
Di sebuah rumah mewah berlantai tiga, yang berada di sebuah kawasan elite.
Rumah mewah dengan warna pastel dan abu-abu.
Beberapa mobil mewah terlihat berjejer di depan rumah mewah tersebut.
Mobil yang memiliki harga selangit dan di sana terdapat lima atau enam mobil mewah dengan warna berbeda.
~
Terdengar gelak tawa puas dari sebuah ruangan santai di dalam rumah mewah tersebut.
Tawa lepas yang tersirat arti kemenangan keluar dari mulut seorang, pria dan wanita muda.
Terlihat juga di sana seorang wanita setengah baya yang sedang sibuk dengan perhiasannya.
"Akhirnya, rencana kita berhasil, sayang!" Seru seorang wanita dengan tawa renyah, wanita itu kini mendekati si pria yang menampilkan senyum miringnya.
Wanita itu pun lantas duduk di pangkuan pria itu dan tidak sabarannya menabrakkan bibir mereka, sehingga mereka kini bercumbu panas di ruangan itu dan di saksikan oleh wanita setengah baya tersebut, yang hanya berdecak kesal.
Suara decapan cumbuan mereka kini terdengar indah di ruangan itu yang semakin menjadi, dan memanas.
"Kendalikan dirimu, sayang," bisik pria dengan wajah yang sudah di selimut hasraat.
Wanita yang ada di pangkuannya, hanya bisa menarik nafas untuk bisa mengontrol hasraat yang terpancing.
"Aku, menginginkan mu, Jerr," bisik Jusy dengan suara menggoda.
"Tidak sekarang, babe," balas Jerry.
"Why?" Tanya Jusy dengan wajah merah.
"Aku harus menyelesaikan sesuatu, sayang," ucap Jerry.
"Ck! Menyebalkan!" Decak Jusy kesal.
__ADS_1
"Berhentilah, merengek!" Sentak nyonya Loren.
"Kau hanya membuat pekerjaan putraku, berantakan," lanjutnya.
"Dasar wanita, jaalaang!" Gumam nyonya Loren.
"Jangan ucapan anda, nyonya. ingat, aku yang selama ini membantu putramu untuk, mendapatkan wanita sombong itu," ungkap Jusy.
"Karena kau wanita licik," sahut nyonya Loren sinis.
"Karena kelicikanku lah, kalian bisa memiliki semua ini," ujar Jusy yang berdiri dari pangkuan Jerry dan menatap sekeliling isi rumah mewah itu.
"Ingat. Darimana kalian berasal," bisik Jusy dengan ejekan.
"Dari sam.pah." Jusy berbisik di telinga nyonya Loren dan menekan akhir ucapannya.
"KAU!" Geram nyonya Loren tertahan.
"Stop! Pekik Jerry, menyudahi perdebatan kedua wanita beda usia di depannya.
"Berhentilah, berdebat," pintanya.
"Terserah!" Kesal nyonya Loren.
"Jusy, maaf, aku tidak bisa menemanimu, karena aku harus menyelesaikan sesuatu," ujar Jerry, yang menarik kembali kekasihnya keatas pangkuannya.
"Cih! Nyonya Loren hanya bisa berdecak kesal dalam hati.
"Tidak masalah," sahut Jusy yang menyatukan bibir mereka kembali.
Pasangan kekasih itupun saling bercumbu kembali di depan nyonya Loren dengan tidak memiliki rasa sungkan.
Mereka saling bercumbu panas dengan kondisi tangan keduanya tidak bisa mereka kendalikan lagi oleh percikan gelora hasraat.
Namum di tengah cumbuan panas mereka, tiba-tiba dari arah pintu ruangan terdengar sebuah tepuk tangan yang mengema di seluruh ruangan tersebut.
__ADS_1
Sontak saja pasangan itu tersentak kaget dan segera melepaskan tautan bibir mereka dan bangkit.
begitu juga dengan nyonya Loren yang dengan refleks menoleh kebelakang, dan wajahnya terlihat panik. Ia lalu menyembunyikan perhiasannya kebelakang tubuhnya.
"Kau?! Lirih ketiganya bersamaan.
"Wah, wah, wah. Aku baru tahu, kalau aku sebodoh ini," seloroh Rose yang sejak tadi mendengar percakapan ketiganya.
Yah, sejak tadi Rose dan sakura bersembunyi di balik pintu, saat mendengar percakapan mereka tentang dirinya.
Rose baru menyadari, kalau dirinya selama ini sudah tertipu dan di manfaatkan oleh seorang pria brengsek.
Ingin rasanya Rose menghajar dirinya sendiri yang dengan mudahnya, terjerat cinta palsu dari pria di hadapannya.
Rose yang begitu terpikat dengan kepribadian Jerry yang hangat, lembut dan penyayang, ternyata semuanya omong kosong.
Ternyata Jerry dan ibunya hanya memanfaatkan dirinya saja, untuk menjulang kesuksesan dan memanfaatkan kekayaannya.
"Bukankah rumah ini, dari ku?" ucap Rose sinis dan mendekati ketiga orang di depannya dengan mata yang merotasi setiap rumah mewah itu.
"Perhiasan, yang ada di tangan anda juga dariku, bukan?" Lanjutnya, sambil menunjuk perhiasan yang ada di tangan nyonya Loren.
"Semua yang kau pakai pun, dariku kan?" Kini Rose mengelilingi pasangan kekasih itu.
"Jadi, memberikan semua ini kepadanya? Dengan uang?" Cibir Rose dengan senyum miring.
"Dasar benalu tidak tahu diri, manusia sampah menjijikkan," Sarkas Rose dingin.
"JAGA UCAPAN!" gertak nyonya Loren.
"Why? Apa yang salah dengan ucapanku, nyonya!" Kata Rose dengan dingin.
"Kau hanya wanita yang benalu yang memanfaatkan milikku," bisik Rose dan menghunus Jerry dengan tatapan mematikan.
"Jaga ucapanmu wanita bodoh," Pekik Jerry.
__ADS_1
"Jangan coba-coba menghina, ibuku," tegur Jerry penuh peringatan.
"Aku tidak perlu menghina kalian, karena kalian memang manusia, hina," sahut Rose dengan ucapan yang lugas dan tepat sasaran, membuat ketiga manusia di depannya terdiam dengan wajah mereka yang berubah merah.