Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 45


__ADS_3

Rose kini sudah tiba di klub malam yang terbesar di kota Los Angeles.


Ia berjalan masuk kedalam lobby klub tersebut, yang di sambut oleh penjagaan ketat.


Ia menyerahkan sebuah undangan mewah berwarna perak dengan hiasan emas di pinggirannya.


Rose mengikuti salah satu kru yang bertanggung jawab atas berjalan acara pertunangan termewah ini, karena Rose, memiliki undangan khusus dari tuan Will Gerald.


Rose mengembangkan senyum tipisnya kepada kru wanita yang mengantarnya tadi keruangan khusus tamu VVIP yang berada di lantai dua.


Sedangkan tamu biasa ada di lantai dasar, tepatnya di lantai tempat orang-orang akan bergoyang.


Semua mata kini tertuju kepada Rose, yang terlihat memukau malam ini.


Rose bagaikan seorang putri dongeng, yang datang dengan kecantikan paripurna, menebarkan mata kekaguman dan pujian dalam hati.


Apa lagi para kaum laki-laki, yang mata mereka berbinar kagum, bagaikan seribu bulan bunga-bunga dengan terpaan cahaya kemilau di sekitar Rose.


Tanpa sadar salah satu dari tamu undangan laki-laki, meneteskan air liurnya dan terbengong.


Sang kekasih hanya bisa merajuk dan meninggalkan kekasihnya.


Rose berjalan ke arah tuan Wiil yang berada di depan bersama calon tunangannya.


Rose melewati para tamu undangan dengan tatapan datar dan dingin. ia mengabaikan kekaguman para tamu pria yang menatapnya penuh puja.


~


"Dia sangat cantik!" Seru salah satu pria yang duduk di sofa panjang di sudut ruangan bersama kedua temannya.


"Yap, kamu benar, dia sangat cantik dan seksi, bro," timpal temannya yang satu menyetujui ucapan temannya.


Sedangkan pria yang duduk di paling ujung hanya diam dengan tatapan intens ia layangkan kepada, sosok Rose yang berbincang-bincang dengan sang pemilik acara.


Terbit sebuah seringai di bibir pria dengan perawakan tinggi besar itu dengan kemeja hitam yang memamerkan dadanya yang di tumbuhi bulu-bulu halus terlihat seksi.


"Tapi sayang, dia, wanita yang sangat sulit di dekati," komentar pria yang duduk ditengah.


"Dia, wanita cerdas dengan karir cemerlang dan dari dua keluarga berpengaruh di dunia bisnis," sela pria satunya.


"Hm, kamu benar. Dia wanita sempurna," pria yang tengah menimpali komentar temannya.

__ADS_1


"Tapi, aku punya ide untuk mengusilinya," bisik pria tersebut.


"Apa? Balas temannya.


"Kita gunakan ini," sahutnya dengan sebuah botol kecil di tangan.


"Bagaimana? Aku pastikan, dia yang akan mendatangi kita," ujar pria itu sambil tertawa lepas.


"Kau sudah gila, bro."


"Tapi, kita coba saja."


"Apa kau lupa dia siapa?"


"Hidup kita akan selesai, bro."


"Anggap saja ini keberuntungan kita, bisa menyentuh tubuh seksinya, apalagi merasakannya," ujar pria dengan senyum mesum kepada Rose.


"Terserah, tapi. Aku tidak ikut-ikutan," jawab pria yang duduk di tengah, menolak ide gila temannya.


"Bagaimana, denganmu?" Tanyanya kepada pria yang duduk di paling pojok sofa.


Pria itu hanya mengangkat bahunya, tidak acuh dan kembali menyesap minuman keras yang ada di tangannya, ia juga melirik tajam Rose di balik gelas yang berada di mulutnya.




"Menyingkirlah!" Suara berat serat nan dingin terdengar dari balkon klub.



Seorang wanita berusaha menghalangi pria yang ingi melangkah jauh dari balkon tersebut.



"Tidak! Sebelum, kau menerimaku kembali menjadi, kekasihmu," ucap Sisil yang masih berdiri di hadapan Davin, menghalangi langkah Davin.



Davin menarik nafas panjang dan mengembuskan secara kasar. Ia mengusap wajahnya pun kasar dan menatap Sisil dengan sorot mata tajam.

__ADS_1



"Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. jadi, menyingkirlah!" Ujar Davin dingin.



"Tidak! Aku tidak ingin berpisah dengan mu, Davin!" Tolak Sisil dengan wajah dibuat sedih.



"Aku, sangat mencintaimu, Davin," ujar Sisil dengan mata berkaca-kaca.



"Cih! Cinta? Omong kosong." Dengan wajah sinis Davin membalas ucapan Sisil.



"Apa kau juga berkata seperti ini kepada, pria brengsek itu?" Davin memajukan wajahnya di telinga Sisil dan berbisik.



"Tuan Jackson."



Tubuh Sisil tiba-tiba membeku dengan wajah terkejut mendengar bisikkan David.



Davin tersenyum miring melihat wajah terkejut Sisil, ia lalu menyingkirkan Sisil deh kasar dan berjalan meninggalkan wanita yang pernah ia cintai.



"Cih! Cinta, omong kosong," decak Davin sinis.



Sisil hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan menatap punggung lebar Davin yang sudah berjalan jauh.


__ADS_1


"Kau, akan menjadi milikku selamanya, Davin Jackson," gumam Sisil dengan mata merah.


__ADS_2