
"Love you." Rose mengucapkan kata cinta dan memberikan kecupan di wajah sang suami, saat sudah berada di depan lobby agensi light Hugo.
"Love you too, baby." Davin membalas ucapan cinta istrinya dengan suara lembut menghanyutkan.
Davin juga membalas kecupan istrinya di seluruh wajah cantik Rose, memeluknya, sebelum sang istri turun dari mobil setelah salah satu penjaga lobby membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Aku, akan menjemputmu nanti, siang," sela Davin yang mencegah Rose yang ingin keluar dari mobil.
Davin mengarahkan tangannya ke dekat rambut Rose, merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan, ia juga memberikan ciuman di puncak kepala sang istri bertubi-tubi.
"Tidak perlu, aku yang akan mengunjungimu, di restoran," sahut Rose sambil menatap penuh kehangatan kepada sang suami.
"Baiklah," bisik Davin yang melepaskan genggaman tangannya.
Rose tersenyum dan mengecup sekilas bibir suaminya, menyesapnya sebentar lalu kembali menciumi seluruh permukaan kulit wajah sang suami.
"Aku mencintaimu, my husband," bisik Rose, lantas segera keluar dari mobil. Memberikan lambaian tangan kepada suaminya pun senyuman manis.
"Aku juga sangat, sangat — mencintaimu, my wife," lirih Davin yang tersenyum bahagia melihat punggung sang istri yang sudah memasuki lobby perusahaan agensi light Hugo.
Davin menaikkan kaca pintu mobilnya dan menginjakkan kakinya ke padel gas, yang kini mobil sport mobil mewah Davin pun mulai bergerak pelan, ia membunyikan klakson memberikan senyum kepada pria setengah baya yang membukakan pintu mobil untuk sang istri tadi.
Mobil sport mewah dengan warna hitam pekat itu pun melaju ke jalanan padat kendaraan di jam para pekerja memulai mereka.
_______
"Apa tuan, Lion, ada?" Rose kini bertanya kepada dua wanita yang berdiri di sudut lobby yang merupakan resepsionis perusahaan agensi light Hugo.
"Ada, nona," jawab salah satu wanita yang berdiri di meja resepsionis dengan ramah.
"Hm, terima kasih," ucap Rose dan segera menuju lift khusus menuju lantai atas dimana ruangan saudara kembarnya berada.
Karyawan yang berpapasan dengan Rose, menunduk dengan badan setengah membungkuk.
Mereka juga menyapa Rose dengan hormat dan ramah.
__ADS_1
Rose hanya mengangguk dan tersenyum tipis kepada karyawannya yang menyapanya.
Rose terlihat memasuki lift dengan langkah anggun penuh wibawa, aura kepintaran dan kecerdasan terlihat jelas, yang mendominasi penampilan Rose pagi ini, yang mengenakan setelan hitam.
Pintu lift pun mulai tertutup kembali, namun, tiba-tiba terbuka lagi dan seorang wanita cantik dengan tubuh bak model profesional masuk ke dalam lift khusus tersebut.
Rose hanya bisa mengerutkan keningnya dengan mata menyipit menelisik penampilan wanita yang mengenakan dress polos dengan hiasan rendah itu, sibuk mengotak-atik ponselnya.
Rose masih diam menilai penampilan wanita di depannya dengan tatapan bagaikan seorang penilai handal.
Rose dapat menebak, kalau wanita di hadapannya ini, adalah seorang model profesional.
Wanita dengan rambut blonde di bawah bahu dengan warna pirang tersebut masih sibuk mengotak-atik ponselnya, tanpa menyadari keberadaan Rose di dalam lift.
"Aku, akan segera tiba." Ucap wanita tersebut dengan ponsel di telinganya.
" …
"Oke! Aku mencintaimu," ujarnya dengan suara pria di seberang sana.
Alis Rose pun makin mengernyit tajam dan hidung terlihat kembang kempis, dengan wanita di hadapannya.
Hanya ada kesunyian di dalam lift dan juga suara dari ponsel wanita cantik di depan Rose.
Sedangkan Rose masih berpikir keras dengan wanita tinggi di depannya, yang terlihat masa bodoh dengan keberadaan, entah ia memang tidak mengetahui Rose ada di dalam lift, atau hanya pura-pura tidak mengetahui keberadaan Rose.
"Ting"
Pintu lift pun akhirnya terbuka, dan wanita di depan Rose lah yang lebih dulu keluar dengan langkah percaya diri.
Rose hanya bisa menatapnya dengan wajah yang sulit dibaca.
Rose pun mengikuti wanita tersebut keluar dari lift, dan saat melangkah menuju ruangan Lion, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis belia.
"M-ma-maafkan, saya, nona," ucap gadis belia tersebut dengan gugup.
__ADS_1
Rose hanya bisa diam dengan menghela nafasnya, ia kembali mengkerut heran saat mengenali wajah gadis yang menabraknya.
"Kau?"tanya Rose dengan mata memicing.
Gadis itu, hanya bisa menundukkan kepalanya dan tidak berani memandangi wajah Rose.
"Apa yang kau lakukan, disini?" Tanya Rose lagi dengan dingin.
Gadis itu hanya diam sambil menggenggam kuat nampan yang ada di tangannya.
"Bukankah, aku melarangmu, bekerja disini? Dan menyuruhmu melanjutkan pendidikanmu?" Cerca Rose dengan melipat kedua tangannya di dada.
"M-maa-maaf, nona. A-a-aku hanya menggantikan ibuku. Dia tidak bisa lagi bekerja keras dan harus beristirahat total di rumah, dan aku harus bekerja untuk kebutuhan kami," jelasnya dengan nada gugup dan gemetar.
"Aku, hanya bekerja paruh waktu, nona." Sambung gadis itu lagi.
"Apa kau yakin? Hanya bekerja di sini?" Tanya Rose dengan mata menyipit.
Gadis berusia 18 tahun itu pun hanya bisa terdiam dengan genggaman tangan semakin kuat di nampan yang ada di pelukannya.
"Katakan!" Seru Rose tegas.
"Aku mengambil pekerjaan di sebuah, club malam, nona," lagi lirih gadis mungil itu takut-takut.
Rose hanya bisa mengeja nafas panjang dan menatap gadis di depannya dengan tatapan iba.
"Siapa yang menerimamu?"
"Tuan, Nicholas Keller, nona."
"Hm! Berhentilah bekerja di club malam. Dan datanglah ke Mansion setiap pagi," pinta Rose kepada gadis mungil tersebut.
Gadis itu pun dengan refleks mengangkat wajahnya, dan Rose dapat melihat wajah imut gadis di depannya.
"Siapa namamu?" Tanya Rose sambil memandangi gadis tersebut.
__ADS_1
"Lolly white," jawab gadis mungil yang tingginya hanya sampai pundak Rose.
Obrolan keduanya terhenti, saat mendengar teriakkan lantang dari ruangan CEO.