
"Bawa dia!" Titah Lion kepada Nicko yang belum menyatuhkan bokongnya di kursi.
"Bawa? Siapa?" Tanya Nicko dengan dahi mengerut.
Lion tidak menjawab, dia hanya melirik ke samping, di mana Lolly berdiri mematung.
Nicko mengikuti lirikan mata Lion dan jiwa cassanova abal-abalnya meronta.
Pria berkacamata itu pun segera berdiri dan mendekat kepada Lolly.
Dengan tatapan penuh kagum dan puja, Nicko bertanya kepada Lion.
"Kemana, aku harus membawanya?" Tanyanya dengan tersenyum tampan kepada Lolly.
Lion hanya memutar bola matanya jengah, ia pun segera menyahuti pertanyaan Lion.
"Terserah! Yang jelas, jauhkan dia dariku." Tanpa melihat ke arah Nicko dan Lolly, Lion mengibaskan tangannya, yang memerintahkan keduanya keluar dari ruangannya.
Segera saja Nicko meriah telapak tangan Lolly dan menariknya lembut keluar.
Lion yang melihat kedua tangan mereka saling menggenggam, entah mengapa ia merasa tidak terima.
"Ini bukan jalanan ramai kendaraan, kenapa kalian harus bergandengan!" Sentak Lion ketus.
Nicko kembali memutar tubuhnya dan secara refleks melepaskan genggaman tangan mereka.
"Hey, bro! Apa yang kau inginkan," balas Nicko tak kalah sengitnya.
"Bukankah, kau yang menyuruhku untuk membawanya, keluar dari sini? Jadi β apa masalahmu, bro," ujar Nicko dengan dahi mengerut bingung.
"Terserah." Lion pun memutar kursi kerjanya hingga memunggungi Nicko dan Lolly.
Dahi Nicko semakin mengerut tajam dan hidungnya pun kembang kempis karena kebingungan.
"Pria, aneh," lirih Nicko, bibirnya yang mencibik ke arah Lion.
__ADS_1
Lolly hanya bisa menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya.
Gadis yang tingginya hanya sebatas dada Nicko itu pun, mengikuti langkah Nicko keluar dari ruangan CEO.
Lion hanya bisa memaki sikapnya yang aneh dan ia terdengar mengerang kesal, sembari menyugar rambut panjang coklatnya kebelakang.
"Sial, sial, sial."
Lion hanya bisa mengumpat dan menahan perasaan kesalnya kepada Lolly.
"Aku, bersumpah. Akan membuatmu, bagaikan di neraka." Lion memperlihatkan senyum aneh yang menyerupai seringai licik.
________________
Sementara, seorang pria tinggi atletis dengan mengenakan setelan hitam-hitam, terlihat bersandar di body mobil bagian depan. Kedua tangannya ia lipat di depan dada sambil terus fokus melihat pintu lobby.
Sesekali, pria tampan dengan sebuah kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, melirik jam tangan mewahnya.
Beberapa karyawan yang melintas di sekitarnya terkagum-kagum dengannya.
"Tuan!" Tiba-tiba seorang pria berusia sekitar 40 tahun menghampirinya dan menyapa dirinya.
Davin melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, lantas memberikan senyum ramah nan sopan kepada pria yang lebih tua darinya.
"Iya, paman," balas Davin ramah.
"Kenapa tidak menunggu nona di dalam, tuan?" Dengan perasaan sungkan, penjaga pintu lobby itu menyuruh Davin menunggu Rose di dalam.
"Atau, anda bisa langsung ke lantai atas di ruangan, CEO," lanjutnya lagi.
Davin tampak menggelengkan kepalanya dengan tetap memamerkan senyum ramahnya dan berkata lembut kepada pria yang lebih tua darinya itu.
"Tidak perlu paman. Aku menunggu disini, saja," tolak Davin dengan nada bicara ramah dan penuh penghormatan.
"Biarkan saya menemani anda, tuan," tawar penjaga pintu lobby tersebut.
__ADS_1
"Tidak! Lebih baik, paman kembali lah bekerja. Aku takut, nona singa itu akan marah, nantinya," bisik Davin dan tertawa.
"Ah! Anda benar, tuan," sahutnya, membenarkan perkataan Davin.
"Kembali lah, aku tidak apa-apa!" Perintah Davin.
Penjaga pintu lobby itu lantas meninggalkan Davin seorang diri yang masih setia menunggu istri tercintanya.
Davin masih setia menunggu sang istri di tempatnya semula, tanpa bergeser sedikitpun.
Ia sudah begitu tidak sabar memeluk tubuh istrinya itu, hari ini, ia sengaja memberikan kejutan kepada Rose.
Mereka sebelumnya berjanji akan bertemu di restoran saja, namun karena rasa rindu yang begitu besar kepada istri cantiknya, membuat Davin mengambil keputusan untuk memberi kejutan kepada sang istri.
Sini lah, sekarang ia berdiri tidak jauh dari pintu lobby perusahaan.
"Honey!" Davin yang sedang menundukkan kepalanya, tersentak kaget saat mendengar suara wanita yang amat dicintai itu.
Ia mendongakkan kepalanya, senyuman terbaiknya pun ia keluarkan dengan kedua tangan dibuka lebar, menyambut kedatangan sang istri, yang berlari ke arahnya.
"Hey, hati-hati!" Bisik Davin ketika istri tercintanya sudah berada di pelukan hangatnya.
"Aku merindukanmu." Rose mengeratkan pelukannya di pinggang keras Davin dan menyusutkan wajahnya di dada sang suami.
"Aku lebih merindukanmu, baby," balas Davin yang menghadiahi sang istri kecupan bertubi-tubi di puncak kepala.
"Love you!" Lirih Rose dibalik pelukan sang suami.
"Love you too, baby," sahut Davin tak kalah lembutnya dan mempererat pelukannya.
Beberapa saat, mereka saling berpelukan di sana, tanpa memperdulikan karyawan yang berlalu lalang di sekitar mereka.
Keduanya begitu saling merindukan, bagaikan berpisah selama bertahun-tahun lamanya, padahal keduanya hanya berpisah selama beberapa jam. Bahkan tidak sampai setengah hari mereka berpisah.
Bukankah mereka bagaikan remaja sekolah yang baru mengenal cinta dan merasakan sesuatu yang menyenangkan? Padahal keduanya sudah terbilang dewasa, tapi perasaan mereka mengalahkan anak remaja.
__ADS_1