkiran restoran.



"SAYANG!" teriaknya lagi.


__ADS_1


"Davin Jackson, aku tidak akan melepaskanmu," gumam Sisil, dengan pandangan tajam ke arah motor Davin yang melaju.


__ADS_2