Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 8


__ADS_3

Sementara di Mansion Kato.


Lily yang kini memerintahkan, beberapa pelayan untuk mengantarkan bermacam-macam makanan yang dikemas ke dalam kotak makanan, untuk dibagikan kepada para wartawan yang masih setia menunggu untuk mendapatkan berita tentang batalnya pernikahan saudara kembarnya.


Lily juga ikut bersama para pelayan menyiapkan, makanan yang akan dibagikan.


Ia memang terkenal memiliki sifat baik hati dan lembut, penyayang.


Meskipun dia berpenampilan culun, tapi kecantikannya tidak bisa ditutupi.


Ia masih terlihat cantik, meskipun berpenampilan sederhana.


Garis wajahnya sangat mirip dengan Rose, hanya iris mata yang membedakan mereka berdua.


Rose yang memiliki iris mata sama dengan sang mommy yang, biru kehijau-hijauan.


Sedangkan Lily, memiliki iris mata coklat sama dengan sang daddy.


Kepribadian mereka berdua pun berbeda, Rose yang terkenal Arogan, sedang Lily memiliki hati yang lembut.


"Selesai!" Seru Lily sambil menampilkan senyum manisnya.


"Ck! Terdengar decakan di sampingnya.


Lily menoleh dan tersenyum kepada saudara kembarnya, Daisy.


"Kau terlalu baik hati, Lily," ketus Daisy.


Lily hanya tersenyum mendengar ucapan Daisy, dan ia melangkah untuk membagikannya.


"Kau mau kemana?" Tegur Daisy.


"Membagikannya!" Sahut Lily singkat.


"Kau tidak boleh keluar!" Larang Daisy.


"Aku hanya melihat, saja," ujar Lily.


"Lily!" Pekik Daisy saat Lily meninggalkannya dan ikut bersama para pelayan yang membawa kotak makanan.


~


Lily pun berdiri tidak jauh dari pagar besi tinggi menjulang di depannya.


Ia seakan-akan sedang mengawasi para pelayan Mansion nya yang kini sedang membagikan makanan.


Senyumannya pun tidak pernah hilang dari sudut mulutnya.


Ia ikut senang saat melihat wajah bahagia para pemburu berita itu tersenyum menerima makanan mewah dari keluarga Kato.


Seorang pria kini menyoroti Lily dengan intens.

__ADS_1


Ia bahkan merebut kamera rekannya dan mengambil foto Lily dari jauh yang nampak terlihat manis dengan tersenyum.


Tatapan mata mereka berserobok dan tiba-tiba jantung pria itu berdebar kencang, saat melihat Lily melemparkan senyum manis kepadanya.


"C β€” cantik!" Ucapnya terbata.


"Kau kenapa?" Tanya Jess, rekan Jacob.


"Terimakasih," bisik Jess.


"Untuk apa?" Tanya Jacob heran dengan alis terangkat sebelah.


"Kau menyebutku cantik," sahut Jess dengan malu-malu.


"Ck! Aneh," gumam Jacob dan menjauh dari Jess.


"Dasar pria dingin," dengus Jess.


~


"Apa kau yakin?" Ucap Kim.


"Hm!" Lily menggungkukan kepalanya.


"Kau yakin tidak melakukannya, sayang?" Kini Arthur bertanya hati-hati kepada sang putri.


"Aku tidak merasakan apapun, dad, mom," jawab Lily.


"Bagian intimu tidak sakit?" Bisik Kim.


"Kau yakin?"


"Hm! Aku merasa biasa saja," sahut Lily.


"Syukurlah!" Ucap Kim lega.


"Memangnya kenapa, mom?" Tanya lily penasaran.


"Tidak apa-apa, mom, hanya khawatir," jawab Kim lembut.


"Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri, mom," ujar Lily.


"Mommy, percaya, nak." Kim memeluk putrinya dengan sayang, Arthur pun mengusap punggung putrinya itu dan mengecup belakang kepala Lily.


Kim dan Arthur begitu bangga dengan anak-anaknya yang begitu mandiri.


Mereka masih bisa menempatkan diri mereka di segala keadaan.


Meskipun kelima anak-anaknya, disuguhkan dengan berbagai fasilitas dan juga materi.


Tapi kelima anak Kim dan Arthur masih hidup sederhana.

__ADS_1


Pernah waktu masa sekolah anak-anaknya tingkat pertama, mereka hanya menggunakan fasilitas umum di kota Paris.


Kelimanya juga menyembunyikan status mereka dari teman-temannya, hingga lulus dari sekolah akhir.


Mereka pun berpisah saat memasuki perguruan tinggi, mereka masing-masing, mengambil kejuruan berbeda-beda.


Rose, Lion dan Daisy yang melanjutkan kuliahnya di negara sang kakek di Italia,


Sedangkan Lily dan sakura melanjutkan pendidikannya tetap di Paris.




Rose kini sedang menatap nyalang kepada Jerry yang tertunduk lemas di dalam mobil.



Rose akan membawa, mantan kekasihnya ini keluar dari kota Paris.



Ia berencana membuang jauh para benalu sampah di depannya.



Rose juga menarik semua aset Jerry yang merupakan dari hasil mengemis kepadanya.



Rose menjual semua aset Jerry dan menyumbangkannya kepada yayasan sosial.



"Bawa mereka, tutup akses mereka untuk kembali ke kota ini," perintah Rose.



"Siap, nona muda," sahut anak buah Rose.



"Hm. Pergilah!" Usir Rose yang sudah muak melihat wajah Jerry.



"Lepaskan, kami, sialan!" Pekik Jerry.



"Kau akan dilepaskan, setelah sampai di tempat asal kalian," sinis Rose.

__ADS_1



"Kalian, akan kembali ke asal kalian, yaitu tempat kumuh,"


__ADS_2