
Rose yang sedang melajukan mobilnya untuk meninggalkan perusahaan agensi milik sang mommy.
Tapi, saat Rose ingin melewati pintu masuk lobby perusahaan, tiba-tiba seorang pria menghentikan motor besarnya di tengah jalan, sehingga Rose dengan gerakan mendadak menginjak pedal rem.
Rose yang sedang dilanda mood buruk dan kini hampir terluka karena kesalahan seseorang yang egois.
Rose melihat ke arah depan dan ia dapat menyaksikan sebuah kuda besi dengan harga selangit terparkir gagahnya di tengah jalan.
Sedangkan sang pemilik, berlari menaiki tangga menuju pintu lobby.
Emosi Rose kini sudah mencapai batas normal, yang kini sudah berada di atas ubun-ubunnya.
Rose pun memencet klakson mobilnya berkali-kali, sehingga menjadi pusat perhatian di sekitar lobby yang masih ramai oleh karyawan yang sedang menerima hukuman.
Rose pun kesal karena pria itu tidak mengindahkan perintahnya, ia lalu menegok ke samping kaca mobilnya dan Rose bisa melihat pria itu mencoba menerobos masuk.
Dengan perasaan emosi dan kesal, Rose keluar dari mobilnya dan menghampiri pria kurang ajar menurut Rose.
Rose mempercepat langkahnya menaiki anak tangga, saat melihat pria itu mencoba memaksa masuk.
"APA-APA INI!" pekik Rose dengan wajah marah.
Dua pasang mata dengan berbeda warna itu kini saling melihat dengan lekat.
Jantung salah satu pemilik iris mata abu-abu berdetang secara tiba-tiba, ketika melihat warna mata Rose yang begitu indah.
Davin hanya bisa terdiam dengan wajah terlihat bodoh, ia bahkan tidak mendengarkan celotehan Rose, yang terus mengeluarkan kata-kata sarkas nya.
Davin hanya terfokus dengan wajah Rose yang begitu mempesona dan menuju ke bawah bibir Rose yang terlihat seksi.
"Apa kau mendengarkan aku, tuan?! Ucap Rose dengan dada kembang kempis karena amarah.
Jangan lupa wajah Rose yang merah dan hidungnya pun ikut bergerak lucu.
Kedua tangannya diletakkan di pinggangnya sambil menelisik penampilan Davin.
"Tuan! Bisik salah satu penjaga disamping Davin.
Davin pun tersadar dari rasa kagumnya, ia meletakkan telapak tangannya di atas dada yang masih berdetak kencang.
"A β apa?" Tanya Davin linglung.
"Hey, tuan!" Sentak Rose yang mengalihkan perhatian Davin dari para penjaga.
Lagi-lagi David hampir memasuki dunia kekagumannya, kalau saja pria itu tidak menyadarkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Come on, Davin," batin pria dengan wajahnya yang merah.
"Sejak kapan pria berandalan memasuki perusahaan, ini?" Tanya Rose yang menilai, penampilan Davin sebagai pria berandalan dan pembuat rusuh.
Davin yang mendengar perkataan pedas Rose tidak terima.
Enak saja pewaris dari keluarga konglomerat Jackson dihina, oleh seorang wanita yang sialnya sangat cantik, begitulah kata hati Davin.
"Usir dia dari sini, karena tempat ini tidak menerima seorang perusuh," Sarkas Rose lagi.
Davin pun naik oita dengan ucapan Rose yang tidak ada batasannya.
"Hey, nona, jaga ucapanmu!" Pekik Davin yang maju satu langkah kedepan Rose.
Rose pun menantang tatapan tidak suka Davin dengan sinis.
"Aku, tidak akan menjaga sikapku dan ucapanku kepada pria sepertimu, yang hanya membuat masalah. Aku rasa perusahaan ini perlu keamanan lebih ketat, agar manusia sepertimu tidak mudah masuk ke sini." Dengan wajah datar dan gaya santai Rose mengucapkan ucapan pedas tepat di wajah Davin.
