
Seorang pria setengah abad dengan seragam berwarna hitam khas kepolisian los Angeles, yang terdapat tag name di atas saku baju kanannya, dan terdapat LAPD di atas saku sebelah kirinya.
Dengan wajah jengah ia menatap kedua tersangka di depannya, yang lagi-lagi membuat kekacauan di jalan raya los Angeles dengan kasus yang sama yaitu, mobil bergoyang yang parahnya di lakukan di tengah jalan raya ramai oleh pengendara umum lainnya.
Pria tersebut menarik nafas panjang dengan tatapan tertuju kepada tersangka di depannya.
Yang saling terdiam sambil memunggungi.
Penampilan keduanya pun sama saat mereka datang ke kantor polisi, dengan penampilan berantakan.
Namun kali ini terlihat lebih parah, apalagi Davin yang terdapat luka cakaran di wajahnya dan juga luka bekas gigitan di telinganya.
Jangan tanyakan rambutnya yang acak-acakan dengan baju kaos polos hitamnya yang terlihat robek di bagian lengan.
Sudut bibir yang terdapat bekas darah mengering, bibir bengkak dan hidung mancungnya yang merah.
Sedangkan Rose hanya bibirnya saja yang terlihat bengkak seperti tersengat tawon.
Terlihat di semakin seksi dan menggoda.
Davin tak hentinya melirik Rose yang masih memunggunginya, dengan raut wajah kesalnya.
Sedangkan sang polisi hanya bisa menghela nafas kasar melihat tingkah tersangka dalam kasus kekacauan mobil bergoyang yang sedang viral.
"Bisakah, anda menyelesaikan ini lebih cepat. karena saya, memiliki acara malam ini," pungkas Rose, menghilangkan kesunyian di ruangan pemeriksaan tersebut.
Sang polisi kini menatap Rose dengan jengah.
"Maaf, nona. kami harus menunggu konfirmasi dari pengacara anda dan juga kita harus menunggu pihak keluarga kalian berdua," imbuh sang polisi.
"Kenapa juga kalian harus melakukan gempa di tengah jalan, bukankah kalian memiliki harta untuk memesan hotel berbintang? Kenapa kalian harus melakukannya di mobil," cibir sang polisi dengan mulut yang terus bersungut-sungut.
"Kami, sedang melakukan eksperimen baru," timpal Davin dengan wajah cuek.
"Dengan bergoyang di mobil dan menggemparkan jalan raya Los Angeles?" Sinis sang polisi.
"Apa anda tahu? Kalau bergoyang di mobil itu sangat nikmat," bisik Davin dengan wajah usilnya.
"Apa anda juga tahu, kalau hukuman melakukan pelanggaran-pelanggaran di lalu lintas itu berat? anda bisa saja berubah menjadi Kakek," balas sang polisi dengan wajah mencibir.
Davin hanya bisa mendelik dan melirik Rose sekilas yang terlihat muak.
"Biar kan, aku pulang!" Pinta Rose jengah.
"Tidak bisa nona. Kami harus mengikuti aturan hukum lalu lintas," jawab sang polisi menolak.
"Ck! Menyebalkan. Ini semua karena ulahmu, setiap bertemu denganmu, aku pasti mendapatkan, sial," sungut Rose dengan melirik kesamping dengan tajam.
"Sial atau beruntung." Gumam Davin dengan senyum miring.
"Apa katamu manusia, berdaki," sentak Rose.
"Aku hanya mengatakan, bibirmu begitu, seksi!" Goda Davin.
"Aku memang ahli dalam sedot menyedot," ucap Davin bangga.
__ADS_1
"Kalian juga hebat dalam menggemparkan warga dengan mobil bergoyang," cibir polisi dengan mata muak.
"KAU!"
"Cup"
"Tambah terasa manis dan kenyal," seloroh Davin.
Saat Rose memalingkan wajahnya ke samping yang kebetulan wajahnya begitu dekat dengan wajah Rose.
