
"Pergi sekarang?" Davin melepaskan pelukannya. Lalu membimbing sang istri masuk kedalam mobil. Seperti biasa, ia akan meletakkan salah satu telapak tangannya di atas kepala istrinya, membantu memakaikan sabuk pengaman dan diakhiri kecupan di kening juga bibir lembut sang istri.
Rose meraih telapak tangan suaminya saat, mobil hitam pekat mereka ikut membelah jalanan padat kendaraan pada jam makan siang.
Rose menautkan ruas jari-jari mereka dengan lembut dan mengecupnya bertubi-tubi.
Davin hanya bisa tersenyum sambil fokus mengendarai mobil sport mewahnya.
Davin menatap lekat wajah istrinya yang tampak lelah bercampur kekesalan.
Davin melepaskan tautan tangan mereka dan berpindah mengusap wajah lelah sang istri.
"Kau terlihat lelah, baby!" Seru davin yang masih menatap lekat wajah sang istri.
Mobil mereka kini berhenti disaat lampu merah. Davin melepaskan sabuk pengamannya dan merubah posisi kursinya yang ia mundurkan sedikit ke belakang.
Davin juga melepaskan sabuk pengaman sang istri dan mengangkat tubuh istrinya dengan sekali hentakan.
"Apa yang kau lakukan, honey." Rose yang sedang, memejamkan matanya, terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Memelukmu," balas Davin cepat.
__ADS_1
"Honey!" Geram Rose tertahan dengan kedua mata membola kearah suaminya.
"Aku tahu ini di jalan, tapi, aku sangat merindukanmu, baby." Davin menyerukan wajahnya di ceruk leher sang istri, menghisap rakus aroma lembut yang menempel di permukaan kulit mulus istrinya.
Davin menjauhkan wajahnya di ceruk leher Rose. Dengan tersenyum manis, pria itu melepaskan beberapa kancing blus kemeja istrinya, menyampirkan ke kedua sisi pundak mulus sang istri, dan terpampanglah, dataran tinggi Rose yang masih terbungkus oleh bra berwarna hitam berenda.
Rose yang duduk di atas pangkuan suaminya, hanya bisa menahan nafasnya sejenak dengan kedua mata terpejam erat, hingga nampak kerutan di sekitar kelopak matanya.
Rose hanya bisa berkata lirih, ketika Indra pengecap sang suami membelai salah satu dataran tingginya, menggodanya dengan Indra perasa nya dan sesekali ia merasa ngilu bercampur geli saat gigi suaminya menggoda pucuk dataran tingginya.
"Honey!" Seruan tertahan Rose terdengar indah di telinga Davin yang kini sudah menguasai kedua benda kenyal istrinya.
Rose hanya bisa menautkan semua jari-jari tangannya di rambut suaminya dan bibir indahnya kini menempelkan erat di puncak kepala sang suami.
Rose membalas tatapan memohon suaminya dengan saling menempelkan kening dan saling beradu nafas berat di depan wajah mereka masing-masing.
"Tidak disini, honey," bisik Rose dengan nafas berat.
Ia mengecup bibir lembut suaminya berkali-kali dengan kening yang masih menempel.
Terdengar dengusan berat dari Davin dan juga ekspresi proses.
__ADS_1
"No! Karena sekarang waktunya jalan." Rose terkekeh sembari menjauh dari pelukan suaminya.
Klakson mobil di belakang mereka berkali-kali terdengar tidak sabaran.
"Diamlah, sialan!" Geram Davin di dalam mobilnya.
Ia menampilkan raut wajah frustasi, di saat keinginannya untuk menuju jalan yang benar, harus terjeda dengan kondisi dan situasi.
Rose terkekeh melihat wajah kesal sang suami, bahkan tertawa puas, ia lantas kembali meraih telapak tangan suaminya dan menciumnya berkali-kali.
"Bagaimana, kalau kita makan terlebih dahulu," timpal Rose.
"Aku lapar, honey," lanjut Rose, saat mengerti tatapan aneh sang suami.
Davin mengangguk dengan tersenyum lesu, dia tidak boleh egois, ia harus memikirkan kondisi istrinya juga.
Alangkah baiknya dia memberi tenaga lebih untuk istrinya, agar dia lebih puas mengempar sang istri.
"Senyummu, sangat mengerikan, dude," cibir Rose ketika menangkap seringai aneh sang suami.
Davin tidak menyahut, dia hanya memberikan senyum terbaiknya sambil berkedip jenaka kepada Rose.
__ADS_1
"Perasaanku tidak enak," gumam Rose.