Davin pun dibuat melongo dengan perkataan Rose, baru kali ini ada yang bisa membuatnya terdiam membisu.
"Ck! Jadi begini cara perusahaan ini menyambut tamu?" Cibir Davin dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat.
Davin hanya bisa menahan tubuhnya yang tiba-tiba merasa terpaku di tempatnya dan wajahnya pun hampir memasuki dunia kekagumannya lagi.
"Ayolah, stop!" Teriak Davin dalam hati, yang tanpa sadar menutup matanya dengan wajah mengerut.
"Ada aturan untuk bertamu di sini, tuan," sahut Rose.
"Apa kalian harus menilai seseorang dari penampilannya?"
"Harus!" Jawab Rose cepat.
"Karena, kami harus menjaga image perusahaan ini."
"Menjaga images, akan tetapi attitude kalian sangat buruk," sinis Davin.
"Menyambut tamu dengan melihat penampilan," kekeh Davin dengan remeh.
"Kami tidak ingin mengambil resiko, kami memiliki ratusan karyawan disini, apa anda bisa menjamin kalau anda seorang pria, baik-baik?" Sahut Rose tidak ingin kalah.
"Pelayanan yang sangat buruk, sekali." Sekali lagi Davin mencibir ke arah Rose.
"Maka tinggalkan, tempat ini. Karena tempat anda bertamu bukan disini," sindir Rose sengit, namun mimik wajahnya terlihat santai.
"Apa kau pikir aku seorang preman dan, perampok?! Pekik Davin tidak percaya dengan sindiran Rose.
__ADS_1
"Anda mengakuinya," sela Rose.
"KAU!" Davin memajukan kembali wajahnya sehingga wajah keduanya kini hanya berjarak satu jari saja.
Kembali keduanya saling menatap dengan intens, Davin merasakan terhipnotis dengan keindahan iris mata Rose yang begitu jernih.
Sedangkan Rose menatap Davin dengan raut wajah biasa saja, Rose menjauhkan wajah Davin dengan menggunakan jari telunjuknya.
"Silahkan pergilah dari sini, karena disini bukan tempat nongkrong anda tuan, tempat anda berada di tempat terkutuk," cibir Rose.
"Dasar, wanita dingin, sialan," maki Davin dengan wajah merah dan kedua tangannya sudah berada pinggang kerasnya.
"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini, karena aku ingin menemui kekasihku," tolak Davin.
"Terserah! Tapi anda dilarang masuk," sahut Rose.
"Sekarang, bisakah anda meminggirkan motor, anda?" Pinta Rose.
Davin kini mengalihkan tatapannya ke arah bawah di mana motornya terparkir di tengah jalan.
"Silahkan, anda pindahkan motor jelek, anda. Atau anda ingin aku yang memindahkannya ke tempat sampah?" Dengan santainya, Rose terus saja memojokkan Davin, yang notabene nya ada pria keras kepala dan mudah diatur.
Rose pun memutar tubuhnya dan menuruni anak tangga yang terdapat enam anak tangga.
Rose memasuki kembali mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya yang bersuara nyaring.
Davin yang ingin mengikuti langkah Rose terhenti saat mendengar, suara nada manja.
Davin segera menoleh dan ia menerbitkan senyum tampannya kepada sang kekasih yang merupakan, Sisil.
Mereka kini saling berpelukan di depan pintu lobby, Davin pun melupakan tentang motornya yang kini dalam bahaya.
"Brak"
Terdengar sebuah suara nyaring yang seperti benda saling bertabrakan.
Davin menoleh kebelakang, dan betapa terkejutnya dia saat melihat motornya sudah terseret jauh oleh mobil sport mewah Rose.
"Terimalah nasib anda, tuan!" Seru sang penjaga.
"Dengarkanlah titah nona boss, maka nyawa anda akan aman," sela menjaga satunya.
Davin hanya bisa menatap nyalang kepada mobil Rose yang kini sudah melaju meninggalkan area perusahaan agensi light Hugo.
"Argggh"
__ADS_1
"Dasar wanita, sialan."