"Akh! Pria sialan. Dasar manusia pulau berdaki!" Teriak Rose kesal, sembari menghujami Davin kembali dengan pukulan dan juga jambakan di rambut.
"Hm! Sungguh wanita yang kasar dan pria yang malang," gumam sang polisi dengan menarik nafas menyaksikan aksi Rose dan menatap sedih ke arah davin.
"Bisakah, kalian berhenti!" Seru polisi tersebut dengan wajah lelah.
"Apa kalian ingin merasakan, tidur di gubuk kantor polisi?"
"TIDAK!
Teriak Rose dan Davin bersamaan. Rose pun lantas kembali duduk di kursinya di susul oleh Davin yang mengusap wajahnya yang terkena tamparan dari telapak tangan Rose.
"Ini semua karenamu," ketus Rose dengan bibir mencibir.
"Semoga setelah ini aku tidak bertemu denganmu, lagi," lanjut Rose.
"Aku berdoa, setelah ini kita akan bertemu di catatan sipil," bisik Davin dengan senyum usilnya.
"Akh! Dasar pria berdaki, sialan!"
"Kurang ajar, dasar pria mesum, sialan,"
"Come on, baby," ejek Davin sambil tertawa.
"Aku, akan membunuhmu." Teriak Rose.
Sang polisi hanya bisa menghempaskan punggungnya di sandaran kursinya sambil menghela nafas panjang.
"Oh Tuhan, apa begini kelakuan, para orang kaya?"
"OH Tuhan, seharusnya di saat rambutku sudah memutih dan tubuh tua renta ini tetap di rumah, menimang cicit-cicit yang lucu. Bukan bolak balik ke kantor polisi, mengurus skandal mobil bergoyang." Granny mengeluarkan keluh kesahnya dengan penuh dramatis.
"Oh Tuhan, seharusnya aku menjadi pengiring pengantin cucuku, bukan menjadi saksi dalam kasus skandal gempa," sela nenek Margaretha.
"Oh pak polisi yang tampan, yang terlihat perkasa dan entah bagaimana rasanya bila dirasa," seloroh granny yang kini duduk di sofa sambil memijit pelipisnya.
__ADS_1
Rose dan Davin hanya memutar bola mata mereka, sedang nenek Margaretha mencibir.
Pak polisi hanya bisa terdiam dengan wajah merah.
Ternyata dia tidak menyangka, kalau nyonya besar dari keluarga Kato sangatlah blak-blakan.
"Dasar wanita, mesum," cibir nenek Margaretha jengah dengan tingkah sahabatnya.
"Granny. Cepatlah, aku lelah, sebentar lagi aku harus menghadiri acara pertunangan, seseorang!" Seru Rose.
Granny terlihat menatap sang cucu malas, ia pun lalu, menyentakkan tangannya kepada seorang pria setengah baya, yang merupakan pengacara keluarga Kato.
"Kau terus saja menghadiri pertunangan orang, terus kapan orang akan menghadiri pernikahanmu," sindir granny yang segera berdiri.
"Sama dengan, cucuku, yang sibuk memasak di acara pernikahan orang, lain," adu dan keluh, nenek Margaretha.
"Kenapa, tidak kalian nikahkan saja mereka, daripada, mereka terus menggemparkan jalanan kota Los Angeles," seloroh pak polisi.
"Entahlah, pak tampan, mungkin aku sudah menghilang dari sini baru mereka menikah," sahut granny sedih.
"Granny!" Sentak Rose dengan wajah garang.
"Sudahlah, kau hanya tahu menghardik, wanita tua renta ini," sendu granny.
"Gra, …." Rose tidak dapat melanjutkan perkataannya, karena granny sudah keluar dengan wajah kecewa.
Rose hanya bisa, menghela nafas dan menyusul langkah granny.
__ADS_1
Sedangkan nenek Margaretha, pun sama, meninggalkan sang cucu dengan wajah termenung.